Rabu, 22 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus (NIDDM)

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) NON INSULIN DEPENDENT DIABETES MILLITUS
( NIDDM )


PENGERTIAN
Suatu keadaan dimana terjadi defisiensi insulin dan atau resisten terhadap insulin (insulin resetent), sehingga mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak.

Makro-microangiopathi Diabetik
Merupakan komplikasi yang menahun yang mengenai vaskuler.
Macroangiopati : Arteri Coroner
Cerebral dan tungkai
Microangiopati : Mengenai pembuluh darah kecil dan atau kapiler (retinopati, nofropati, microangiopati pada otak, tungkai bawah, dan mikroangiopati vaso nerusom)

Gangren
Suatu keadaan dimana terjadinya invasi kuman saprofit pada jaringan nekrosis (nekrosis koagulasi ) akibat gangguan vaskularisasi sebagai komplikasi dari diabetes militus.

PENYEBAB NIDDM
Penyebab yang pasti belum diketahui, namun ada beberapa faktor predisposisi yang dapat menyokong terjadinya NIDDM, yaitu :
• Obesitas (kegemukan)
• Kurangnya latihan (exercise)
• Faktor diet
• Determinan genetik paling banyak/ kuat.
• Bahan kimia tertentu.
• Faktor lingkungan.
• Infeksi virus tertentu yang bisa menimbulkan respon imunologis yang ahirnya menimbulkan kerusakan sel beta pankreas
TANDA DAN GEJALA
Gejala yang sering muncul pada DM, yaitu :
• Poliuria (banyak dan sering kencing)
• Polipagia (banyak makan)
• Polidipsi (banyak minum)
kemudian diringi dengan keluhan-keluhan :
• Kelemahan tubuh, lesu, tidak bertenaga.
• Berat badan menurun
• Rasa kesemutan, karena iritasi (perangsangan) pada serabut-serabut saraf
• Kelainan kulit, gatal-gatal, bisul-bisul
• Infeksi saluran kencing
• Kelainan ginjal kalogi: keputihan
• Infeksi yang sukar sembuh
Pada pemeriksaan laboratorium:
• Kadar gula darah meningkat
• Peningkatan plasma proinsulin dan plasma C polipeptida
• Glukosuria

PATHOFISIOLOGI/PATHOGENESA
Pathfisiologi NIDDM
• NIDDM terjadi pada orang dewasa ( > 40 tahun ). Insiden 5 % oleh karena kegemukan dimana keadaan ini menyebabkan resisten/tahanan insulin, menurunkan sensitivitas insulin atau kedua-duanya.

• Penyebab yang pasti belum diketahui, namun keadaan tersebut di atas dapat terjadi pada setiap tahap dalam rangkaian kegiatan insulin yang berkaitan dengan reseptor intra seluler.
• Defisiensi insulin, berkurangnya sekresi insulin yang disebabkan oleh kerusakan pada reseptor glukosa dari sel beta (kegemukan)
• Resisten insulin suatu keadaan dimana tertahannya insulin di dalam tubuh sehingga terjadi hiperinsulinemia mengakibatkan gangguan respon jaringan tubuh terhadap insulin. Secara tidak langsung menurunkan jumlah reseptor insulin.
• Menurunnya regulasi reseptor dan respon terhadap hiperinsulinemia dapat identifikasikan, oleh karena itu insulin resisten pada tahap awal dianggap sebagai mekanisme adaptasi untuk melindungi tubuh dari keadaan hipoglikemia, yang kadang-kadang dapat terjadi pada hiperinsulinemia yang berat.
• Pada keadaan hiperglikemia aktivitas dari Polyol Pathway terjadi berlebihan dan Sorbitol berakumulasi di sel Schwan. Proses ini merusak pelindung myolin menyebabkan Neuropathy Diabatik.
• Pengikatan Glukosa dan protein (glukosylation) pada dasar membran kapiler mengakibatkan penebalan membran sehingga timbulnya “Diabatic Microangiopaty” dapat pula menjadi “Retinopaty” dan “Neuropaty”
• Gangguan vaskularisasi dapat terjadi iskemia dan nekrosis jaringan akhirnya gangren.

Pathofisiologi Gangren
• Pathogenesis dari jaringan diabatik disebabkan oleh kombinasi beberapa sebab yaitu kelainan vaskuler (macro-microangiopati/MM-MD) neopati dan infeksi.

Kelainan Vaskuler
• Kelainan vaskuler perifer yang berpengaruh / berperan terjadinya gangguan diabatik mengenai pembuluh darah besar (macro) dan pembuluh darah kecil (micro), biasanya pada tungkai bawah.
• Faktor yang berpengaruh terjadinya kelainan vaskuler antara antara lain: hiperglikemia, merokok, hipertensi.
• Kelainan vaskuler terjadi gangguan aliran darah yang dapat menyebabkan iskemia jaringan
• Gangguan dapat mengenai pembuluh darah besar, juga pembuluh darah kecil mengakibatkan atrofi kulit sehingga mudah terjadi ulsurasi , infeksi, dan nekrosis jaringan.

Neuropati
Beberapa faktor : Mikroangiopati dan faktor metabolisme berperan untuk terjadinya neuropati, dapat berupa gangguan motorik, sensorik, dan autonom.
1. Syaraf autonom
Gangguan pada pengeluaran keringat sehingga kaki kering dan cenderung untuk mendapatkan infeksi.
2. Syaraf Sensorik
Hilangnya rasa sakit. Adanya trauma yang melebihi ambang rasa sakit tidak menyebabkan adanya reaksi menghindar. Tekanan yang berlebihan terus-menerus akibat tidak adanya rasa sakit menyebabkan ulkus yang dapat meluas.
3. Syaraf Motorik
4. Menyebabkan kelumpuhan pada pembagian otot dan ketidak seimbangan kekuatan beberapa kumpulan otot. Apabila berlangsung lama mengakibatkan deformitas yang dapat menimbulkan tekanan berlebihan sehingga mudah ulserasi, infeksi dan terjadi gangren.

TEST DIAGNOSA
• Test Glukosa darah
• Gula dalam urine
• Glukosa toleran test
• Plasma proinsulin

PENGOBATAN
• Diit rendah kalori
• Exercise untuk meningkatkan jumlah dan fungsi reseptor site
• Insulin diberikan bila dengan oral tidak efektif
• Khusus untuk ganggren :
• Ringan atau lokasi bukan daerah ekstremitas dilakukan nekrotomi luas di OK
• Berat dan lokasinya pada ektremitas pertimbangan amputasi




Skema Etiopatogenesis Diabetes Militus

Faktor lingkungan



Faktor Genetik











Faktor Induksi


Overnutrition
Malnutrition
Obesitas
Strees unknow Zat kimia


Pankreas Langerhans




Hipoplasi Virus


Insulitis


Delayed
Hypersensitivity


Insulitis


Kerusakan
Buta sel





DIABET Lain-lain


Respon imunologik





Regenerasi






Functioning tumor
Skema Patogenesis Gangren Diabetik








Macroangiopati


Penyumbatan pada pembuluh darah besar




















Gangren hebat



Angiopati


Mikroangiopati


Bercak gangren kecil


Perubahan atrofi kulit




Ulserasi




Infeksi DIABETES MILITUS

?


