Minggu, 16 Januari 2011

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

KUMPULAN 705 ASUHAN KEPERAWATAN DAN
BONUS 303 MATERI, 78 LEAFLET + 100 EBOOK KEPERAWATAN
( JUMLAH SEMUANYA ADA 1186 FILE )
Hanya dengan Rp. 55.000,-
Anda akan mendapatkan 705 Asuhan Keperawatan dan Bonus 303 Materi Keperawatan dll,
dan semuanya sudah dalam bentuk Microsoft Word Dokumen.
Untuk download ribuan file keperawatan, silahkan klik link download dibawah ini:




DAFTAR ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
( 82 File Dokumen Microsoft Word )

1.Asuhan Keperawatan Anak Akut Respiratori Distress Sindrom (ARDS)
2.Asuhan Keperawatan Anak Alergi
3.Asuhan Keperawatan Anak Apendiksitis
4.Asuhan Keperawatan Anak ARDS
5.Asuhan Keperawatan Anak Askariasis (Cacing)
6.Asuhan Keperawatan Anak Asma Bronkial
7.Asuhan Keperawatan Anak Asma Bronkial2
8.Asuhan Keperawatan Anak Atresia Esophagus
9.Asuhan Keperawatan Anak Balita Ikterus
10.Asuhan Keperawatan Anak Bronkhitis
11.Asuhan Keperawatan Anak Bronkhitis Alergika
12.Asuhan Keperawatan Anak Bronkopneumonia
13.Asuhan Keperawatan Anak Cardiovaskuler Tetralogi Fallot
14.Asuhan Keperawatan Anak Chemotherapy (Kemoterapi)
15.Asuhan Keperawatan Anak Demam Berdarah (DHF)
16.Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF 6-12 Th)
17.Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF Pra Sekolah)
18.Asuhan Keperawatan Anak Dengue Haemoraghic Fever (DHF)
19.Asuhan Keperawatan Anak Dermatitis
20.Asuhan Keperawatan Anak Diabetes Mellitus
21.Asuhan Keperawatan Anak Diabetes Mellitus2
22.Asuhan Keperawatan Anak Diare
23.Asuhan Keperawatan Anak Diare2
24.Asuhan Keperawatan Anak Diare 1-3 tahun
25.Asuhan Keperawatan Anak Diare Akut Dehidrasi Sedang
26.Asuhan Keperawatan Anak Diare Akut Dehidrasi Sedang2
27.Asuhan Keperawatan Anak Diphteri (Difteri)
28.Asuhan Keperawatan Anak Down Syndrome
29.Asuhan Keperawatan Anak Ensefalitis
30.Asuhan Keperawatan Anak Epilepsi
31.Asuhan Keperawatan Anak Fraktur
32.Asuhan Keperawatan Anak Fraktur2
33.Asuhan Keperawatan Anak Gagal Ginjal Kronik
34.Asuhan Keperawatan Anak Gangguan Bicara
35.Asuhan Keperawatan Anak Gastritis dan Thypoid
36.Asuhan Keperawatan Anak Hemostasis
37.Asuhan Keperawatan Anak Hernia Inguinalis
38.Asuhan Keperawatan Anak Hiperaktif (Syndroma Hiperaktifitas)
39.Asuhan Keperawatan Anak Hiperbilirubinemia (Ikterus)
40.Asuhan Keperawatan Anak Hipoglikemi Simptomatis
41.Asuhan Keperawatan Anak Hirschprung
42.Asuhan Keperawatan Anak Hospitalisasi Anak
43.Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus
44.Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus3 (ppt file)
45.Asuhan Keperawatan Anak Hydrocephalus
46.Asuhan Keperawatan Anak Ikterus Obstruksi
47.Asuhan Keperawatan Anak Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA)
48.Asuhan Keperawatan Anak Intusepsi
49.Asuhan Keperawatan Anak Kejang Demam
50.Asuhan Keperawatan Anak Kejang Demam2
51.Asuhan Keperawatan Anak Kurang Energi Protein (KEP)
52.Asuhan Keperawatan Anak Kwashiorkor
53.Asuhan Keperawatan Anak Leukimia
54.Asuhan Keperawatan Anak Leukimia2
55.Asuhan Keperawatan Anak Leukimia Akut
56.Asuhan Keperawatan Anak Limfadenitis TB
57.Asuhan Keperawatan Anak Marasmus Kwasiorkor
58.Asuhan Keperawatan Anak Marasmus Kwasiorkor2
59.Asuhan Keperawatan Anak Meconium Aspiration Syndrome Imanuddin
60.Asuhan Keperawatan Anak Meningitis
61.Asuhan Keperawatan Anak Meningoencephalitis TBC
62.Asuhan Keperawatan Anak Model Konseptual Keperawatan Anak
63.Asuhan Keperawatan Anak Morbili
64.Asuhan Keperawatan Anak Morbili2
65.Asuhan Keperawatan Anak Nefrotik Syndrome2
66.Asuhan Keperawatan Anak Nefrotik Syndrome (NS)
67.Asuhan Keperawatan Anak Pneumonia
68.Asuhan Keperawatan Anak Pneumonia2
69.Asuhan Keperawatan Anak Pola Asuh Keluarga Anak Autisme
70.Asuhan Keperawatan Anak Sianosis
71.Asuhan Keperawatan Anak Sianosis, Gagal Nafas
72.Asuhan Keperawatan Anak Spinabifida
73.Asuhan Keperawatan Anak Tetanus
74.Asuhan Keperawatan Anak Tetanus2
75.Asuhan Keperawatan Anak Thalasemia
76.Asuhan Keperawatan Anak Thalasemia Serena
77.Asuhan Keperawatan Anak Thypoid (Thypus)
78.Asuhan Keperawatan Anak Thypus Abdominalis
79.Asuhan Keperawatan Anak Tonsilofaringitis Akut
80.Asuhan Keperawatan Anak Tonsilofaringitis Akut2
81.Asuhan Keperawatan Anak Tuberculosis (TB Paru)
82.Asuhan Keperawatan Anak Tuberculosis Paru

