Selasa, 21 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Ringan

ASUHAN KEPERAWATAN CIDERA KEPALA RINGAN


A. LATAR BELAKANG
Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok umur produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya ( Mansjoer, 2000 ). Salah satu tindakan pemeriksaan yang penting adalah melalui pemeriksaan tingkat kesadaran dengan skala koma glasgow ( Glasgow Coma Scale ).
Pemeriksaan tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale ( GCS ) merupakan cara praktis untuk dokter dan perawat, karena memiliki kriteria / patokan yang lebih jelas dan sistematis dibanding dengan sistem lama. GCS disamping untuk menetukan tingkat kesadaran, juga berguna untuk menentukan tingkat prognosis suatu penyakit ( Juwono, l996) dan memonitor terjadinya disfungsi neorologis ( Godner, 1995 ). Bahkan Priharjo ( 1996 ) mengatakan bahwa GCS dapat digunakan untuk menilai atau menguji kewaspadaan pasien khususnya pasien yang mengalami cedera berat atau pasien yang mengalami kemunduran kesadaran dengan cepat.
Selama ini staf / pelaksana keperawatan masih dilupakan dalam penilaian / pemeriksaan GCS, padahal kenyataannya tenaga dokter terbatas dan perawat lebih banyak berhubungan dengan pasien, juga perawat masih belum terbiasa melakukan pemeriksaan GCS padahal antara perawat dan dokter perspektifnya berbeda ( Haryono, 1997 ).
Dari hasil studi dokumentasi yang peneliti dapatkan dari bagian rekam medik BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan pasien yang rawat inap selama tahun 2004 sebanyak 10.689 orang, 641 atau 5,99 % masuk dengan gangguan penurunan kesadaran yang disebabkan oleh cidera kepala ringan sampai berat, juga disebabkan oleh cedera vaskuler otak, 30 % nya adalah pasien cidera kepala berat yang hampir 80 % meninggal dunia. Dari pasien yang meninggal catatan keperawatan / dokumentasi keperawatan tidak ada dokumentasi perkembangan tingkat kesadaran dengan menggunakan GCS ( Rina, komunikasi personal, 15 Oktober 2005 ).
Peneliti juga melakukan studi pendahuluan pengetahuan dan sikap perawat terhadap cara pemeriksaan Glasgow Coma Scale yang bekerja di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan di ruang IGD, ruang ICU dan ruang rawat inap medikel bedah dari hasil wawancara dan studi dokumentasi keperawatan antara lain perawat IGD dalam pengakjian pasien yang masuk oleh karena cidera kepala belum dilakukan pemeriksaan GCS, hal ini dilihat dari status pasien yang masuk dari IGD ke ruang ICU pada bulan Mei 2005 dari 2 pasen tidak ada catan pemeriksaan GCS , padahal 90 % lebih pendidikannya adalah D III keperawatan ( Subagio, komunikasi percsonal, 20 Oktober 2005 ).
Di ruang ICU juaga tidak semua perawat melakukan pemantauan tingkat kesadaran pasen dengan menggunakan GCS, padahal dalam blangko monitoring sudah termasuk GCS yang harus di monitor secara berkala.Di ruang rawat medikel bedah pun hampir 100 % perawat dalam pemantauan tikat kesadaran tidak menggunakan GCS ( Zurohrinizak, komunikasi personal, 21 Oktober 2005 ).
Dari hasil wawancara terhadap perawat diantara alasan mengapa tidak melakukan pemeriksaan GCS pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran adalah; tidak tahu cara pemeriksaan GCS, tidak terbiasa melakukan pemeriksaan GCS, menganggap pemeriksaan GCS adalah pekerjaan dokter, melakukan pemeriksaan GCS bila ada perintah dari dokter, pemeriksan GCS sulit, pemeriksaan GCS memerlukan waktu lama, yang intinya perawat belum terbiasa mengngunakan GCS sebagai alat pemeriksaan pasien dengan penurunan kesadaran khususnya dengan cedera kepala ( Titi, komunikasi personal, 20 Oktober 2005 ).
Penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap prilaku yang diimplementasikan dalam praktek keperawatan sangat penting sebagai perwujudan kompetensi perawat sebagai perawat profesional ( PPNI , 1999; 2004 ). Hal ini sebagai perwujudan bahwa perawat menjalankan praktek mandiri dan profesional.
Kenyataan di lapangan dari sumber daya keperawatan yang ada sebetulnya 95 % adalah perawat dengan pendidikan D III keperawatan yang secara teori sudah mendapat konsep / pengetahuan tentang cara pemeriksaan GCS, akan tetapi pengetahuan yang diperoleh belum tercermin dalam sikap dan praktek nyata sebagai perawat yang mandiri dan profesional.
Keadaan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya belum pernah diadakan pelatihan bagi perawat tentang cara pemeriksaan GCS, fasilitas, beban kerja, dan sikap individu perawat dalam praktek pemeriksaan GCS.
Dampak negatif dari pengetahuan, sikap dan praktek yang buruk / jelek akan merugikan image perawat dari masyarakat yang selama ini masih belum baik dan dapat mengurangi kepercayaan pasien terhadap perawat di instansi bekerja. Akan tetapi bila perawat mempunyai pengetahuan, sikap, dan praktek yang baik, profesionalisme dan tidak semata-mata hanya kebiasaan, maka kepercayaan pasien terhadap perawat khususnya dan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap instansi di mana perawat bekerja pada umumnya. Hal ini yang menjadikan peneliti melakukan penelitian sehubungan fenomena di atas.
Selama ini di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan belum pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan sikap perawat cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala. Oleh karena itu peneliti ingin mengidentifikasi bagaimana tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.