Autonom


Keringat berkurang


Kulit kering merusak timbul fisura














Infeksi



Neuropati


Sensorik


Hip dan anastesi


Trauma yang tak terasa












Ulserasi


Infeksi


Gangren/
Ulserasi Moderat











Perubahan tulang




Deformitas tulang








Motorik




Atrofi otot











Perubahan sikap tubuh



Daerah penekanan baru



DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL:
1. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan gula darah yang tinggi
2. Kurangnya volume cairan dalam tubuh sehubungan dengan out put urin yang meningkat (osmotik deurisis)
3. Gangguan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan hipermetabolisme : proses infeksi
4. Resiko tinggi terjadinya gangguan persepsi sehubungan dengan perubahan faktor kimia darah dalam tubuh : ketidak seimbangan glukosa (insulin)
5. Kelelahan sangat (fatique) sehubungan dengan peningkatan energi : Hipermetabolisme, proses infeksi
6. Kurangnya pengetahuan (faktor pencetus, prognosa dan pengobatan penyakit) sehubungan dengan kurangnya informasi
7. Potensial terjadinya integritas kulit sehubungan vaskularisasi jaringan yang tidak adekuat
8. Koping individu yang tidak efektif sehubungan dengan lamanya lamanya perawatan di Rumah Sakit
9. Potensial terjadinya hipoglikemia sehubungan dengan efek oral hipoglikemik atau insulin terapi

INTERVENSI
Secara umum intervensi diberikan untuk mengatasi atau mengurangi masalah keperawatan klien:
• Tingkatkan pengetahuan klien mengenai :
• Kualitas/kuantitas diit diabet
• Monitoring terhadap diabet
• Tingkatkan perfusi jaringan
• Kurangi berat badan mencapai normal
• Cegah / tindakan perawatan luka ganggren
• Bantu klien / keluarga untuk menggunakan koping yang efektif
• Pertahankan volume cairan seimbang
• Cegah resiko hipoglikemia
• Khusus untuk ganggren:
• Pengobatan secara konservatif:
• Istirahat di tempat tidur
• Pengobatan sistemik
• Pengobatan lokal:
• Debridemant
• Drainage
• Pemberian antibiotik lokal
• Pengobatan secara pembedahan:
• Amputasi kecil
• Amputasi besar

PENDIDIKAN KESEHATAN
1. Ajarkan pentingnya dan bagian cara menggunakan oral hipoglikemia atau insulin injeksi
2. Ajarkan cara-cara monitoring gula darah dan urine
3. Ajarkan dan jelaskan tentang diit dan latihan
4. Ajarkan tentang personal hygiene:
• Kebersihan mulut dan gigi
• Kebersihan kulit
• Kebersihan rambut dan kuku
5. Jelaskan tentang pentingnya kontrol teratur ke dokter/RS/Puskesmas
6. Ajarkan cara mengatasi strees untuk mencegah komplikasi
7. Berikan informasi yang adekuat mengenai asuhan dan tindakan yang akan dilaksanakan

DAFTAR PUSTAKA :
Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987.
Donna D, Marilyn. V, Medical Sugical Nursing, WB Sounders, Philadelpia 1991.
Doenges E Marilynn, F.A Davis Company Philadelphia Edition 3 , 1989

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL
• Potensial terjadinya gangguan volume cairan: kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan diurisis yang sering.
• Gangguan perfusi jaringan perifer sehubungan dengan vaskularisasi yang tidak adekuat
• Gangguan nutrisi: Lebih dari kebutuhan tubuh sehubugan dengan pemasukan nutrisi yang berlebihan .
• Potensial terjadinya integritas kulit sehubungan dengan vaskularisasi yang tidak adekuat.
• Koping individu yang tidak efektif sehubungan dengan perawatan yang lama di rumah sakit.
• Kurang pengetahuan sehubungan dengan kuantitas dan kualitas diit diabetus.
• Kurang pengetahuan sehubungan dengan monitoring diabet.
• Potensial terjadinya hipoglikemia sehubungan dengan efek oral hipoglikemik atau insulin terapi

KETOASIDOSIS DIABETIK

PENDAHULUAN
Ketoasidosis merupakan keadaan kegawatan medis yang disebabkan karena meningkatnya keasaman tubuh oleh bahan-bahan keton akibat defisiensi insulin, dan memerlukan perawatan di rumah sakit.

PATOFISIOLOGIS
Gejala dan tanda-tanda yang tampak pada ketoasidosis dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu akibat hiperglikemia dan akibat ketogenesis.
Hiperglikemia menimbulkan diurisis osmotik dengan hipovolemik, renjatan (syok) dan dehidrasi.
Defisiensi insulin merupakan penyebab utama glukoneogenesis, yang kemudian menambah hiperglikemia. Defisiensi insulin yang menyebabkan lipolisis, yang pada mulanya tidak banyak berpengarus. Bersama-sama dengan peningkatan kadar glukosa, kekurangan insulin ini menimbulkan ketogenesis dengan akibat asidosis metabolik. Glukagon, somatotropin, katekolamin, dan kortisol adalah hormon stress yang meningkatkan kadarnya pada keadaan gawat seperti ini.
Data-data baru membuktikan pentingnya peran glukagon dalam produksi benda keton (Mc. Garry, 1976). Defisiensi insulin menyebabkan lipolisis yang selanjutnya akan meningkatkan pengangkutan kadar asam lemak bebas ke hati. Sedangkan peningkatan glukagon akan merangsang karnitin di hati, dan perangsangan ini dapat menyebabkan karnitil asiltransfase bertambah. Enzim ini berperan mengolah asam lemak bebas menjadi benda keton. Perbandingan ratio tertentu kadar insulin : glukagon diperlukan untuk peningkatan ketogenesis ini.

GEJALA KLINIS
Penderita berada dalam kesadaran yang menurun, pernapasan kussmaul (asidosis), renjatan (syok), dan dehidrasi.


Skema patofisiologi ketoasidosis diabetik

Glukagon meningkat
Insulin menurun




Ketoasidosis



Asidosis metabolik Glukoneogenesis

Hiperglikemia

Diuresis osmotik

Hipovolemik

Dehidrasi





PEMERIKSAAN
Keadaan elektrolit pada ketoasidosis

Intra sel Ekstra sel Defisit per kg BB.
air air 100 ml
Na. + Na + 7 mEq
K + K + 5
PO4 - PO4 - 1
Cl- Cl- 5
Mg ++ Mg ++ 0,5



Analisa gas darah dan pH.
Bila fasilitas penetapan kadar gas dan pH darah lengkap (alat astrop).
PENGOBATAN
1. Rehidrasi cepat.
Faktor ini perlu ditangani sejak awal dan dari segi praktis pemberian NaCl 0,9 % memenuhi kebutuhan mengatasi defisit air dan Na+. Keberhasilan tindakan rehidrasi tampak dari tekanan darah dan diurisis menjadi normal. Dehidrasi juga mengurangi osmolaritas darah dan kadar hormon stres, sehingga kadar glukosa darah tampak berkurang pada jam-jam pertama.