ASUHAN KEPERAWATAN DAN MATERI JIWA

KUMPULAN 705 ASUHAN KEPERAWATAN DAN
BONUS 303 MATERI, 78 LEAFLET + 100 EBOOK KEPERAWATAN
( JUMLAH SEMUANYA ADA 1186 FILE )
Hanya dengan Rp. 55.000,-
Anda akan mendapatkan 705 Asuhan Keperawatan dan Bonus 303 Materi Keperawatan dll,
dan semuanya sudah dalam bentuk Microsoft Word Dokumen.
Untuk download ribuan file keperawatan, silahkan klik link download dibawah ini:



DAFTAR ASUHAN KEPERAWATAN DAN MATERI JIWA
( 60 File Dokumen Microsoft Word )

1.Asuhan Keperawatan Ansietas
2.Asuhan Keperawatan Curiga
3.Asuhan Keperawatan Delireum
4.Asuhan Keperawatan Halusinasi ( Menarik Diri )
5.Asuhan Keperawatan Kelompok Khusus Remaja
6.Asuhan Keperawatan Menarik Diri
7.Asuhan Keperawatan Perilaku Kekerasan (PK)
8.Asuhan Keperawatan Schizofrenia Simpleks
9.Asuhan Keperawatan Schizofrenia Katatonik
10.Bunuh Diri dan Depresi
11.Defisit Perawatan Diri (Higiene)
12.Delireum
13.Gangguan Alam Perasaan (Depresi)
14.Gangguan Alam Perasaan (Mania)
15.Gangguan Hubungan Sosial
16.Gangguan Hubungan Sosial2
17.Gangguan Hubungan Sosial Menarik Diri
18.Gangguan Penggunaan Napza
19.Halusinasi (ppt file)
20.Halusinasi
21.Halusinasi2
22.Halusinasi3
23.Harga Diri Rendah
24.Hubungan Terapeutik Pasien-Perawat
25.Interaksi Sosial
26.Kegawatdaruratan Psikiatri
27.Ketidakmampuan Toileting
28.Konsep Dasar Perilaku Kekerasan
29.Manajemen Jiwa
30.Mekanisme Koping Individu
31.Menarik Diri (ppt file)
32.Menarik Diri
33.Menarik Diri2
34.Mengapa Remaja Bunuh Diri
35.Obat Anti Depresi
36.Penanggulangan Halusinasi Di Rumah
37.Perilaku Bunuh Diri
38.Perilaku Curiga
39.Perilaku Kekerasan
40.Perilaku Kekerasan2
41.Perubahan Proses Pikir (Waham)
42.Pre Planning Terapi Aktifitas Kelompok (TAK)
43.Psikoneuroimunologi
44.Schizofrenia Simpleks
45.Sindroma Otak Organik Karena Epilepsi
46.Skizofrenia Katatonik
47.Strategi Pelaksanaan Bunuh Diri
48.Strategi Pelaksanaan Halusinasi
49.Strategi Pelaksanaan Halusinasi2
50.Strategi Pelaksanaan Halusinasi Dengar
51.Strategi Pelaksanaan Halusinasi Penglihatan
52.Strategi Pelaksanaan Menarik Diri
53.Strategi Pelaksanaan Menarik Diri2
54.Strategi Pelaksanaan Perilaku Kekerasan
55.Strategi Pelaksanaan Perilaku Kekerasan2
56.Strategi Pelaksanaan Waham Kebesaran
57.Strategi Pelaksanaan Harga Diri Rendah
58.Terapi Keluarga Jiwa
59.Tinjauan Teori Retardasi Mental
60.Waham

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS

KUMPULAN 705 ASUHAN KEPERAWATAN DAN
BONUS 303 MATERI, 78 LEAFLET + 100 EBOOK KEPERAWATAN
( JUMLAH SEMUANYA ADA 1186 FILE )
Hanya dengan Rp. 55.000,-
Anda akan mendapatkan 705 Asuhan Keperawatan dan Bonus 303 Materi Keperawatan dll,
dan semuanya sudah dalam bentuk Microsoft Word Dokumen.
Untuk download ribuan file keperawatan, silahkan klik link download dibawah ini:




DAFTAR ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS
( 52 File Dokumen Microsoft Word )

1.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Abortus Imminens
2.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Abortus
3.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ante Natal
4.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Bayi Baru Lahir SC
5.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Bayi baru Lahir SC2
6.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Bayi Neuroma Pada Fronto Orbita Sinistra
7.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Bayi Premature Dg Persalinan Preterm DG Riwayat Persalinan Prolonge Labor
8.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ca Mamae Stadium 3
9.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ca Mamae
10.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ca Ovari
11.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ca Servik
12.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ca Servik2
13.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Vulva dan Ca Servik
14.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fibroadenoma (FAM)
15.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hiperbilirubinemia
16.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hiperemesis Gravidarum
17.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipertensi Gravida
18.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kanker Ovarium
19.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kehamilan Ganda (Gemeli) Persalinan Normal
20.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kehamilan Letak Lintang dan Sectio Caesaria
21.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kehamilan Trimester 2
22.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kehamilan Trimester 3
23.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ketuban Pecah Dini (KPD)
24.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Ketuban Pecah Dini2 (KPD)
25.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kistoma Ovarii
26.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kistoma ovarii2
27.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Lekore Kandidiasis
28.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Mioma Uteri
29.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Mual Muntah (Hiperemesis Gravidarum)
30.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Multi gravida dan Hipertensi
31.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Neonatus Hipoglikemi Simptomatis
32.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Nifas (Puerperium)
33.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Nifas dan Sectio Caesaria (SC)
34.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Pada Kelahiran Dengan Vacum
35.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Persalinan Normal
36.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Persalinan Spontan (Episiotomi)
37.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Placenta Previa
38.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Operasi SC Indikasi Kistoma Ovarii
39.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Partum (Nifas)
40.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Partum Dg Riwayat Haemoraghi Post Partum (Perdarahan)
41.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Partum Fisiologi
42.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Partum Spontan
43.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Partum
44.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post SC Letak Sungsang
45.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Seksio Caesaria Dg Eklampsi
46.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Pre dan Post Seksio Caesaria (SC)
47.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Pre Eklamsia
48.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Pre Eklamsia2
49.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Primigravida Kehamilan Fisiologis
50.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Renpra Trimester 3
51.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Seksio Caesaria (SC)
52.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Serotinus (Kehamilan Postmatur dan KPD)