B. PERTANYAAN PENELITIAN
“ Adakah hugungan antara tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan ? “
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan perawat mengenai cara
pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
b. Mengidentifikasi sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
c. Mengidentifikasi praktek perawat tentang pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala di BP RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.
d. Menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten pekalongan.
e. Menganalisa hubungan antara sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.

D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1 Bagi Perawat
Memberikan masukan bagi para perawat agar dapat meningkatkan pengetahuan, sikap perawat yang baik cara pemeriksaan GCS dan praktek emeriksaan GCS pada pasien dengan cidera kepala pada khususnya dan dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan pada mumnya.
2. Bagi institusi
Menurunkan angka kematian pasien dengan cidera kepala atau kegagalan perawatan yang disebabkan oleh tidak termonitornya tingkat kesadaran pasien dengan cedera kepala.
3. Bagi peneliti
Menjadi dasar pengetahuan yang nantinya dapat diterapkan dalam praktek klinik serta menjalankan tugas dirumah sakit tempat peneliti bekerja.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Cedera Kepala
1. Pengertian
Cedera kepala adalah trauma yang mengenai kulit kepala, tengkorak, dan otak yang disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tembus ( Mansjoer, 2000; Brunner & Soddarth, 2002 )
Price ( l995 ) Cedera kepala adaalah trauma yang dapat mengakibatkan trauma langsung dan trauma tidak langsung pada otak.
Cedera kepala adalah komplikasi segera setelah trauma biomekanik pada otak, lapisan yang menutupinya atau organ-organ ekstra kranial penopang otak ( Sunaryo, 9189 ).
Cedera kepala paling sering dan penyakit neurologik yang serius di antara penyakit neurologik, dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil dari kecelakaan jalan raya ( Brunner & Suddarth, 2002 ).
Komplikasi paling penting pada cedera kepala adalah proses yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang lebih lanjut, dan ini merupakan proses dinamik. Agar proses dinamik ini tidak berjalanlebih lanjut di mana akan menyebabkan kerusakan neural lebih banyak maka perlu dilakukan pemantauan ketat pada pasien yang mengalami cedera kepala.
Sunaryo ( l989 ) menjelaskan yang perlu diperhatikan dalam pemantauan klinis pasien cedera kepala adalah GCS ( Glasgow Coma Scale ). Pemantauan GCS secara teratur, sangat penting karena bila pada follow-up terjadi penurunan GCS, diduga terjadi proses kerusakan lebih lanjut di dalam otak, dan ini harus dicegah sedini mungkin. Juga GCS dapat digunakan sebagai alat untum menentukan derajat keparahan cedera kepala secara dini ( Mansjoer, 2000 ).

2. Macam-macam / jenis Cedera Kepala
Macam-macam/jenis cedera kepala berdasarkan tingkat keparahannya adalah:
a. Cedera Kepala Ringan ( CKR)
Cedera kepala ringan (CKR) merupakan kelompok risiko rendah, yaitu ditandai dengan : skor GCS antara 13 sampai 15, ( atentif, sadar penuh, dan orientatif), tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi), tidak ada tanda intoksikasi alkohol atau obat terlarang, pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing, pasien dapat menderita : abrasi, laserasi, atau hematoma kulit kepala, tidak ada kriteria cedera kepala sedang-berat.
b. Cedera Kepala Sedang ( CKS )
Cedera Kepala sedang ( CKS ) Merupakan risiko sedang , yang ditandai dengan: skor GCS antara 9 sampai 12 (konfusi, letargi, atau stupor), konkusi, amnesia paska trauma, muntah, tanda kemungkinan fraktur kranium ( tanda Battle, mata rabun ,hemotimpanum, otorea, atau rinorea cairan serebrospinal ), kejang.
c. Cedera Kepala Berat ( CKB )
Cedera kepala berat ( CKB ) merupakan risiko berat, ditandai dengan: skor GCS antara 3 sampai 8 ( koma ), penurunan derajat kesadaran secara progresif, tanda neurologis fokal, cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium.

3. Penanganan Cedera kepala
Pedoman penanganan, resusitasi dan penilaian awal pada pasien cedera kepala adalah:
a. Menialai jalan napas ( Air Way Control ) dengan membersihkan jalan napas dari debris dan muntahan, lepaskan gigi palsu,pemasangan kolar sevikal, pasang oropangeal atau nasoparengeal, dan bila perlu lakukan intubasi.
b. Menilai pernapasan ( Breathing Support ) dengan cara menentukan pakah pasien napas denga spontan atau tidak, jika tidak lakukan oksigenasi. Jika napas spontan nilai dan atasi adanya cedera thorak berat seperti; pneumothorsks, pneumothorak tensif, dan hemopneumotoraks.
c. Menilai sirkulasi ( Circulation Support ) , otak yang rusak tidak mentoliler hopotensi , dengan cara hentikan perdarahan , perhatikan secara khusus adanya perdarahn dada atau abdomen , pasang jalur intravena untuk pemberian cairan pada vena besar, pantau tanda-tanda syok.
Sedangkan penanganan cedera kepala sesua derajat keparahan pasien cedera kepala adalah:
a. Cedera Kepala ringan.
Pasien dengan cedera kepala sedang pada umumnya dapat dipulangkan kerumah tanpa perlu pemeriksaan CT-Scan bila memenuhi kriteria sebagai berikut: hasil pemeriksaan neurologis (terutamastatus mini mental dan gaya berjalan ) dalam batas normal, foto sevikal tidak ada tanda patah tulang, ada orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasie selam 24 jam pertama, dengan intruksi segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala perburukan.