2. Insulin (Intravena, perinfus).
Sesudah pemberian bolus insulin intravena yang diberikan, maka insulin intravena selanjutnya diberikan dalam larutan NaCl 0,9 % dalam botol terpisah dengan cairan infus agar kecepatan tetesannya dapat diatur terpisah dengan laju tetesan infus untuk rehidrasi. Jumlah satuan insulin perjam bergantung pada kadar glukosa darah yang diperiksa setiap 1 - 2 jam.

3. Pengendalian faktor pencetus.
• Faktor pencetus yang terpenting alah infeksi (78 % dari kelompok 28 pasien), sehingga pemberian antibiotik spektrum luas segera dilakukan sambil menunggu hasil biakan kuman.

PENATALAKSANAAN
Diagnosis:
• Pemeriksaan gula darah, elektrolit, ureum, kreatinin, astrup, aseton darah.
• Pemeriksaan darah rutin dan urin.
• Cari faktor pencetus, infeksi (biakan darah, urin), infark (EKG)

Prosedur:
• Pasang infus dengan sambungan berbentuk T hingga dapat menampung 2 botol infus sekaligus.
• Central Venous Pressure, kateter urin, sonde lambung.

Pemantauan:
• Gula darah tiap jam (Reflomat), K + dan Na + tiap jam selama 2 jam, selanjutnya tergantung keadaan.
• Astrup: bila pH < ph =" 7,1,"> 28 x permenit
• Elektrolit abnormal
• Keringat banyak
• Urine banyak

Asuhan Keperawatan Pasien Endokarditis

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN ENDOKARDITIS


Pengertian
Radang pada lapisan jantung yang paling dalam yang terdiri dari lapisan selaput lendir.
1. Endokarditis Infektif
2. Endokarditis Non Infektif
Ad. 1. Endokarditis Infektif
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada endokardium atau pembuluh darah besar.
Endokarditis Infektif dibedakan berdasarkan gambaran klinisnya :
• Endokarditis bakteial subakut
• Timbul dalam beberapa minggu atau bulan
• Disebabkan oleh bakteri yang lebih ganas seperti Sterptococus viridans
• Endokarditis Bakterial akut
• Timbul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu
• Dengan tanda – tanda klinik yang lebih berat
• Disebabkan oleh bakteri yang ganas seperti Stafilokokus aureus
Ad. Endokarditis Non Infektif
Disebabkan oleh faktor Trombosis yang disertai dengan vegetasi.
Didapatkan pada penderita stadium akhir dari proses keganasan.
Endokarditis berdasarkan jenis katub jantung yang terkena infeksi dibedakan menjadi 2 :
 Native valve endokarditis yaitu infeksi pada katub jantung alami.
 Prognetic valve endokartis yaitu infeksi pada katub jantung buatan.
 Epidemiologi
Epidemiologi sering terdapat pada penderita dengan kelainan jantung maupun kelainan katub akibat reuma, kelainan bawaan atau prolaps katub mitral, katub jantung bawaan.
Tanpa kelainan jantung sebelumnya maupun penderita dengan ketergantungan obat atau anak dibawah 2 tahun dengan infeksi yang berat.
 Faktor Predisposisi
Kelainan – kelainan yang dapat menjadi predisposisi :
o Kelainan katub jantung, terutama penyakit jantung rematik.
o Katub buatan.
o Katub yang floppy pada sindrom marfan.
o Tindakan bedah gigi atau orotaring yang baru.
o Tindakan pembedahan pada saluran urogenital atau saluran pernafasan.
o Pecandu narkotika.
o Kelainan jantung bawaan PDA, VDS.
o Luka bakar.
o Hemodialisis.
o Penggunaan kateter vena sentral dan pemberian nutrisi parenteral yang lama.
Endokarditis infektif juga terjadi tanpa adanya kelainan katub atau faktor predisposisi terutama pada lansia.
 Gejala Klinis
Gejala timbul kurang lebih 2 minggu setelah masa inkubasi dengan kelainan seperti kelenjar infeksi yang umum antara lain : panas yang tidak terlalu tinggi, sakit kepala, nafsu makan kurang, lemas, berat badan turun.
Timbulnya gejala karena komplikasi seperti gagal jantung, gejala emboli pada organ tubuh yang terkena maupun gejala neurologis.
Sakit dada, sakit perut kiri atas, hematuria, tanda ischemia di ekstremitas.
Endokarditas Infektif Akut :
Tanda – tanda infeksi (panas tinggi menggigil).
Petechiae.
Splinter hemorrhage.
Osler`s nodes.
Emboli  Infark.
 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium  Darah.
 Lekositosis tinggi.
 Anemia normrkromnormositer.
 LED tinggi.
 Ig serum tinggi.
 Uji fraksi gamaglobulin bertambah.
 Total hemolitik komplemen & komplemen C³ dalam serum menurun.
 Kadar bilirubin darah tinggi.
Urine
 Proteinuria .
 Hematuria secara mokroskapis.
2. EKG
Menunjukkan perluasan infeksi ke otot jantung.
3. Ekokardiografiuntuk :
Melihat vegetasi pada kutub aorta.
Melihat dilatasi atau hipertrofi atrium.
Mencari penyakit yang menjadi faktor predisposisi endokarditis.
Penutupan katub mitral.
4. Pemeriksaan rontgen.
Untuk melihat adanya klasifikasi pada katub.
 Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria sbb :
1. Septikemia.
2. Kelainan Jantung bawaan.
3. Demam yang lama.
 Komplikasi
1. Gagal jantung.
2. Emboli.
3. Aneurisma nekrotik.
4. Gangguan neurologi.
 Th / : 1. Tirah baring
2. Farma kotepi : Penicillin G.
Penicillin V .
Streptomicin, gentamicin.
3. Pengob suportif.
4. Pembedahan.
5. Diet.
 Pragnosis
Pragnosis jelek bila ditemukan :
1. Payah jantung.
2. Mikrooranisme yang resisten terhadap antio.
3. Pengobatan yang terlambat.
4. Bakterimia.
5. Infeksi yang terjadi sesudah pemasangan katub prostetik.
6. Orang tua tanpa panas dan keadaan umum yang buruk.
 Pengkajian data dasar
Riwayat atau adanya faktor – faktor resiko.
Px fisik berdasarkan pengkajian status kardiovaskuler .
Px diagnostik .
Kaji perasaan ps dan masalah – masalah tentang kondisi distress.
 Dx Keperawatan
Intoleran aktivitas b/d penurunan curah jantung akibat infeksi endokarditis.
Ansietas b/d ancaman terhadap kematian mendadak, kurang pengetahuan tentang kondisinya.
Gangguan pola tidur b/d menggigil (demem), berkeringat sebagai akibat dari infeksi.
Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan dirumah b/d koping yang tidak efektif dalam mengatasi perubahan – perubahan gaya hidup.
 Int ervensi
Dx 1
Rencana tujuan : pasien mampu mendemonstrasikan daya tahan terhadap aktivitas
Rencana tindakan :
Pantau toleransi terhadap aktivitas.
Periksa denyut nadi sebelum dan sesudah aktivitas.
Rencaakan aktivitas yang memungkinkan untuk periode istirahat.
Kurangi aktivitas pasien.
Bantu aktivitas sehari – hari sesuai keperluan .
Anjurkan pasien untuk tirah baring.
Rasionalisasi :
Ketahanan fisik dapat ditingkatkan ketika aktivitas yg dilakukan bertambah.
Intervensi ini sebagai indikasi bahwa pasien mempunyai batas aktivitas max.
Tirah baring mengurangi beban kerja jantung dengan mengurangi energi .yang dibutuhkan tubuh.
Dx 2
Rencana tujuan : Rasa cemas pasien berkurang dengan kriteria ekspresi wajah rileks, ps mengerti tentang kondisinya.
Rencana tindakan :
Jelaskan kepada pasien tentang keadaanya.
Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
Alihkan perhatian pasien.
Libatkan keluarga dalam keperawatan.
Ciptakan lingkungan yang tenang.
Konsulkan pada dokter jika pasien tetap cemas.
Rasionalisasi :
Kecemasan menimbulkan suatu stres tambahan terhadap keadaan jantung.
Keluarga adalah orang terdekat dari pasien yang mengerti benar tentang keadaan pasien sehingga keluarga mampu memberi dukungan mental kepada pasien.
Dx 3
Rencana Tujuan : Kebutuhan istirahat tidur pasien terpenuhi dengan kriteria pasien tidak menggigil dan keringat berkurang, suhu 36 - 37º C.
Rencana Tindakan :
Observasi suhu tubuh.
Ciptakan lingkungan yang nyaman (tempat tidur, pakaian).
Anjurkan pasien untuk menggunakan selimut tipis.
Lakanakan terapi dari dokter.
Dx 4
Rencana tujuan : Pasien mau melaksanakan perawatannya dirumah dengan kriteria pasien dapat menerima tanggung jawab untuk melakukan perawatan diri sendiri, pasien mau shering dengan petugas kesehatan, tentang perasaan dan masalah-masalah perubahan gaya hidupnya.
Rencana tindakan :
Yakinkan pada pasien untuk segera menghubungi dokter jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Jelaskan pada pasien bahwa perawatan sangat diperlukan .
Anjurkan pasien untuk check up.
Rasionalisasi :
Kesanggupan melakukan pengobatan bertambah setelah pasien memahami keterkaitan antara kondisi kesehatan dan penanganannya.
Dengan check up untuk menghindari kemungkinan terinfeksi kembali.
 Implementasi
Dx 1
Memantau toleransi terhadap aktivitas.
Memeriksa denyut nadi sebelum dan sesudah aktivitas.
Merencanakan aktivitas yang memungkinkan untuk periode istirahat.
Mengurangi aktivitas pasien.
Membantu aktivitas sehari – hari sesuai keperluan.
Menganjurkan pasien untuk tirah baring
Dx 2
Menjelaskan pasien tentang keadaannya.
Membantu kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
Mengalihkan perhatian pasien.
Melibatkan keluarga dalam perawatan.
Menciptakan lingkungan yang tenang .
Mengonsulkan kepada dokter jika pasien tetap cemas.
Dx 3
Mengobservasi suhu tubuh setiap 4 jam.
Menciptakan lingkungan yang nyaman.
Menganjurkan pasien untuk menggunakan selimut tipis.
Melaksanakan terapi dokter.
Dx 4
Meyakinkan pasien untuk segera menghubungi dokter jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Menjelaskan kepada pasien bahwa perawatan sangat diperlukan .
Menganjurkan pasien untuk check up setiap 2 bulan setelah pengobatan.