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

KUMPULAN 705 ASUHAN KEPERAWATAN DAN
BONUS 303 MATERI, 78 LEAFLET + 100 EBOOK KEPERAWATAN
( JUMLAH SEMUANYA ADA 1186 FILE )
Hanya dengan Rp. 55.000,-
Anda akan mendapatkan 705 Asuhan Keperawatan dan Bonus 303 Materi Keperawatan dll,
dan semuanya sudah dalam bentuk Microsoft Word Dokumen.
Untuk download ribuan file keperawatan, silahkan klik link download dibawah ini:



DAFTAR ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH ( KMB )
( 136 File Dokumen Microsoft Word )

1.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Abses
2.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Amputasi
3.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Anemia
4.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Angina Pektoris
5.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Aritmia Jantung
6.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Askariasis (Cacing)
7.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Asma
8.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Asma2
9.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Asma Bronchiale
10.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Atresia Ani
11.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Basalioma Nasolabial Sinistra
12.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Batu Saluran Kemih (Kalkuli)
13.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Bedah Space Occupying Lesson (Tumor Otak)
14.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH)
15.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Benigna Prostat Hipertropi2 (BPH)
16.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Bladder Neoplasma
17.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan CA Buli-buli
18.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan CA Laring
19.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan CA Mamae (Kanker Payudara)
20.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan CA Rectum (Kanker Rektum)
21.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan CAD Post Operasi CABG
22.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cholilithiasis (Batu Empedu)
23.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cidera Kepala Berat dan Subarachnoid
24.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cidera Kepala Berat dan Sub Dural Hematoma
25.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cidera Kepala Ringan
26.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cidera Kepala Sedang
27.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cidera Kepala
28.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cidera Otak Berat
29.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cirosis Hepatis
30.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Combustio (Luka Bakar)
31.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Comotio Cerebri (Gegar Otak)
32.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Congestive Heart Disease
33.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Decompensasi Cordis
34.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Dengue Haemoraghic Fever (DHF)
35.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Diabetes Mellitus
36.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Diabetes Mellitus2
37.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Diabetes Mellitus (DM)
38.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Diabetes Mellitus (NIDDM)
39.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Eksotropia
40.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Elektrikardiografi (EKG)
41.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Endokarditis
42.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Erythema Multiformis
43.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Febris Thypoid
44.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fibroadenoma Mamae (Tumor Jinak)
45.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fistel Umbilikalis
46.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fraktur Cervikalis (Cidera Tulang Belakang)
47.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fraktur Cruris
48.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fraktur Femur
49.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fraktur Humerus
50.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fraktur Os. Alviolaris Maxilla Sinistra
51.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fraktur Os. Mandibularis
52.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fraktur
53.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Muskuluskeletal
54.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Endokrin (Morbus Basedow)
55.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gasrtoenteritis (GE)
56.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gigantisme (Tumbuh Raksasa)
57.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Glomerulonefritis Akut
58.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hemangioma
59.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hemofilia
60.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hemoroid
61.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hepatitis
62.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hepatoma
63.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hernia
64.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hernia2
65.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hernia Nukleus Pulposus
66.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
67.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hernia Nukleus Pulposus2 (HNP)
68.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hernia Scrotalis
69.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Herpes
70.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipersensitifitas (Alergi)
71.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipertensi
72.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan HIV-AIDS
73.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Illeostomi
74.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Infark Miokard Akut (AMI)
75.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Infeksi Pada Mata
76.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Jantung Rematik
77.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Jantung Rematik2
78.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kandidiasis
79.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kanker Tyroid (CA Tyroid)
80.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Katarak
81.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kolostomi (Colostomy)
82.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kusta
83.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Laparatomi
84.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Leptospirosis
85.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Low Back Pain (Nyeri Punggung Bawah)
86.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Luka Bakar (Combustio GR II 45%)
87.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Luka Bakar
88.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Multipel Fraktur
89.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Nefrotik Syndrom (NS) dan Satpel
90.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Nyeri Dada (Chest Pain)
91.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Osteomielitis
92.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Osteoporosis
93.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Otitis Media Akut dan Kronik
94.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
95.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Parkinson
96.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Peningkatan Tekanan Inra Kranial (TIK)
97.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Perdarahan Saluran Cerna
98.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Phemfigus (Kulit)
99.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Phemfigus Vulgaris (Kulit)
100.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post ORIF Femur dan Tibia
101.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post ORIF
102.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Paratyroidektomi (Hipoparatyroidisme)
103.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Presbiakusis
104.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Psoriasis (Kulit)
105.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Serebrovaskuler
106.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Sindrom Cushing (Cushing Syndrome)
107.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Sindrom Steven - Johnson (Steven-Johnson Syndrome)
108.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Sinusitis Maksilaris
109.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Sistemic Lupus Erythematosus (SLE)
110.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Skin Graft (Cangkok Kulit)
111.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Spondilitis Tuberculosa
112.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Stroke Non Haemoraghic
113.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tetanus
114.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Thypus Abdominalis
115.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tonsilektomi
116.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tonsilitis Akut (Tonsilektomi)
117.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tonsilitis kronik
118.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Trauma Abdomen
119.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Trauma Bladder
120.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Trauma Dada
121.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Trauma Kornea (Ulkus Kornea)
122.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Trauma Mata
123.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Trauma Mekanik Mata
124.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Trauma Tembus Pada Mata
125.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Trauma Thorax
126.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tuberculosis
127.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tuberculosis2
128.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tumor (Neoplasma)
129.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tumor Medula Spinalis
130.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tumor Otak (Tumor Intrakranial)
131.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Tumor Paru (Karsinoma Bronkogenik)
132.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Urolithiasis
133.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Varicela
134.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Varicela2
135.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Varises Truncal dan Retikularis (Vena Varikosa)
136.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan VEntrikel Septum Defek (Jantung)