b. Cedera kepala sedang.
Pasien yang mengalami konkusi otak ( komosio otak), dengan GCS 15 dan hasil CT-Scan normal, tidak perlu dirawat. Pasien dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat keluhan nyeri kepala, mual, muntah, pusing, atau amnesia.

c. Cedera kepala berat.
Pasien denga cedera kepala berat, setelah penilaian awal dan stabilisasi tanda vital, keputusan segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah saraf ( hematoma intrakranial besar ).Jika ada indikasi segera laporkan atau konsultasikan ke bedah saraf untuk tindakan operasi..
B. Glasgow Coma Scale ( GCS )
1. Pengertian
Brunner & Suddarth ( 2002 ) CGS adalah skala untuk mengkaji tingkat kesadaran berdasarkan tiga kriteria; membuka mata, respon verbal, dan respons motorik terhadap perintah verbal atau stimulus nyeri.
GCS adalah skala untuk mengetahui perkembangan tingkat kesadaran dengan menilai respons dengan stimulus verbal dan nyeri pada membukan mata, respons verbal, dan respon motorik ( Lumbantobing, 2000 ).
Price ( l995 ), GCS adalah skala yang lebih paling luas dipakai dalam penilaia kesadaran penderita dan reaksinya terhadap rangsang.
GCS adalah pengkajian yang sangat bernilai untuk memonitor disfungsi neurologi yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran dan kewaspadaan pasien,khususnya pada pasien yang mengalami cidera berat atau pasien yang diperkirakan akan mengalami kemunduran kesadaran dengan cepat ( Priharjo,1996 ; Goddner,l995 ).
2. Cara Pemeriksaan GCS
Teasdale dan Jennet , (1974) , pertama kali memperkenalkan cara pemeriksaan tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma Scale ( GCS ) pada pasien trauma kepala atau penderita penunan kesadaran yang disesbabkan oleh nontraumatik ( Bates ,1977 ).
GCS memberikan tiga bidang fungsi neurologik,memberikan gambaran tingkat responsif pasien dan dapat digunakan dalam pencarian yang luas pada saat mengevaluasi status neurologik pada pasien yang mengalami cidera kepala, yaitu dengan mengevaluasi tiga elemen ; respon membuka mata,espon verbal dan respon motorik.( Brunner dan Suddarth, 2002 )
Parameter/indikasi yang dinilai pada pemeriksaan Glasgow Coma Scale dari respon membuka mata, respon verbal dan respon motorik dibagi menjadi tingkat/nilai yang berbeda dan respon yang baik yang ditunjukkan pasien terhadap stimulis/rangsangan yang ditentukan sebelumnya. Masing-masing respon diberikan angka/nilai ( Goodner, 1995;Priharjo, 1996; Brunner dan Suddarth, 2002).
Sedangkan cara memeriksa dan menghitang GCS adalag sebaga berikut:
a. Membeka Mata ( E )
- Seseorang dengan trauma kepala dapat membuka mata spontan diberi nilai 4;
- penderiata menutup mata tetapi dapat diperintah secara verbal untuk membuka matanya diberi nilai 3;
- Penderita secara verbal disuruh membuka mata tidak bisa, tetapi dengan rangsang nyeri/sakit yyaitu menekan nervus supra optikus dan ujung kuku jari tangan , penderita masih bisa membuka mata diberi nilai 2;
- Bila dengan rangsang nyeri/sakit penderita tidak bisa membuka matang diberi nilai 1.
b. Respons Verbal ( V ).
- Bila penderita titanya sesuatu mengenai waktu dan tempat dapat memberikan jawaban benar, nilainya 5;
- Penderita ditanya tentang tempat tetapi tidak bisa menjawab dengan benar, misalnya di mana dia berada, atau ditanya waktu tidak menjawab sebenarnya, misalnya ditanta saat ini siang atau malam, ia menjawab siang padah malam atau sebaliknya ( disorintasi waktu dan tempay, nilainya 4;
- Penderita ditanya sesuatu, misalnya ditanya dimana dia berada, ia menjawab akan makan atau mengomel ( inapropriate answer ), nilainya 3;
- Penderita ditanya secara vebal tidak memberikan jawaban dan diberi kan rangsangan nyeri/sakit ia hanya mengerang, nilainya 2;
- Bila dengan rangsang nyeri/sakitpun tidak memberikan jawaban, nilainya l.
c. Respon Motorik ( M ).
- Bila penderita mengikuti perintah secara verbal sesuai yang diperintahkan oleh pemeriksa, misalnya penderita disuruh mengangkat tangan kanannya, menggerakkan jari telunjuk kirinya, dapat menjalankan perintah secara benar, nilainya 6;
- Dengan perintah secara oral penerita tidak dapat melaksanakannya, dengan rangsang sakit pada supra orbita paenderita berusaha menghindari penyebab sakit/nyeri dengan mengangkat tangannya melebihi bahu kearah rangsang nyeri, nilainya 5
- Dengan rangsang nyeri, misalnya dengan menekan pangkal kuku, penderita hanya menarik tangan tetapi tidak berusaha menghindar penyebab sakit dengan tangannya yang lain, nilainya 4;
- Dengan rangsang nyeri timbul gejala dekortikasi, nilainya 3;
- Dengan rangsang nyeri timbul gejala deserebrasi, nilainya 2;
- Dengan rangsang nyeri tidak timbul reaksi apapun, nilainya 1.
Penilaian atau interpretasi pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala adalah: nilai GCS 13 sampai 15, dikatakan cedera kepala ringan ( Minor Head Injury ); nilaiGCS antara 9 sampai 12 dikatakan cedera kepala sedang ( Moderat Head Injury ), dan nilai GCS antara 3 sampai 8 dikatakan cedera kepala berat ( Severe Head Injury) atau koma. Untuk memudahkan secara singkat dapat dilihat pada tabel.