Selasa, 21 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Ringan

ASUHAN KEPERAWATAN CIDERA KEPALA RINGAN


A. LATAR BELAKANG
Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok umur produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya ( Mansjoer, 2000 ). Salah satu tindakan pemeriksaan yang penting adalah melalui pemeriksaan tingkat kesadaran dengan skala koma glasgow ( Glasgow Coma Scale ).
Pemeriksaan tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale ( GCS ) merupakan cara praktis untuk dokter dan perawat, karena memiliki kriteria / patokan yang lebih jelas dan sistematis dibanding dengan sistem lama. GCS disamping untuk menetukan tingkat kesadaran, juga berguna untuk menentukan tingkat prognosis suatu penyakit ( Juwono, l996) dan memonitor terjadinya disfungsi neorologis ( Godner, 1995 ). Bahkan Priharjo ( 1996 ) mengatakan bahwa GCS dapat digunakan untuk menilai atau menguji kewaspadaan pasien khususnya pasien yang mengalami cedera berat atau pasien yang mengalami kemunduran kesadaran dengan cepat.
Selama ini staf / pelaksana keperawatan masih dilupakan dalam penilaian / pemeriksaan GCS, padahal kenyataannya tenaga dokter terbatas dan perawat lebih banyak berhubungan dengan pasien, juga perawat masih belum terbiasa melakukan pemeriksaan GCS padahal antara perawat dan dokter perspektifnya berbeda ( Haryono, 1997 ).
Dari hasil studi dokumentasi yang peneliti dapatkan dari bagian rekam medik BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan pasien yang rawat inap selama tahun 2004 sebanyak 10.689 orang, 641 atau 5,99 % masuk dengan gangguan penurunan kesadaran yang disebabkan oleh cidera kepala ringan sampai berat, juga disebabkan oleh cedera vaskuler otak, 30 % nya adalah pasien cidera kepala berat yang hampir 80 % meninggal dunia. Dari pasien yang meninggal catatan keperawatan / dokumentasi keperawatan tidak ada dokumentasi perkembangan tingkat kesadaran dengan menggunakan GCS ( Rina, komunikasi personal, 15 Oktober 2005 ).
Peneliti juga melakukan studi pendahuluan pengetahuan dan sikap perawat terhadap cara pemeriksaan Glasgow Coma Scale yang bekerja di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan di ruang IGD, ruang ICU dan ruang rawat inap medikel bedah dari hasil wawancara dan studi dokumentasi keperawatan antara lain perawat IGD dalam pengakjian pasien yang masuk oleh karena cidera kepala belum dilakukan pemeriksaan GCS, hal ini dilihat dari status pasien yang masuk dari IGD ke ruang ICU pada bulan Mei 2005 dari 2 pasen tidak ada catan pemeriksaan GCS , padahal 90 % lebih pendidikannya adalah D III keperawatan ( Subagio, komunikasi percsonal, 20 Oktober 2005 ).
Di ruang ICU juaga tidak semua perawat melakukan pemantauan tingkat kesadaran pasen dengan menggunakan GCS, padahal dalam blangko monitoring sudah termasuk GCS yang harus di monitor secara berkala.Di ruang rawat medikel bedah pun hampir 100 % perawat dalam pemantauan tikat kesadaran tidak menggunakan GCS ( Zurohrinizak, komunikasi personal, 21 Oktober 2005 ).
Dari hasil wawancara terhadap perawat diantara alasan mengapa tidak melakukan pemeriksaan GCS pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran adalah; tidak tahu cara pemeriksaan GCS, tidak terbiasa melakukan pemeriksaan GCS, menganggap pemeriksaan GCS adalah pekerjaan dokter, melakukan pemeriksaan GCS bila ada perintah dari dokter, pemeriksan GCS sulit, pemeriksaan GCS memerlukan waktu lama, yang intinya perawat belum terbiasa mengngunakan GCS sebagai alat pemeriksaan pasien dengan penurunan kesadaran khususnya dengan cedera kepala ( Titi, komunikasi personal, 20 Oktober 2005 ).
Penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap prilaku yang diimplementasikan dalam praktek keperawatan sangat penting sebagai perwujudan kompetensi perawat sebagai perawat profesional ( PPNI , 1999; 2004 ). Hal ini sebagai perwujudan bahwa perawat menjalankan praktek mandiri dan profesional.
Kenyataan di lapangan dari sumber daya keperawatan yang ada sebetulnya 95 % adalah perawat dengan pendidikan D III keperawatan yang secara teori sudah mendapat konsep / pengetahuan tentang cara pemeriksaan GCS, akan tetapi pengetahuan yang diperoleh belum tercermin dalam sikap dan praktek nyata sebagai perawat yang mandiri dan profesional.
Keadaan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya belum pernah diadakan pelatihan bagi perawat tentang cara pemeriksaan GCS, fasilitas, beban kerja, dan sikap individu perawat dalam praktek pemeriksaan GCS.
Dampak negatif dari pengetahuan, sikap dan praktek yang buruk / jelek akan merugikan image perawat dari masyarakat yang selama ini masih belum baik dan dapat mengurangi kepercayaan pasien terhadap perawat di instansi bekerja. Akan tetapi bila perawat mempunyai pengetahuan, sikap, dan praktek yang baik, profesionalisme dan tidak semata-mata hanya kebiasaan, maka kepercayaan pasien terhadap perawat khususnya dan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap instansi di mana perawat bekerja pada umumnya. Hal ini yang menjadikan peneliti melakukan penelitian sehubungan fenomena di atas.
Selama ini di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan belum pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan sikap perawat cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala. Oleh karena itu peneliti ingin mengidentifikasi bagaimana tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.