Rabu, 22 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Pasien Sirosis Hepatis

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN SIROSIS HEPATIS


A. Pengertian
Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi, dan, regenerasi sel-sel hati, sehjngga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati (Mansjoer, dkk, 1999: 5O8).Sedangkan menurut Price, dkk (1995: 448) mendefinisikan Sirosis hepatis adalah penyakit hati kronik yang dicirikan oleh distorsi arsiktektur hati yang normal oleh lembar- lembar jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal. Pendapat senada dikemukakan oleh Noer, dkk (1996: 271) bahwa Sirosis hati adalah penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukkan jaringan ikat disertai nodul. Pembentukkan jaringan ikat saja seperti pada payah jantung, obstruksi saluran empedu, juga pembentukkan nodul saja seperti pada sindroma felty dan transformasi nodular parsial bukanlah suatu Sirosis hati.
B. Penyebab / Faktor Predisposisi
Banyak faktor yang menyebabkan Sirosis hepatis, menurut Lewis, dkk (2000: 1203) dalam bukunya yang berjudul medical surgical nursing dan Price, dkk (1995: 446) dalam buku patofisiologi mengemukakan beberapa faktor pendukung terjadinya penyakit ini, diantaranya:
1. Alkohol/ Sirosis leannec.
Alkohol merupakan 50 % penyebab dari Sirosis hati. Perubahan pertama pada hati yang ditimbulkan alkohol adalah akumulasi lemak secara gradual didalam sel-sel hati. Akumulasi lemak mencerminkan adanya gangguan metabolik termasuk pembentukkan trigliserida secara berlebihan, pemakaiannya berkurang dalam pembentukkan lipoprotein, dan penurunan oksidasi asam lemak. Individu yang mengkonsumsi alkohol secara berlebihan tidak makan secara layak dan gagal mengkonsumsi protein dalam jumlah cukup untuk menghasilkan faktor-faktor lipoprotein yang digunakan untuk transport lemak dan menekan aktivitas dari dehidrogenase alkohol yaitu enzim utama dalam metabolisme alkohol, sedangkan alkohol sendiri dapat menimbulkan efek toksik langsung terhadap hati.
2. Sirosis postnekrotik
Merupakan akibat akhir dari penyakit hepatitis virus B dan C yang kronis (25 %). Presentase kecil kasus dikarenakan oleh bahan kimia industri, racun, obat-obatan seperti fosfat, kloroform, dan karbon tetraklorida atau jamur beracun.
3. Sirosis biliaris
Kerusakan sel hati yang dimulai dari sekitar duktus biliaris akan menimbulkan pola Sirosis biliaris. Penyebab Sirosis biliaris yang paling umum adalah obstruksi biliaris posthepatik. Statis empedu menyebabkan penumpukkan empedu didalam massa hati dengan kerusakan sel-sel hati, terbentuk lembar-lembar fibrosa ditepi lobulus, hati membesar, keras, bergranula halus dan berwarna kehijauan. Ikterus selalu menjadi bagian awal dan primer, timbul pruritus, malabsorbsi dan steatorrea.
4. Cardsiac cirrhsosis
Gagal jantung kanan yang berat, cor pulmonale, perikarditis konstriktif dan insufissiensi trikuspidalis dapat menyebabkan Sirosis hepatik dalam jangka waktu yang panjang. Akhirnya terjadi Sirosis hati.
Penyebab Sirosis hati lain yang dikemukakan oleh Hadi, S (1995: 612) dalam buku gastroenterologi adalah:
1. Malnutrisi
Kekurangan nutrisi terutama protein hewani dapat menyebabkan Sirosis hepatis. Protein hewani yang memegang peranan penting ialah kholin dan methionin, demikian pula kekurangan vitamin B komplek, tocoferol, cystine dan alfa 1-antitripsin dapat terjadi Sirosis hati.
2. Penyakit metabolik
Termasuk didalamnya yaitu penyakit wilson dan hemokromatosis. Penyakit wilson ditandai dengan degenerasi basal ganglia otak, dan terdapatnya cincin pada kornea yang berwarna coklat kehijauan (kayser fleisher ring). Penyakit ini diduga disebabkan defisiensi bawaan dari seruloplasmin. Hemokromatosis merupakan kelainan peningkatan absorbsi dari Fe, yang dapat menimbulkan Sirosis hati.
3. Penyebab yang tidak diketahui. Sirosis kriptogenik
Penderita ini sebelumnya tidak menunjukkan tanda-tanda hepatitis, alkoholisme. Sedangkan dalam makanannya cukup mengandung protein.
C. Pathways dan Masalah Keperawatan
D. Fokus Pengkajian
Data dasar pengkajian menurut Doenges (1999: 544-545) adalah:
1. Aktivitas/ istirahat.
Gejala : Kelemahan, kelelahan.
Tanda : Letargi, penurunan massa otot/ tonus.
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat gagal jantung kongestif kronis, perikarditis, penyakit jantung rematik, kanker.
Tanda : Disritmia, bunyi jantung ekstra (S3, S4), distensi vena abdomen.
3. Eliminasi
Gejala : Flatus.
Tanda : Distensi abdomen (hepatomegali, splenomegali, asites), penurunan/ tidak adanya bising usus, faeces warna tanah liat, melena, urine gelap, pekat.
4. Makanan/ cairan
Gejala : Anoreksia, tidak toleran terhadap makanan/ tidak dapat mencerna, mual, muntah.
Tanda : Penurunan berat badan atau peningkatan (cairan), penggunaan jaringan, edema umum, kulit kering, turgor buruk, ikterik, angioma spider, napas berbau/ fetor hsepatikus, perdarahan gusi.
5. Neurosensoris
Gejala : Orang terdekat dapat melaporkan perubahan kepribadian, penurunan mental.
Tanda : Perubahan mental, bingung, halusinasi, koma, bicara lambat/ tidak jelas, asterik (encephalophati hepatic).
6. Nyeri dan kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan abdomen/ nyeri kuadran kanan atas, pruritus, neuritis perifer.
Tanda : Perilaku berhati-hati/ distraksi, fokus pada diri sendiri.
7. Pernapasan
Gejala : Dispnea.
Tanda : Takipnea, pernapasan dangkal, bunyi napas tambahan, ekspansi paru terbatas (asites), hipoksia.
8. Keamanan
Gejala : Pruritus.
Tanda : Demam (lebih umum pada Sirosis alkoholik), ekimosis, ikterik, petekie, anggioma spider/ teleangiektasis, eritema palmar.
9. Seksualitas
Gejala : Gangguan menstruasi, impoten.
Tanda : Atropi testis, ginekomastia, kehilangan rambut (dada, bawah lengan, pubis).
10. Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala : Riwayat penggunaan alkhohol, riwayat penyakit empedu, hepatitis, terpajan pada toksin, trauma hati, perdarahan GI atas, episode perdarahan varices esofageal, penggunaan obat yang mempengaruhi fungsi hati.
Pemeriksaan diagnostik.