Tabel 1 . Glasgow Coma Scale ( GCS )

Parameter
Respons
Nilai
ResponMembuka Mata ( E ) Spontan
Terhadap suara/bicara
Terhadap nyeri
Tidak berespons 4
3
2
1
Respon verbal ( V ) Orientasi baik dan sesuai
Disorientasi waktu dan tempat
Bicara kacau
mengerang
Tidak ada suara 5
4
3
2
1
Respon Motorik ( M ) Mengikuti perintah
Melokalisir nyeri
Menghindar nyeri
Fleksi abnormal( dekortikasi )
Ekstensi abnormal ( deserebri )
Tidak ada gerakan 6
5
4
3
2
1


C. Pengetahuan, Sikap dan Praktek
1. Pengetahuan.
a. Pengertian Pengetahuan.
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari ” tahu “ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera pengihatan, pendengaran,penciuman, rasa dan raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan ataukognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( overt behavior ) ( Notoadmojdo, 2003 ).
Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia ,pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkaitan denganproses pembelajaran. Proses belajar ini dipengaruhi berbagai faktor dari dalam seperti motivasi dan faktor dari luar berupa sarana informasi yang tersedia serta keadaan sosial budaya.
b. Macam-macam/jenis pengetahuan
Pengetahuan yang mencakup domin kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a. Tahu ( know )

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini mengingat kembali ( recall ) terhadap suatu yangspesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu “ tahu “ merupakan peringkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami ( Komprehension )
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang telah diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi ( Application )
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi atau kondisi riil ( sebenarnya ). Aplikasi dapatdiartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam kontek atau situsasi yang lain.Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitisn,dapat menggunakan menggunakan prinsip siklus pemecahan masalah ( Problem Solving Cycle ).
d. Analisis ( Analysis )
Analalisi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan ( membuat bangun ), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis ( Synthesis )
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusu, merncanakan, meringkaskan menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumus-rumus yang telah ada.
f. Evaluasi ( Evaluation )
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atauk objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.Misalnyadapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kurang gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikit KB, dan sebagainya.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan degan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuanyang ingin diketahui atau diukur kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas.

2. Sikap
a. Pebgertian Sikap
Sikap ( attitude ) merupan respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsrikan terlebih dahulu dari sikap yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.
Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakn ksiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek atau lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
b. Tingkatan Sikap
Dalam bagian lain Allport ( 1954 ) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 ( tiga ) komponen pokok, yaitu:
- Kepercayaan ( keyakinan ), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
- Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek.
- Kecenderungan untuk bertindak ( trend to behave )
Ketiga komponen itu secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh ( total attitude ). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan,yaitu:
- Menerima ( receiving )
Menerima diartikan bahwa subjek ( orang ) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan ( objek ).
- Merespon ( responding )
Memberikan jawaban apabila ditanya, menjelaskan dan menyelesaikan tugas yang deberikan adalah suatu indikasi dari sikap.Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan,lepas dari pekerjaan benar atau salah, adalah bahwa orang menerima ide tersebaut.
- Menghargai ( valuing )
Mengajak orang lain atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap ketiga.
- Bertanggung jawab ( responsible )
Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan, bagaimana pendapat atau pertanyaan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan ipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.( Notoadmodjo, 2003,at.all ).

3. Praktek atau tindakan practice
a. Pengertian praktek.
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan ( overt behavior ). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkainkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping fasilitas juga diperlukan faktor pendukung ( support ) dari pihak lain ( Notoatmodjo, 2003 ).
b. Tingkatan Praktek
Sedangkan tingkat-tingkat praktek adalah:
- Persepsi ( Perception )
mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat perama . Misalnya seorang ibu dapat memilih makanan yang bergizi tinggi bagi anak balitanya.
- Respon Terpimpin ( Guided Respons ).
Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. Misalnya seorang ibu dapat memesak sayuran dengan benar mulai dari cara mencuci dan memotong-motongnya, lama memasak, menutup pancinya dan sebagainya.
- Mekanisme ( Mecanism ).
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. Misalnya seorang ibu yang sudah biasa mengimunisasikan bayi pada umu-umur tertentu, tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain.
- Adaptasi ( Adaptation ).
Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Misalnya, seorang ibu dapatmemilih dan memasak makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan-bahan yang murah dan sederhana.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu ( recall ). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.


