B. PERTANYAAN PENELITIAN
“ Adakah hugungan antara tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan ? “
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan perawat mengenai cara
pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
b. Mengidentifikasi sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
c. Mengidentifikasi praktek perawat tentang pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala di BP RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.
d. Menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten pekalongan.
e. Menganalisa hubungan antara sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.

D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1 Bagi Perawat
Memberikan masukan bagi para perawat agar dapat meningkatkan pengetahuan, sikap perawat yang baik cara pemeriksaan GCS dan praktek emeriksaan GCS pada pasien dengan cidera kepala pada khususnya dan dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan pada mumnya.
2. Bagi institusi
Menurunkan angka kematian pasien dengan cidera kepala atau kegagalan perawatan yang disebabkan oleh tidak termonitornya tingkat kesadaran pasien dengan cedera kepala.
3. Bagi peneliti
Menjadi dasar pengetahuan yang nantinya dapat diterapkan dalam praktek klinik serta menjalankan tugas dirumah sakit tempat peneliti bekerja.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Cedera Kepala
1. Pengertian
Cedera kepala adalah trauma yang mengenai kulit kepala, tengkorak, dan otak yang disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tembus ( Mansjoer, 2000; Brunner & Soddarth, 2002 )
Price ( l995 ) Cedera kepala adaalah trauma yang dapat mengakibatkan trauma langsung dan trauma tidak langsung pada otak.
Cedera kepala adalah komplikasi segera setelah trauma biomekanik pada otak, lapisan yang menutupinya atau organ-organ ekstra kranial penopang otak ( Sunaryo, 9189 ).
Cedera kepala paling sering dan penyakit neurologik yang serius di antara penyakit neurologik, dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil dari kecelakaan jalan raya ( Brunner & Suddarth, 2002 ).
Komplikasi paling penting pada cedera kepala adalah proses yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang lebih lanjut, dan ini merupakan proses dinamik. Agar proses dinamik ini tidak berjalanlebih lanjut di mana akan menyebabkan kerusakan neural lebih banyak maka perlu dilakukan pemantauan ketat pada pasien yang mengalami cedera kepala.
Sunaryo ( l989 ) menjelaskan yang perlu diperhatikan dalam pemantauan klinis pasien cedera kepala adalah GCS ( Glasgow Coma Scale ). Pemantauan GCS secara teratur, sangat penting karena bila pada follow-up terjadi penurunan GCS, diduga terjadi proses kerusakan lebih lanjut di dalam otak, dan ini harus dicegah sedini mungkin. Juga GCS dapat digunakan sebagai alat untum menentukan derajat keparahan cedera kepala secara dini ( Mansjoer, 2000 ).

2. Macam-macam / jenis Cedera Kepala
Macam-macam/jenis cedera kepala berdasarkan tingkat keparahannya adalah:
a. Cedera Kepala Ringan ( CKR)
Cedera kepala ringan (CKR) merupakan kelompok risiko rendah, yaitu ditandai dengan : skor GCS antara 13 sampai 15, ( atentif, sadar penuh, dan orientatif), tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi), tidak ada tanda intoksikasi alkohol atau obat terlarang, pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing, pasien dapat menderita : abrasi, laserasi, atau hematoma kulit kepala, tidak ada kriteria cedera kepala sedang-berat.
b. Cedera Kepala Sedang ( CKS )
Cedera Kepala sedang ( CKS ) Merupakan risiko sedang , yang ditandai dengan: skor GCS antara 9 sampai 12 (konfusi, letargi, atau stupor), konkusi, amnesia paska trauma, muntah, tanda kemungkinan fraktur kranium ( tanda Battle, mata rabun ,hemotimpanum, otorea, atau rinorea cairan serebrospinal ), kejang.
c. Cedera Kepala Berat ( CKB )
Cedera kepala berat ( CKB ) merupakan risiko berat, ditandai dengan: skor GCS antara 3 sampai 8 ( koma ), penurunan derajat kesadaran secara progresif, tanda neurologis fokal, cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium.