1. Bilirubun serum : Meningkat karena gangguan seluler, ketidakmampuan hati untuk meng-konjugasi, atau obstruksi bilier.
2. SGOT, SGPT, dan LDH : Meningkat karena kerusakan seluler dan mengeluarkan enzim.
3. Albumin serum : Menurun karena penekanan sintesis.
4. Globulin (IgA dan Ig G) : Peningkatan sintesis
5. Darah lengkap : Hb/ Ht dan SDM mungkin menurun karena perdarahan, leukemia mungkin ada sebagai akibat hipersplenisme.
6. Fibrinogen : Menurun.
7. Blood Ureum Nitrogen : Meningkat menunjukkan kerusakan darah/ protein.
8. Amonia serum : Meningkat karena ketidakmampuan untuk berubah amoniak menjadi urea.
9. Glukosa serum : Hipoklikemi diduga mengganggu glikogenesis.
10. Urobilinogen fekal : Menurunkan ekskresi
Urobilinogen urine : ada/ tidak ada bertindak sebagai petunjuk untuk membedakan penyakit hati, penyakit hemolitik, dan obstruksi bilier
11. HbSAg : Dapat positf (tipe B)
E. Fokus Intervensi
1. Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi (SIADH, penurunan protein plasma, malnutrisi): kelebihan natrium/ masukan cairan (Doenges, 1999 : 548).
Kemungkinan dibuktikan oleh : edema anasarka, peningkatan berat badan, pemasukan melebihi pengeluaran, oliguria, perubahan tekanan darah, reflek hepatojugular positif, gangguan elektrolit.
a. Tujuan dan kriteria evaluasi:
Menunjukkan volume cairan stabil, dengan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran, berat badan stabil, tanda vital dalam batas normal dan tak ada edema.
b. Intervensi:
1) Ukur masukan dan haluaran, catat keseimbangan positif timbang berat badan tiap hari.
2) Awasi tekanan darah, catat JVD (Jugularis Vena Destensi)
3) Auskultasi paru, catat penurunan, bunyi napas tambahan.
4) Auskultasi bunyi jantung, catat terjadinya irama gallop
5) Kaji edema dependen, ukur lingkar abdomen.
6) Dorong tirah baring bila ada asites
7) Awasi seri foto dada.
8) Batasi natrium dan cairan sesuai indikasi.
9) Berikan obat sesuai indikasi (diuretik, kalium).
2. Risiko tinggi terhadap pola napas tak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen (asites); penurunan ekspansi paru; akumulasi sekret (Doenges, 1999 : 551)
a. Tujuan dan kriteria
Mempertahankan pola pernapasan efektif; bebas dispnea dan sianosis dengan nilai gas darah arteri (GDA) dan kapasitas vital dalam rentang normal.
b. Intervensi
1) Awasi frekuensi, kedalaman, dan upaya pernapasan.
2) Asuskultasi bunyi napas, catat krekels, mengi, ronchi.
3) Pertahankan kepala tempat tidur tinggi, posisi miring.
4) Ubah posisi dengan sering; dorong napas dalam, latihan batuk
5) Awasi suhu, catat adanya menggigil.
6) Awasi seri GDA, foto dada.
7) Beri tambahan O2 sesuai indikasi.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diet tidak adekuat; ketidakmampuan untuk memproses/ mencerna makanan, anoreksia, mudah kenyang (asites; kerusakan metabolisme protein, lemak, glukosa dan kerusakan penyimpanan vitamin (A, D, E, K, C) (Doenges, 1999 : 546 dan Carpenito, 1997 : 446).
Kemungkinan dibuktikan oleh penurunan berat badan, perubahan bunyi dan fungsi usus, tonus otot buruk, ketidakseimbangan dalam pemeriksaan nutrisi.
a. Tujuan dan kriteria
Menunjukkan peningkatan berat badan progresif mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal, tidak mengalami tanda malnutrisi lebih lanjut.
b. Intervensi
1) Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori.
2) Timbang berat badan, bandingkan perubahan status cairan, riwayat berat badan, ukuran kulit trisep.
3) Bantu dan dorong pasien untuk makan, jelaskan alasan tipe diet.
4) Berikan makan sedikit tapi sering.
5) Batasi masukan kafein, makanan penghasil gas atau berbumbu dan terlalu panas atau terlalu dingin.
6) Batasi makanan halus, hindari makanan kasar sesuai indikasi.
7) Awasi pemeriksaan laboratorium (albumin, amonia, glukosa).
8) Konsul dengan ahli diet untuk memberikan diet tinggi kalori, karbohidrat sederhana, rendah lemak, dan tinggi protein sedang, batasi natrium dan cairan bila perlu.
9) Berikan obat sesuai indikasi (antirematik, tambahan vitamin, enzim pencernaan).
4. Intolerans aktivitas yang berhubungan dengan gangguan metabolisme nutrien sekunder terhadap disfungsi hepar (Mija Kim, dkk, 1995 : 26) kemungkinan dibuktikan dengan : kelemahan, kelelahan, letargi, penurunan massa otot/ tonus.
a. Tujuan dan kriteria
Melaporkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tadna-tanda vital dalam batas normal selama aktivitas, kelemahan berkurang, tonus/ massa otot meningkat.
b. Intervasi:
1) Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas.
2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut.
3) Jelaskan pentingnya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
4) Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat dan atau tidur.
5) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan, berikan kemajuan peningkatan selama masa penyembuhan.
5. Risiko tinggi terhadap cedera/ hemoragi yang berhubungan dengan profil darah abnormal : gangguan faktor pembekuan (penurunan produksi protombin, fribinogen, dan faktor VIII, IX dan X : gangguan absorbsi vitamin K; dan pengeluaran tromboplastin); hipertensi portal (Doenges: 1999 – 552).
a. Tujuan dan kriteria
Mempertahankan homeostatis dengan tanpa pendarahan. Menunjukan perilaku penurunan risiko pendarahan.
b. Intervensi
1) Kaji adanya tanda-tanda dan gejala pendarahan gastrointestinal.
2) Observasi adanya petekie, ekimosis.
3) Awasi nadi tekanan darah.
4) Dorong menggunakan sikat gigi, hindari mengejang saat defekasi.
5) Gunakan jarum kecil untuk infeksi, tekan lebih lam pada bagian bekas suntikan.
6) Awasi Hb/ Ht dan fakator pembekuan.
7) Berikan obat sesuai indikasi (pelunak feses, vitamin, tambahan, lavage gaster)
6. Risiko tinggi terhadap perubahan proses pikir yang berhubungan dengan perubahan fisiologis : peningkatan kadar amonia serum, ketidakmampuan hati untuk detoksikasi enzim atau obat tertentu (Doenges, 1999: 553).
a. Tujuan dan kriteria
Mempertahankan tingkat mental atau orientasi, menunjukkan perilaku atau perubahan pola hidup untuk mencegah atau meminimalkan perubahan mental