D. Kerangka Teori

























E. KERANGKA KONSEP









Keterangan:
Variabel Perancu tidak diteliti.

D. HIPOTESIS
1. Ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS.
2. Ada hubungan antara sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS.

F. VARIABEL PENELITIAN
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas ( independen dan variabel terikat ( dependen ) .
1. Variabel bebas ( independen )
Variabel bebas adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain ( Danim, 2003 ). Sedangkan variabel bebas dalampenelitian ini adalah pengetahuan dan sikap perawat tentang cara pemeriksaan Glasgow Coma Scale ( GCS ).
2. Variabel terikat ( dependen ).
Variabel terikat adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain ( Danim, 2003 ). Adapun variabel terikat adalah pengetahuan dan sikap perawat dalam praktek pemeriksaan Glasgow Coma Scale.

G. DEFINISI OPERASIONAL
1. Tingkat pengetahuan didefinisikan sebaga tingkat pemahaman perawat/respondenmengenai cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala. Tingkat pengetahuan diukur dari nilai yang diperoleh responden dalam menjawab sejumlah pertanyaan tertutup MCQ ) mengenai cara pemeriksaan dan kedan pasien cedera kepala yang diukur dengan kuesioner. Hasil pengukuran data besskala ordinal, yaitu:
a. Skor 0 – 6 tingkat pengetahuan rendah.
b. Skor 7 – 13 tingkat pengetahuan cukup.
c. Skor 14 – 20 tingkat pengetahuan tinggi.
Cara pengukuran skor untuk mengetakui tingkat pengetahuan dilakukan dengan melihat jumlah bitir pertanyaan. Pertanyaan pengetahuan terdiri dari 20 butir pertanyaan tertutup. Nilai 1 untuk jawaban benar, dan nilai 0 untuk jawaban salah. Interval skor diambil dari selisih nilai tertinggi ( 20 ) dikurangi nilai terendah ( 0 ), dibagi 3 katagori ( tinggi, cukup, rendah. Sehingga perolehan interval 6 atau 7 untuk setiap interval.

2. Sikap didefinisikan sebagai suatu reaksi atau respon dan perawat terhadap pertanyaan –pertanyaan yang berkaitan dengan cara pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala baik yang bersifat positif ( favoutable ), maupun yang bersifat negatif ( unfavoureble ), dinyatakan dalam skala Likert. Hasil pengukuran data skala nominal, yaitu:
a. Skor 45 – 75 tingkat sikap positif.
b. Skor 15 – 44 tingkat sukap negatif.
Cara pengukuran skor untuk sikap dilakukan dengan melihat jumlah butir pertanyaan. Sedangkan jumlah pertanyaan untuk sikap adalah 15 butir. Dengan pembagian nilai:
a. Untuk pertanyaan yang mengungkapkan sikap positif:
1). Sangat Setuju ( ST ) : skornya 5
2). Setuju ( S ) : skornya 4
3). Ragu- Ragu ( RR ) : skornya 3
4). Tidak Setuju ( TS ) : skornya 2
5). Sangat Tidak Setuju ( STS ) : skornya 1
b. Untuk pertanyaan yang mengungkapkan sikap negatif:
1). Sangat Setuju ( ST ) : skornya 1
2). Setuju ( S ) : skornya 2
3). Ragu – Ragu ( RR ) : skornya 3
4). Tidak Setuju ( TS ) : skornya 4
5). Sangat Tidak Setuju ( STS ) : skornya 5
Interval nilai sikap diperoleh dari selisih skor tertinggi ( 75 ) dengan nilai terendah ( 15 ) dibagi menjadi 2 kategori sikap ( sikap positif dan sikap negatif ). Jadi diperoleh interval untuk masing-masing katagori adalah 30.
3. Praktek pemeriksaan GCS adalah tindakan nyata / aktif perawat / responden dalam praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala, diukur dengan kuesioner . Hasil pengukuran data berskala nominal, yaitu:
a. Praktek positif, jika skornya 15 – 30
b. Praktek negatif, jika skornya 0 – 14
Cara pengukuran skor untuk praktek dilakukan dengan melihat jumlah butir pertanyaan. Sedangkan pertanyaan untuk praktek adalah 15 butir.
Untuk pertanyaan yang mengungkapkan praktek:
1). Selalu : nilai skornya 2
2). Kadang – Kadang : nilai skornya 1
3). Tidak Pernah : nilai skornya 0
Interval nilai praktek diperoleh dari selisih skor tertingg ( 30 ) dan skor terendah ( 0 ) dibagi menjadi 2 katagori ( praktek positif dan praktek negatif ). Sehingga diperoleh interval masing-masing katagori adalah 15.