3. Penanganan Cedera kepala
Pedoman penanganan, resusitasi dan penilaian awal pada pasien cedera kepala adalah:
a. Menialai jalan napas ( Air Way Control ) dengan membersihkan jalan napas dari debris dan muntahan, lepaskan gigi palsu,pemasangan kolar sevikal, pasang oropangeal atau nasoparengeal, dan bila perlu lakukan intubasi.
b. Menilai pernapasan ( Breathing Support ) dengan cara menentukan pakah pasien napas denga spontan atau tidak, jika tidak lakukan oksigenasi. Jika napas spontan nilai dan atasi adanya cedera thorak berat seperti; pneumothorsks, pneumothorak tensif, dan hemopneumotoraks.
c. Menilai sirkulasi ( Circulation Support ) , otak yang rusak tidak mentoliler hopotensi , dengan cara hentikan perdarahan , perhatikan secara khusus adanya perdarahn dada atau abdomen , pasang jalur intravena untuk pemberian cairan pada vena besar, pantau tanda-tanda syok.
Sedangkan penanganan cedera kepala sesua derajat keparahan pasien cedera kepala adalah:
a. Cedera Kepala ringan.
Pasien dengan cedera kepala sedang pada umumnya dapat dipulangkan kerumah tanpa perlu pemeriksaan CT-Scan bila memenuhi kriteria sebagai berikut: hasil pemeriksaan neurologis (terutamastatus mini mental dan gaya berjalan ) dalam batas normal, foto sevikal tidak ada tanda patah tulang, ada orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasie selam 24 jam pertama, dengan intruksi segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala perburukan.

b. Cedera kepala sedang.
Pasien yang mengalami konkusi otak ( komosio otak), dengan GCS 15 dan hasil CT-Scan normal, tidak perlu dirawat. Pasien dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat keluhan nyeri kepala, mual, muntah, pusing, atau amnesia.

c. Cedera kepala berat.
Pasien denga cedera kepala berat, setelah penilaian awal dan stabilisasi tanda vital, keputusan segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah saraf ( hematoma intrakranial besar ).Jika ada indikasi segera laporkan atau konsultasikan ke bedah saraf untuk tindakan operasi..
B. Glasgow Coma Scale ( GCS )
1. Pengertian
Brunner & Suddarth ( 2002 ) CGS adalah skala untuk mengkaji tingkat kesadaran berdasarkan tiga kriteria; membuka mata, respon verbal, dan respons motorik terhadap perintah verbal atau stimulus nyeri.
GCS adalah skala untuk mengetahui perkembangan tingkat kesadaran dengan menilai respons dengan stimulus verbal dan nyeri pada membukan mata, respons verbal, dan respon motorik ( Lumbantobing, 2000 ).
Price ( l995 ), GCS adalah skala yang lebih paling luas dipakai dalam penilaia kesadaran penderita dan reaksinya terhadap rangsang.
GCS adalah pengkajian yang sangat bernilai untuk memonitor disfungsi neurologi yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran dan kewaspadaan pasien,khususnya pada pasien yang mengalami cidera berat atau pasien yang diperkirakan akan mengalami kemunduran kesadaran dengan cepat ( Priharjo,1996 ; Goddner,l995 ).
2. Cara Pemeriksaan GCS
Teasdale dan Jennet , (1974) , pertama kali memperkenalkan cara pemeriksaan tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma Scale ( GCS ) pada pasien trauma kepala atau penderita penunan kesadaran yang disesbabkan oleh nontraumatik ( Bates ,1977 ).
GCS memberikan tiga bidang fungsi neurologik,memberikan gambaran tingkat responsif pasien dan dapat digunakan dalam pencarian yang luas pada saat mengevaluasi status neurologik pada pasien yang mengalami cidera kepala, yaitu dengan mengevaluasi tiga elemen ; respon membuka mata,espon verbal dan respon motorik.( Brunner dan Suddarth, 2002 )
Parameter/indikasi yang dinilai pada pemeriksaan Glasgow Coma Scale dari respon membuka mata, respon verbal dan respon motorik dibagi menjadi tingkat/nilai yang berbeda dan respon yang baik yang ditunjukkan pasien terhadap stimulis/rangsangan yang ditentukan sebelumnya. Masing-masing respon diberikan angka/nilai ( Goodner, 1995;Priharjo, 1996; Brunner dan Suddarth, 2002).
Sedangkan cara memeriksa dan menghitang GCS adalag sebaga berikut:
a. Membeka Mata ( E )
- Seseorang dengan trauma kepala dapat membuka mata spontan diberi nilai 4;
- penderiata menutup mata tetapi dapat diperintah secara verbal untuk membuka matanya diberi nilai 3;
- Penderita secara verbal disuruh membuka mata tidak bisa, tetapi dengan rangsang nyeri/sakit yyaitu menekan nervus supra optikus dan ujung kuku jari tangan , penderita masih bisa membuka mata diberi nilai 2;
- Bila dengan rangsang nyeri/sakit penderita tidak bisa membuka matang diberi nilai 1.
b. Respons Verbal ( V ).
- Bila penderita titanya sesuatu mengenai waktu dan tempat dapat memberikan jawaban benar, nilainya 5;
- Penderita ditanya tentang tempat tetapi tidak bisa menjawab dengan benar, misalnya di mana dia berada, atau ditanya waktu tidak menjawab sebenarnya, misalnya ditanta saat ini siang atau malam, ia menjawab siang padah malam atau sebaliknya ( disorintasi waktu dan tempay, nilainya 4;
- Penderita ditanya sesuatu, misalnya ditanya dimana dia berada, ia menjawab akan makan atau mengomel ( inapropriate answer ), nilainya 3;
- Penderita ditanya secara vebal tidak memberikan jawaban dan diberi kan rangsangan nyeri/sakit ia hanya mengerang, nilainya 2;
- Bila dengan rangsang nyeri/sakitpun tidak memberikan jawaban, nilainya l.
c. Respon Motorik ( M ).
- Bila penderita mengikuti perintah secara verbal sesuai yang diperintahkan oleh pemeriksa, misalnya penderita disuruh mengangkat tangan kanannya, menggerakkan jari telunjuk kirinya, dapat menjalankan perintah secara benar, nilainya 6;
- Dengan perintah secara oral penerita tidak dapat melaksanakannya, dengan rangsang sakit pada supra orbita paenderita berusaha menghindari penyebab sakit/nyeri dengan mengangkat tangannya melebihi bahu kearah rangsang nyeri, nilainya 5
- Dengan rangsang nyeri, misalnya dengan menekan pangkal kuku, penderita hanya menarik tangan tetapi tidak berusaha menghindar penyebab sakit dengan tangannya yang lain, nilainya 4;
- Dengan rangsang nyeri timbul gejala dekortikasi, nilainya 3;
- Dengan rangsang nyeri timbul gejala deserebrasi, nilainya 2;
- Dengan rangsang nyeri tidak timbul reaksi apapun, nilainya 1.
Penilaian atau interpretasi pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala adalah: nilai GCS 13 sampai 15, dikatakan cedera kepala ringan ( Minor Head Injury ); nilaiGCS antara 9 sampai 12 dikatakan cedera kepala sedang ( Moderat Head Injury ), dan nilai GCS antara 3 sampai 8 dikatakan cedera kepala berat ( Severe Head Injury) atau koma. Untuk memudahkan secara singkat dapat dilihat pada tabel.