b. Intervensi
1) Observasi perubahan perilaku dan mental (letargi, bingung, peka, rangsang, cenderung tidur, bicara lambat atau tidak jelas).
2) Catat terjadinya asterik, fetor hepatikum, aktivitas kejang.
3) Orientasikan kembali pada waktu, tempat, orang sesuai kebutuhan.
4) Berikan kenyamanan, lingkungan tenang dan pendekatan lambat.
5) Pasang pengaman temapt tidur dan beri bantalan bila perlu. Berikan pengawasan ketat.
6) Kurangi rangsangan provokatif, bertentangan, hindari aktivitas memaksa.
7) Awasi pemeriksaan laboratorium (amonia, BUN, elektrolit).
8) Bebaskan atau batasi diet protein, berikan tambahan glukosa.
7. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan gangguan sirkulasi atau status metabolik; akumulasi garam empedu pada kulit; turgor kulit buruk; penonjolan tulang; adanya edema, asites (Doenges, 1999: 550)
a. Tujuan dan kriteria
Mempertahankan integritas kulit, mengidentifikasi faktor risiko dan menunjukkan perilaku atau teknik untuk mencegah kerusakan kulit.
b. Intervensi
1) Lihat permukaan kulit atau titik tekanan secara rutin. Pijat penonjolan tulang atau area yang tertekan.gunakan lotiosn minyak batasi penggunaan sabun untuk mandi.
2) Ubah posisi pada jadwal teratur, bantu dengan latihan rentang gerak aktif atau pasif.
3) Tingginkan ekstremitas bawah.
4) Pertahankan sprei kering dan bebas lipatan.
5) Gunting kuku jari hingga pendek.
6) Berikan perawatan perineal setelah berkemih dan defekasi.
7) Berikan losion kalamin.
8. Risiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan hilangnya fungsi sel-sel kupffer dalam menyerang infeksi (Hudak, dkk, 1996: 398).
a. Tujuan dan kriteria
Klien tidak akan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi, sel darah putih akan tetap dalam batas normal.
b. Intervensi
1) Pertahankan teknik aseptik ketika melakukan prosedur.
2) Pertahankan ssterilisasi jalur invasif dan selang.
3) Amati lokasi invasif terhadap tanda-tanda infeksi.
4) Ganti jalur invasif setiap 72 jam.
5) Pantau suhu tubuh, jumlah SDP dan hasil sinar X dada.
6) Periksa kultur semua drainase yang mencurigakan.
7) Berikan antibiotik sesuai pesanan.
9. Gangguan harga diri atau citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan biofisika atau gangguan penampilan fisik; prognosis yang meragukan; pribadi rentan; perilaku merusak diri (Doenges, 1999: 555).
Kemungkinan dibuktikan oleh : pernyataan perubahan pola hidup, takut penolakan, perasaan negatif tentang diri, perasaan tak berdaya, tidak ada harapan dan tak kuat.
a. Tujuan dan kriteria
Menyatakan pemahaman akan perubahan dan penerimaan diri pada situasi yang ada, mengidentifikasi perasaan dan metode koping terhadap persepsi diri negatif.
b. Intervensi
1) Diskusikan situasi atau dorong pernyataan takut atau masalah.
2) Berikan perawatan dengan positif, perilaku bersahabat.
3) Dorong keluarga atau orang terdekat untuk berpartispasi dalam perawatan.
4) Bantu pasien atau orang terdekat untuk mengatasi perubahan pada penampilan.
5) Rujuk pada pelayanan pendukung (konselor, psikiatrik).