Asuhan Keperawatan Nyeri Dada

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA KLIEN DENGAN
NYERI DADA


A. PENGERTIAN
• Nyeri dada adalah perasaan nyeri / tidak enak yang mengganggu daerah dada dan seringkali merupakan rasa nyeri yang diproyeksikan pada dinding dada (referred pain)
• Nyeri Coroner adalah rasa sakit akibat terjadinya iskemik miokard karena suplai aliran darah koroner yang pada suatu saat tidak mencukupi untuk kebutuhan metabolisme miokard.
• Nyeri dada akibat penyakit paru misalnya radang pleura (pleuritis) karena lapisan paru saja yang bisa merupakan sumber rasa sakit, sedang pleura viseralis dan parenkim paru tidak menimbulkan rasa sakit (Himawan, 1996)

B. ETIOLOGI
Nyeri Dada:
a. Cardial
- Koroner
- Non Koroner
b. Non Cardial
- Pleural
- Gastrointestinal
- Neural
- Psikogenik (Abdurrahman N, 1999)


C. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala yang biasa menyertai nyeri dada adalah :
- Nyeri ulu hati
- Sakit kepala
- Nyeri yang diproyeksikan ke lengan, leher, punggung
- Diaforesis / keringat dingin
- Sesak nafas
- Takikardi
- Kulit pucat
- Sulit tidur (insomnia)
- Mual, Muntah, Anoreksia
- Cemas, gelisah, fokus pada diri sendiri
- Kelemahan
- Wajah tegang, m erintih, menangis
- Perubahan kesadaran

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. EKG 12 lead selama episode nyeri
- Takhikardi / disritmia
- Rekam EKG lengkap : T inverted, ST elevasi / depresi, Q Patologis
b. Laboratorium
- Kadar enzim jantung : CK, CKMB, LDH
- Fungsi hati : SGOT, SGPT
- Fungsi Ginjal : Ureum, Creatinin
- Profil Lipid : LDL, HDL
c. Foto Thorax
d. Echocardiografi
e. Kateterisasi jantung


E. PATHWAYS












F. PENGKAJIAN
1. Pengkajian Primer
a. Airway
- Bagaimana kepatenan jalan nafas
- Apakah ada sumbatan / penumpukan sekret di jalan nafas?
- Bagaimana bunyi nafasnya, apakah ada bunyi nafas tambahan?

b. Breathing
- Bagaimana pola nafasnya ? Frekuensinya? Kedalaman dan iramanya?
- Aapakah menggunakan otot bantu pernafasan?
- Apakah ada bunyi nafas tambahan?
c. Circulation
- Bagaimana dengan nadi perifer dan nadi karotis? Kualitas (isi dan tegangan)
- Bagaimana Capillary refillnya, apakah ada akral dingin, sianosis atau oliguri?
- Apakah ada penurunan kesadaran?
- Bagaimana tanda-tanda vitalnya ? T, S, N, RR, HR?

2. Pengkajian Sekunder
Hal-hal penting yang perlu dikaji lebih jauh pada nyeri dada (koroner) :
a. Lokasi nyeri
Dimana tempat mulainya, penjalarannya (nyeri dada koroner : mulai dari sternal menjalar ke leher, dagu atau bahu sampai lengan kiri bagian ulna)
b. Sifat nyeri
Perasaan penuh, rasa berat seperti kejang, meremas, menusuk, mencekik/rasa terbakar, dll.
c. Ciri rasa nyeri
Derajat nyeri, lamanya, berapa kali timbul dalam jangka waktu tertentu.
d. Kronologis nyeri
Awal timbul nyeri serta perkembangannya secara berurutan
e. Keadaan pada waktu serangan
Apakah timbul pada saat-saat / kondisi tertentu
f. Faktor yang memperkuat / meringankan rasa nyeri misalnya sikap/posisi tubuh, pergerakan, tekanan, dll.
g. Gejala lain yang mungkin ada atau tidaknya hubungan dengan nyeri dada.

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan kenyamanan nyeri (nyeri akut) b.d iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri, inflamasi jaringan
2. Perubahan perfusi jaringan (otot jantung) b.d penurunan aliran darah
3. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan metabolisme jaringan

H. INTERVENSI KEPERAWATAN
Prinsip-prinsip Tindakan :
1. Tirah baring (bedrest) dengan posisi fowler / semi fowler
2. Melakukan EKG 12 lead kalau perlu 24 lead
3. Mengobservasi tanda-tanda vital
4. Kolaborasi pemberian O2 dan pemberian obat-obat analgesik, penenang, nitrogliserin, Calcium antagonis dan observasi efek samping obat.
5. Memasang infus dan memberi ketenangan pada klien
6. Mengambil sampel darah
7. Mengurangi rangsang lingkungan
8. Bersikap tenang dalam bekerja
9. Mengobservasi tanda-tanda komplikasi


DAFTAR PUSTAKA

1. Abdurrahman, N, Anamnesa dan pemeriksaan Jasmani Sistem Kardiovaskuler dalam IPD Jilid I, Jakarta: FKUI, 1999.
2. Doenges, Marilynn E,Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC, 2000.
3. Himawan, Buku Kuliah Gangguan Sistem Kardiovaskuler,1994.
4. Hudak&Gallo, Keperawatan Kritis cetakan I, Jakarta : EGC, 1995

Asuhan Keperawatan Kanker Rektum

ASUHAN KEPERAWATAN KANKER REKTUM
(CA REKTI)