Tabel 1 . Glasgow Coma Scale ( GCS )

Parameter
Respons
Nilai
ResponMembuka Mata ( E ) Spontan
Terhadap suara/bicara
Terhadap nyeri
Tidak berespons 4
3
2
1
Respon verbal ( V ) Orientasi baik dan sesuai
Disorientasi waktu dan tempat
Bicara kacau
mengerang
Tidak ada suara 5
4
3
2
1
Respon Motorik ( M ) Mengikuti perintah
Melokalisir nyeri
Menghindar nyeri
Fleksi abnormal( dekortikasi )
Ekstensi abnormal ( deserebri )
Tidak ada gerakan 6
5
4
3
2
1


C. Pengetahuan, Sikap dan Praktek
1. Pengetahuan.
a. Pengertian Pengetahuan.
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari ” tahu “ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera pengihatan, pendengaran,penciuman, rasa dan raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan ataukognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( overt behavior ) ( Notoadmojdo, 2003 ).
Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia ,pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkaitan denganproses pembelajaran. Proses belajar ini dipengaruhi berbagai faktor dari dalam seperti motivasi dan faktor dari luar berupa sarana informasi yang tersedia serta keadaan sosial budaya.
b. Macam-macam/jenis pengetahuan
Pengetahuan yang mencakup domin kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a. Tahu ( know )

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini mengingat kembali ( recall ) terhadap suatu yangspesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu “ tahu “ merupakan peringkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami ( Komprehension )
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang telah diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi ( Application )
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi atau kondisi riil ( sebenarnya ). Aplikasi dapatdiartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam kontek atau situsasi yang lain.Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitisn,dapat menggunakan menggunakan prinsip siklus pemecahan masalah ( Problem Solving Cycle ).
d. Analisis ( Analysis )
Analalisi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan ( membuat bangun ), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis ( Synthesis )
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusu, merncanakan, meringkaskan menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumus-rumus yang telah ada.
f. Evaluasi ( Evaluation )
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atauk objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.Misalnyadapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kurang gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikit KB, dan sebagainya.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan degan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuanyang ingin diketahui atau diukur kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas.

2. Sikap
a. Pebgertian Sikap
Sikap ( attitude ) merupan respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsrikan terlebih dahulu dari sikap yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.
Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakn ksiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek atau lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
b. Tingkatan Sikap
Dalam bagian lain Allport ( 1954 ) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 ( tiga ) komponen pokok, yaitu:
- Kepercayaan ( keyakinan ), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
- Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek.
- Kecenderungan untuk bertindak ( trend to behave )
Ketiga komponen itu secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh ( total attitude ). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan,yaitu:
- Menerima ( receiving )
Menerima diartikan bahwa subjek ( orang ) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan ( objek ).
- Merespon ( responding )
Memberikan jawaban apabila ditanya, menjelaskan dan menyelesaikan tugas yang deberikan adalah suatu indikasi dari sikap.Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan,lepas dari pekerjaan benar atau salah, adalah bahwa orang menerima ide tersebaut.
- Menghargai ( valuing )
Mengajak orang lain atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap ketiga.
- Bertanggung jawab ( responsible )
Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan, bagaimana pendapat atau pertanyaan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan ipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.( Notoadmodjo, 2003,at.all ).

3. Praktek atau tindakan practice
a. Pengertian praktek.
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan ( overt behavior ). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkainkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping fasilitas juga diperlukan faktor pendukung ( support ) dari pihak lain ( Notoatmodjo, 2003 ).
b. Tingkatan Praktek
Sedangkan tingkat-tingkat praktek adalah:
- Persepsi ( Perception )
mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat perama . Misalnya seorang ibu dapat memilih makanan yang bergizi tinggi bagi anak balitanya.
- Respon Terpimpin ( Guided Respons ).
Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. Misalnya seorang ibu dapat memesak sayuran dengan benar mulai dari cara mencuci dan memotong-motongnya, lama memasak, menutup pancinya dan sebagainya.
- Mekanisme ( Mecanism ).
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. Misalnya seorang ibu yang sudah biasa mengimunisasikan bayi pada umu-umur tertentu, tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain.
- Adaptasi ( Adaptation ).
Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Misalnya, seorang ibu dapatmemilih dan memasak makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan-bahan yang murah dan sederhana.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu ( recall ). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.


















D. Kerangka Teori

























E. KERANGKA KONSEP









Keterangan:
Variabel Perancu tidak diteliti.

D. HIPOTESIS
1. Ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS.
2. Ada hubungan antara sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS.

F. VARIABEL PENELITIAN
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas ( independen dan variabel terikat ( dependen ) .
1. Variabel bebas ( independen )
Variabel bebas adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain ( Danim, 2003 ). Sedangkan variabel bebas dalampenelitian ini adalah pengetahuan dan sikap perawat tentang cara pemeriksaan Glasgow Coma Scale ( GCS ).
2. Variabel terikat ( dependen ).
Variabel terikat adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain ( Danim, 2003 ). Adapun variabel terikat adalah pengetahuan dan sikap perawat dalam praktek pemeriksaan Glasgow Coma Scale.

G. DEFINISI OPERASIONAL
1. Tingkat pengetahuan didefinisikan sebaga tingkat pemahaman perawat/respondenmengenai cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala. Tingkat pengetahuan diukur dari nilai yang diperoleh responden dalam menjawab sejumlah pertanyaan tertutup MCQ ) mengenai cara pemeriksaan dan kedan pasien cedera kepala yang diukur dengan kuesioner. Hasil pengukuran data besskala ordinal, yaitu:
a. Skor 0 – 6 tingkat pengetahuan rendah.
b. Skor 7 – 13 tingkat pengetahuan cukup.
c. Skor 14 – 20 tingkat pengetahuan tinggi.
Cara pengukuran skor untuk mengetakui tingkat pengetahuan dilakukan dengan melihat jumlah bitir pertanyaan. Pertanyaan pengetahuan terdiri dari 20 butir pertanyaan tertutup. Nilai 1 untuk jawaban benar, dan nilai 0 untuk jawaban salah. Interval skor diambil dari selisih nilai tertinggi ( 20 ) dikurangi nilai terendah ( 0 ), dibagi 3 katagori ( tinggi, cukup, rendah. Sehingga perolehan interval 6 atau 7 untuk setiap interval.