Asuhan Keperawatan Kardiomiopati Kongestif (Dilated Cardiomyopathy)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
KARDIOMIOPATI KONGESTIF (DILATED CARDIOMYOPATHY)



A. PENGERTIAN
Kardiomiopati adalah penyakit yang mengenai miokardium seara primer dan bukan sebagai akibat dari hipertensi, kelainan kongenital, katub, koroner, arterial dan perikardial (Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 249).
Cardiomiopati kongestif disebut juga dengan nama Dilated Cardiomyopathy (A.H Markum, dkk, hal 615). Bentuk kardiomiopati ini digolongkan berdasarkan patologi, fisiologi dan tanda klinisnya. Penyakit ini ditandai dengan adanya dilatasi atau pembesaran rongga ventrikel bersama dengan adanya penipisan dinding otot, pembesaran atrium kiri dan stasis darah dalam ventrikel. (Susanne, C Smelzer, 2002, hal 833)

B. ETIOLOGI
Laporan Gugus Tugas WHO/ISFC tentang defisiensi dan klasifikasi kardiomiopati tahun 1980, berdasarkan etiologinya digolongkan menjadi 2 macam yaitu:
1. Tipe primer: terdiri dari penyakit otot yang tidak diketahui penyebabnya.
a. Idiopatik
b. Familial
2. Tipe sekunder : terdiri dari penyakit otot jantung dengan sebab yang diketahui atau berhubungan dengan penyakit yang mengenai sisitem organ lain.
a. Infektif
• Miokarditis virus
• Miokarditis bakteri
• Miokarditis jamur
• Miokarditis protozoa
• Miokarditis metazoa
b. Metabolik
c. Penyakit familial
• Penyakit glikogen
• Mukopolisakaridosis
d. Defisiensi
• Elektrolit
• Nutrisi
e. Kelainan jaringan ikat
• Lupus eritematosis sistemik
• Poliartritis nodusa
• Arthritis reumatoid
• Skleroderma
• Dermatomiositis
f. Infiltrasi dan granuloma
• Amiloidosis
• Sarkoidosis
• Keganasan
• Hematokromatosis
g. Neuromuskular
• Distrofi otot
• Distrofi miotonik
• Ataksia friedriech
• Penyakit refsom
h. Reaksi toksik dan sensitifitas
• Alkohol
• Radiasi
• Obat
i. Penyakit jantung peripartum
• Kehamilan multipara
• Usia lebih 30 tahun
(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 249).

C. PATHWAYS



D. MANIFESTASI KLINIK
• Sesak napas
• Lemah
• Orthopnea
• Dyspnea paroksimal nocturnal
• Edema perifer
• Palpitasi
• Nyeri dada ( yang tidak khas bisa timbul)
• Angina pectoris ( jika penyakit korner menyertainya)
(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 251)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Rontgen
• Menunjukkan pembesaran jantung sedang-besar
• Hipertensi vena pulmonalis
2. EKG : menunjukkan kelainan ST-T
3. Ekokardiogram : berkesan dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri
4. Radionuklir : menunjukkan dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri ( RVG = ; ventrikulogram radionuklid ; TI = thaliun 201)
5. Kateterisasi jantung
• Dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri dan kanan
• Curah jantung menurun
6. Angiografi : berkesan ventrikel kiri hipokinetik difus serta dilatasi, sering disertai dengan regurgitasi mitral
7. Biopsi Endomiokard transvenus
• Digunakan pada kondisi seperti infiltrasi miokard oleh amiloid
• Berkesan inflamasi sel bundar miokardium
(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 250-251)

F. PENATALAKSANAAN
1. Tirah baring (terutama untuk penyebab yang tidak diketahui)
2. Menghindari aktivitas jasmani yang berat
3. Medikamentosa:
• Anti koagulan untuk embolisasi sistemik
• Kardiotonika seperti: amrinaon dan milrinon untuk menambah perbaikan klinik
• Kortikosteroid untuk antiinflamasi
• Antiaritmia untuk aritmia yang serius atau simtomatis.
4. Tranplantasi jantung, harus dipertimbangkan dan dilakukan bila tidak ada kontra indikasi terhadap prosedur tersebut
(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 251)

G. KOMPLIKASI
Gagal jantung

(Susanne, C Smelzer, 2002, hal 835)

H. FOKUS PENGKAJIAN

WAWANCARA
1. Keluhan utama (chief complaint)  alasan datang
2. Keluhan dan keterangan tambahan (present illness)
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat keluarga
5. Riwayat sosio ekonomi

PEMERIKSAAN FISIK

• KU: usia, kesadaran dan keadaan emosi kenyamanan, distress, sikap dan tingkah laku klien.
• Tanda- tanda vital
1. Pernafasan
frekuensi: bradipnea?, takipnea?
Keteraturan: reguler?, irreguler?
(cheyne stoke, asmatik?)
amplitudo
2. Nadi
frekuensi
regularitas
amplitudo: besarnya isi sekuncup
bentuk/ contour
isi (volume)
perabaan arteri keadaan dinding arteri
Pada tingkat lanjut tekanan nadi kecil
3. Tekanan darah
nilai normal bergantung: umur, jenis kelamin
Nilai rata- rata sistolik: 110-140 mmHg
Diastolik: 80-90 mmHg
4. Suhu badan
Metabolisme menurun, suhu menurun

Head to toe examination
1. Kepala
2. Mata: konjungtiva: anemia?
sklera, ikterus?
3. Mulut: tanda infeksi?
4. Kuping
5. Muka; ekspresi, anemia?
6. Leher: KGB? Tekanan vena jugularis externa meningkat
7. Dada: deformitas?gerakan dada?
8. Pemerikasaan perut: asites?perabaan hati dan limpa?
9. Ekstremitas
Lengan- tangan:refleks. Warna dan tekstur kulit, edema, clubbing
bandingkan arteri radialis kiri dan kanan




Pemeriksaan Khusus Jantung
1. Inspeksi
 Mid Sternal line
 Mid clavikular line
 Anterior aksilar line
 Para sternal line
2. Palpasi Jantung
 Pulsasi ventrikel kiri
 Pulsasi ventrikel kanan
 Getar jantung
Didapatkan adanya berbagai tingkat pembesaran jantung.
3. Auskultasi
Biasanya terdengar bunyi jantung ketiga dan keempat . Juga dapat timbul bising diastolik.