A. Pengertian
Tumor adalah gembung bengkak sebagai akibat radang, cidera, neoplasma, oedema (Ramali, 2000).
Tumor adalah massa padat, besar, meninggi dan berukuran lebih dari 2 cm (Corwin, 2000).
Tumor merupakan pertumbuhan sel-sel baru (neoplasma), dimana pembelahan sel atau mitosis tidak terkendali oleh tubuh dan tidak memiliki fungsi yang berguna bagi tubuh (Handerson, 1997).
Tumor adalah sel tubuh yang mengalami perubahan (transformasi), sehingga sifat dan kinetiknya berubah sehingga tumbuhnya menjadi autonom liar, tidak terkendali dan terlepas dari koordinasi pertumbuhan normal (Sukardja, 2000).
Menurut Ramali (2000) rectum adalah ujung usus besar sebagai lanjutan usus besar sigmoid (colon sigmoideum) sampai ke dubur.
Menurut Ramali (2000) biopsy adalah pengambilan jaringan dari penderita saraf bedah untuk pemeriksaan mikroskopik.
Menurut Ramali (2000) post berarti awalan yang berarti sesudah, kemudian.
Menurut Sjamsuhidajat (1997) menyatakan kolostomi adalah merupakan kolokutaneostomi yang disebut juga anus preternaturalis yang dibuat untuk sementara atau menetap.
Menurut Ramali (2000) colostomy adalah pembuatan mulut colon antefisial melalui pembedahan dengan menjahitkan dinding usus besar kepada dinding depan perut lalu menorehnya.
Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa Colostomy Post Biopsy Tumor Rectum adalah suatu pembuatan colon antefisial melalui pembedahan dengan menjahitkan dinding usus besar kepada dinding depan perut lalu menorehnya dengan indikasi dilakukannya pengambilan jaringan massa padat besar lebih dari 2 cm di daerah poros usus untuk pemeriksaan mikroskopik.

B. Etiologi
Menurut Sabiston (1995) mengatakan penyebab tumor sulit diketahui. Faktor yang mendukung adanya genetika usia, jenis kelamin, respon kekebalan, virus.
Menurut Ester (2001) mengatakan faktor-faktor pencetusnya adalah hereditas, masukan lemak, penyakit inflamasi usus dan homoseksualitas.
Menurut Sukardja (2000) faktor yang mempengaruhi kecepatan tumbuh tumor adalah:
1. Faktor penderita
a. Umur
Pada anak-anak tumbuh dengan cepat
b. Jenis Kelamin
Beberapa jenis tumor pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon.
c. Penyakit
Beberapa penyakit tertentu dapat mempengaruhi kecepatan tumbuh tumor seperti pada diabetes.
2. Faktor tumor
a. Jenis tumor
Jenis tumor umumnya disebut berdasarkan nama organ tempat tumor itu pertama kali tumbuh.
b. Asal sel tumor
Asal sel dapat dari jaringan epitel, jaringan mesenchim, jaringan embrional atau campuran.
c. Sifat tumor
1) Tumor jinak : Tumbuh pelan-pelan dalam waktu tahunan.
2) Tumor insitu : Umumnya tumbuh dengan pelan sampai mencapai stadium invasif.
3) Tumor ganas : Tumbuh dengan cepat dalam waktu bulanan.
4) Tumor yang sifatnya tidak tentu atau tidak jelas.
d. Derajat kegawatan/keganasan
Derajat I : - Derajat keganasan rendah
- Kanker tumbuh pelan-pelan
- Waktu tahunan dan lambat mengadakan metastase
Derajat II : - Derajat keganasan sedang
- Kecepatan tumbuh biasa-biasa saja, antara kecepatan pada derajat keganasan rendah dan tinggi dalam waktu bulanan.
Derajat III : - Derajat keganasan tinggi
- Kanker tumbuh cepat dalam waktu mingguan atau bulanan dan cepat mengadakan metastase
3. Faktor lingkungan
a. Ruang tempat tumbuh
Dibatasi oleh barier alamiah tumbuh seperti fascia, periosteum, rongga tubuh dan sebagainya yang akan membatasi besar dan kepadatan jaringan.
b. Pasokan darah
Tumor masih cukup mendapat makanan dari perfusi darah normal yang telah ada bila tumor tumbuh dengan cepat dan telah besar dan memerlukan pembuluh darah terdiri untuk memasok makanan, oksigen dan membuang sampahnya.
c. Penyakit-penyakit tertentu
Pada penyakit-penyakit tertentu seperti diabetes.
(Sukardja, 2000, hal 79 – 82)

C. Patofisiologi
Secara klinik tumor dibedakan atas golongan neoplasma misalnya kista, radang atau hipertropi. Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak, neoplasma atau kanker terjadi karena timbul dan berkembangbiaknya jaringan sekitarnya (infiltratif) sambil merusaknya (destruktif) dapat menyebar ke bagian lain tubuh. Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi membesar dan menekan jaringan sekitarnya (ekspansi) dan umumnya tidak bermetastasis.
Kira-kira 60% sampai dengan 70% tumor terjadi pada rectum, area rektosigmoid atau kolonsigmoid. Tipe pertumbuhan tergantung pada daerah asal, karsinoma di sisi kiri cenderung tumbuh mengitari usus, mengelilinginya dan menimbulkan massa bulk, polipoid dan berjamur. Mayoritas kanker ini adalah adenokarsinoma, tipe lain masuk menembus usus dan menyebabkan abses, peritonitis, invasi organ sekitarnya dan perdarahan. Tumor-tumor ini cenderung tumbuh dengan lambat dan tetap asimtomatik untuk periode waktu yang lama (Ester, 2000, hal 134).
Tumor rectum memerlukan reseksi abdominal-perineal, dengan pembentukan kolostomi permanen atau ujung kolostomi kolon yang terkena dan seluruh rectum dieksisi dan anus ditutup. Teknik pembedahan terbaru memungkinkan tumor sigmoid diangkat dengan meninggalkan sfingter utuh, ini memungkinkan eliminasi usus dipertahankan (Engram, 1998, hal 136).