2. Sikap didefinisikan sebagai suatu reaksi atau respon dan perawat terhadap pertanyaan –pertanyaan yang berkaitan dengan cara pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala baik yang bersifat positif ( favoutable ), maupun yang bersifat negatif ( unfavoureble ), dinyatakan dalam skala Likert. Hasil pengukuran data skala nominal, yaitu:
a. Skor 45 – 75 tingkat sikap positif.
b. Skor 15 – 44 tingkat sukap negatif.
Cara pengukuran skor untuk sikap dilakukan dengan melihat jumlah butir pertanyaan. Sedangkan jumlah pertanyaan untuk sikap adalah 15 butir. Dengan pembagian nilai:
a. Untuk pertanyaan yang mengungkapkan sikap positif:
1). Sangat Setuju ( ST ) : skornya 5
2). Setuju ( S ) : skornya 4
3). Ragu- Ragu ( RR ) : skornya 3
4). Tidak Setuju ( TS ) : skornya 2
5). Sangat Tidak Setuju ( STS ) : skornya 1
b. Untuk pertanyaan yang mengungkapkan sikap negatif:
1). Sangat Setuju ( ST ) : skornya 1
2). Setuju ( S ) : skornya 2
3). Ragu – Ragu ( RR ) : skornya 3
4). Tidak Setuju ( TS ) : skornya 4
5). Sangat Tidak Setuju ( STS ) : skornya 5
Interval nilai sikap diperoleh dari selisih skor tertinggi ( 75 ) dengan nilai terendah ( 15 ) dibagi menjadi 2 kategori sikap ( sikap positif dan sikap negatif ). Jadi diperoleh interval untuk masing-masing katagori adalah 30.
3. Praktek pemeriksaan GCS adalah tindakan nyata / aktif perawat / responden dalam praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala, diukur dengan kuesioner . Hasil pengukuran data berskala nominal, yaitu:
a. Praktek positif, jika skornya 15 – 30
b. Praktek negatif, jika skornya 0 – 14
Cara pengukuran skor untuk praktek dilakukan dengan melihat jumlah butir pertanyaan. Sedangkan pertanyaan untuk praktek adalah 15 butir.
Untuk pertanyaan yang mengungkapkan praktek:
1). Selalu : nilai skornya 2
2). Kadang – Kadang : nilai skornya 1
3). Tidak Pernah : nilai skornya 0
Interval nilai praktek diperoleh dari selisih skor tertingg ( 30 ) dan skor terendah ( 0 ) dibagi menjadi 2 katagori ( praktek positif dan praktek negatif ). Sehingga diperoleh interval masing-masing katagori adalah 15.

Asuhan Keperawatan Nyeri Dada

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA KLIEN DENGAN
NYERI DADA


A. PENGERTIAN
• Nyeri dada adalah perasaan nyeri / tidak enak yang mengganggu daerah dada dan seringkali merupakan rasa nyeri yang diproyeksikan pada dinding dada (referred pain)
• Nyeri Coroner adalah rasa sakit akibat terjadinya iskemik miokard karena suplai aliran darah koroner yang pada suatu saat tidak mencukupi untuk kebutuhan metabolisme miokard.
• Nyeri dada akibat penyakit paru misalnya radang pleura (pleuritis) karena lapisan paru saja yang bisa merupakan sumber rasa sakit, sedang pleura viseralis dan parenkim paru tidak menimbulkan rasa sakit (Himawan, 1996)

B. ETIOLOGI
Nyeri Dada:
a. Cardial
- Koroner
- Non Koroner
b. Non Cardial
- Pleural
- Gastrointestinal
- Neural
- Psikogenik (Abdurrahman N, 1999)


C. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala yang biasa menyertai nyeri dada adalah :
- Nyeri ulu hati
- Sakit kepala
- Nyeri yang diproyeksikan ke lengan, leher, punggung
- Diaforesis / keringat dingin
- Sesak nafas
- Takikardi
- Kulit pucat
- Sulit tidur (insomnia)
- Mual, Muntah, Anoreksia
- Cemas, gelisah, fokus pada diri sendiri
- Kelemahan
- Wajah tegang, m erintih, menangis
- Perubahan kesadaran

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. EKG 12 lead selama episode nyeri
- Takhikardi / disritmia
- Rekam EKG lengkap : T inverted, ST elevasi / depresi, Q Patologis
b. Laboratorium
- Kadar enzim jantung : CK, CKMB, LDH
- Fungsi hati : SGOT, SGPT
- Fungsi Ginjal : Ureum, Creatinin
- Profil Lipid : LDL, HDL
c. Foto Thorax
d. Echocardiografi
e. Kateterisasi jantung


E. PATHWAYS












F. PENGKAJIAN
1. Pengkajian Primer
a. Airway
- Bagaimana kepatenan jalan nafas
- Apakah ada sumbatan / penumpukan sekret di jalan nafas?
- Bagaimana bunyi nafasnya, apakah ada bunyi nafas tambahan?

b. Breathing
- Bagaimana pola nafasnya ? Frekuensinya? Kedalaman dan iramanya?
- Aapakah menggunakan otot bantu pernafasan?
- Apakah ada bunyi nafas tambahan?
c. Circulation
- Bagaimana dengan nadi perifer dan nadi karotis? Kualitas (isi dan tegangan)
- Bagaimana Capillary refillnya, apakah ada akral dingin, sianosis atau oliguri?
- Apakah ada penurunan kesadaran?
- Bagaimana tanda-tanda vitalnya ? T, S, N, RR, HR?

2. Pengkajian Sekunder
Hal-hal penting yang perlu dikaji lebih jauh pada nyeri dada (koroner) :
a. Lokasi nyeri
Dimana tempat mulainya, penjalarannya (nyeri dada koroner : mulai dari sternal menjalar ke leher, dagu atau bahu sampai lengan kiri bagian ulna)
b. Sifat nyeri
Perasaan penuh, rasa berat seperti kejang, meremas, menusuk, mencekik/rasa terbakar, dll.
c. Ciri rasa nyeri
Derajat nyeri, lamanya, berapa kali timbul dalam jangka waktu tertentu.
d. Kronologis nyeri
Awal timbul nyeri serta perkembangannya secara berurutan
e. Keadaan pada waktu serangan
Apakah timbul pada saat-saat / kondisi tertentu
f. Faktor yang memperkuat / meringankan rasa nyeri misalnya sikap/posisi tubuh, pergerakan, tekanan, dll.
g. Gejala lain yang mungkin ada atau tidaknya hubungan dengan nyeri dada.

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan kenyamanan nyeri (nyeri akut) b.d iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri, inflamasi jaringan
2. Perubahan perfusi jaringan (otot jantung) b.d penurunan aliran darah
3. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan metabolisme jaringan

H. INTERVENSI KEPERAWATAN
Prinsip-prinsip Tindakan :
1. Tirah baring (bedrest) dengan posisi fowler / semi fowler
2. Melakukan EKG 12 lead kalau perlu 24 lead
3. Mengobservasi tanda-tanda vital
4. Kolaborasi pemberian O2 dan pemberian obat-obat analgesik, penenang, nitrogliserin, Calcium antagonis dan observasi efek samping obat.
5. Memasang infus dan memberi ketenangan pada klien
6. Mengambil sampel darah
7. Mengurangi rangsang lingkungan
8. Bersikap tenang dalam bekerja
9. Mengobservasi tanda-tanda komplikasi


DAFTAR PUSTAKA

1. Abdurrahman, N, Anamnesa dan pemeriksaan Jasmani Sistem Kardiovaskuler dalam IPD Jilid I, Jakarta: FKUI, 1999.
2. Doenges, Marilynn E,Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC, 2000.
3. Himawan, Buku Kuliah Gangguan Sistem Kardiovaskuler,1994.
4. Hudak&Gallo, Keperawatan Kritis cetakan I, Jakarta : EGC, 1995

Photobucket