Asuhan Keperawatan Pasien Dengue Hemoragic Fever (DHF)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DHF


A. Pengertian
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus ( arthro podborn virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk AEDES ( AEDES ALBOPICTUS dan AEDES AEGEPTY )

B. Penyebab
Penyebab DHF adalah Arbovirus ( Arthropodborn Virus ) melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes Albopictus dn Aedes Aegepty )

C. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala penyakit DHF adalah :
- Meningkatnya suhu tubuh
- Nyeri pada otot seluruh tubuh
- Suara serak
- Batuk
- Epistaksis
- Disuria
- Nafsu makan menurun
- Muntah
- Ptekie
- Ekimosis
- Perdarahan gusi
- Muntah darah
- Hematuria masih
- Melena

D. Klasifikasi DHF menurut WHO
Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi perdarahan ( uju tourniquet positif )

Derajat II
Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain.

Derajat III
Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( 20 mmhg, kulit dingin, lembab, gelisah, hipotensi )

Derajat IV
Nadi tak teraba, tekanan darah tak dapat diukur

Pemeriksaan Diagnostik
- Darah Lengkap = Hemokonsentrasi ( Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih ) Thrombocitopeni ( 100. 000/ mm3 atau kurang )
- Serologi = Uji HI ( hemaaglutinaion Inhibition Test )
- Rontgen Thorac = Effusi Pleura

E. Pathways


F. Penatalaksanaan
 Medik
A. DHF tanpa Renjatan
- Beri minum banyak ( 1 ½ - 2 Liter / hari )
- Obat anti piretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
- Jika kejang maka dapat diberi luminal ( antionvulsan ) untuk anak 1th 75 mg Im. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3mg / kb BB ( anak 1th diberikan 5 mg/ kg BB.
- Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat

B. DHF dengan Renjatan
- Pasang infus RL
- Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB )
- Tranfusi jika Hb dan Ht turun
 Keperawatan
1. Pengawasan tanda – tanda Vital secara kontinue tiap jam
- Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
- Observasi intik output
- Pada pasienDHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3 jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari, beri kompres
- Pada pasien DHF derajat II : pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
- Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri o2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, obsrvasi productie urin tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.

2. Resiko Perdarahan
- Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
- Catat banyak, warna dari perdarahan
- Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan tractus Gastro Intestinal

3. Peningkatan suhu tubuh
- Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik
- Beri minum banyak
- Berikan kompres



F. Asuhan Keperawatan pada pasien DHF
Pengkajian
- Kaji riwayat Keperawatan
- Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan , mual muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hai, nyeri otot dan tanda – tanda renjatan ( denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran )

Diagnose Keperawatan
1. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler , perdarahan, muntah, dan demam
2. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan
4. Hiertermi berhubungan dengan proses infeksivirus
5. Perubahan proses proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak

Perencanaan
1. Anak menunjukkan tanda – tanda terpenuhinya kebutuhan cairan
2. Anak menunjukkan tanda – tanda perfusi jaringan perifer yang adekwat
3. Anak menunjukkan tanda – tanda vital dalam batas normal
4. Keluarga menunjukkan kekoping yang adaptif
Implementasi
1. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan
- Mengobservasi tanda – tanda vital paling sedikit setiap 4 jam
- Monitor tanda – tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun – ubun cekung, produktie urin menurun
- Mengobservasi dan mencatat intake dan output
- Memberikan hidrasi yang adekwat sesuai dengan kebutuhan tubuh
- Memonitor nilai laboratorium : elektrolit / darah BJ urin , serum tubuh
- Mempertahankan intake dan output yang adekwat
- Memonitor dan mencatat berat badan
- Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam
- Mengurangi kehilangan cairan yang tidak telihat ( insesible water loss / IWL )

2. Perfusi jaringan Adekwat
- Mengkaji dan mencatat tanda – tanda Vital ( kualitas dan Frekwensi denyut nadi, tekanan darah , Cappilary Refill )
- Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ektremitas ( suhu , kelembaban dan warna )
- Menilai kemungkinan terjadinya kematian aringan pada ekstremitas seperti dingin , neri , pembengkakan kaki )

3. Kebutuhan nutrisi adekwat
- Ijinka anak memakan makanan yang dapa ditoleransi anak. Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
- Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
- Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering
- Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama
- Mempertahankan kebersihan mulut pasien
- Menjelaskan pentingnya intake nutirisi yang adekwat untuk penyembuhan penyakit

4. Mempertahankan suhu tubuh normal
- Ukur tanda – tanda vital suhu tubuh
- Ajarkan keluarga dala pengukuran suhu
- Lakukan “ tepid sponge” ( seka ) dengan air biasa
- Tingkatkan intake cairan
- Berikan terapi untuk menurunkan suhu
5. Mensupport koping keluarga Adaptif
- mengkaji perasaan dn persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh stress
- Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar dan identifikasi faktor yang paling mencmaskan keluarga
- Identifikasikan koping yang biasa digunakan dn seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan

G. Pencegahan DHF
Menghindari atau mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegepty dengan cara:
- Rumah selalu terang
- Tidak menggantung pakaian
- Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal 4 hari sekali
- Kubur barang – barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat terkumpulnya air hujan
- Tutup tempat penampungan air
Perencanaan pemulangan dan PEN KES
- Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktifitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak
- Jelaskan terapi yang diberikan, dosis efek samping
- Menjelaskan gejala – gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala
- Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan

DAFTAR PUSTAKA
Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.
Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995
Prinsip – Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 – 267
Photobucket