D. Pathways Keperawatan






















E. Manifestasi Klinik dan Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sukardja (2000) keadaan umum dan penampilan penderita umumnya baik. Keluhan penderita dengan tumor non neoplasma dapat berupa:
1. Tumor
2. Tekanan atau desakan oleh tumor
3. Obstruksi saluran tubuh
4. Perdarahan
5. Gangguan hormon
Menurut Ester (2000) manifestasi klinik tumor rectum adalah:
1. Konstipasi
2. Diare
3. Melena
4. Kelemahan fisik
5. Malaise
6. Penurunan berat badan
Sedangkan pemeriksaan penunjang pada tumor rectum menurut Sukardja (2000) adalah:
1. Pemeriksaan makroskopik
2. Pemeriksaan histologik
3. Biopsy
4. Pemeriksaan darah tepi
5. Pemeriksaan hormon dan enzim
6. Pemeriksaan sitologi
F. Fokus Keperawatan
1. Data dasar pengkajian pasien menurut Doengoes (1999, hal 997 – 999) adalah:
a. Aktivitas/istirahat
Gejala:
1) Kelemahan atau keletihan
2) Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur.
b. Sirkulasi
Gejala:
1) Palpitasi, nyeri dada pada pergerakan kerja
2) Perubahan pada tekanan darah
c. Integritas ego
Gejala:
1) Faktor stress dan cara mengatasi stress
2) Masalah tentang perubahan dalam penampilan
3) Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya
Tanda:
Menyangkal, menarik diri, marah
d. Eliminasi
Gejala:
1) Perubahan pada pola defekasi
2) Perubahan eliminasi urinarius
Tanda:
Perubahan pada bising usus, distensi abdomen
e. Makanan/cairan
Gejala:
1) Kebiasaan diit buruk
2) Anoreksia
3) Intoleransi aktivitas
4) Perubahan pada berat badan
Tanda:
Perubahan pada kelembaban/turgor kulit, oedema
f. Neurosensori
Gejala:
Pusing, sinkope
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala:
Tidak ada nyeri atau derajat bervariasi
h. Pernapasan
Gejala:
Merokok
i. Keamanan
Gejala:
1) Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen
2) Pemajanan matahari lama
Tanda:
1) Demam
2) Ruam kulit, ulserasi
j. Seksualitas
Gejala:
1) Masalah seksual
2) Pasangan seks multiple
k. Interaksi sosial
Gejala:
1) Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
2) Riwayat perkawinan
l. Penyuluhan/pembelajaran
1) Riwayat kanker pada keluarga
2) Riwayat pengobatan
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien Colostomy Post Biopsy Tumor Rectum, penulis mengambil literatur diagnosa keperawatan Doengoes (2000) maka diagnosa aktual dan potensial yang mungkin muncul adalah sebagai berikut:
a. Nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit.
c. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.
d. Kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
3. Perencanaan Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan
Tujuan : Melaporkan nyeri berkurang/terkontrol, menunjukkan ekspresi wajah rileks.
Rencana tindakan :
1) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, intensitas (skala 0 – 10)
Rasional : Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. Perubahan pada karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya infeksi, memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi.
2) Berikan tindakan kenyamanan
Rasional : Meningkatkan relaksasi, menurunkan ketegangan otot dan kelelahan umum.
3) Ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif
Rasional : Gerakan dan latihan menurunkan kekakuan sendi dan kelelahan otot.
4) Motivasi ekspresikan perasaan nyeri
Rasional : Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan interupsi mekanis pada kulit
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka.
Rencana tindakan :
1) Berikan penguatan balutan awal/penggantian sesuai indikasi
Rasional : Lindungi luka dari perlukaan mekanis dan kontaminasi.
2) Lepaskan perekat (sesuai arah rambut) dan pembalut pada waktu mengganti
Rasional : Mengurangi resiko trauma kulit dan gangguan pada luka.
3) Gunakan perekat yang halus untuk menutup luka yang membutuhkan pergantian balutan yang sering
Rasional : Menurunkan resiko terjadinya trauma kulit dan memberikan perlindungan tambahan untuk kulit atau jaringan halus.
4) Kaji jumlah dan karakteristik cairan luka
Rasional : Menurunnya cairan menandakan adanya evolusi dari proses penyembuhan.
c. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
Tujuan : Menunjukkan keinginan berpartisipasi dalam aktivitas, mampu melakukan aktivitas.
Rencana tindakan :
1) Motivasi partisipasi pasien dalam aktivitas sesuai kemampuan individu
Rasional : Meningkatkan kemandirian.
2) Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh ketidaknyamanan
Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri tentang keterbatasan fisik, memerlukan intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
3) Bantu pasien dalam rentang gerak aktif/pasif
Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot untuk meningkatkan tonus otot.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan/kulit yang rusak
Tujuan : Mengidentifikasi faktor resiko dan intervensi untuk mengurangi potensial infeksi.
Rencana tindakan :
1) Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan pernapasan cepat
Rasional : Pasien yang mengalami pembedahan beresiko untuk syok bedah atau septik sehubungan dengan manipulasi/ instrumentasi.
2) Lakukan pencucian tangan dan perawatan luka aseptik
Rasional : Menurunkan resiko penyebaran infeksi.
3) Observasi daerah luka operasi
Rasional : Adanya luka meningkatkan resiko untuk infeksi yang diindikasikan dengan eritema.
4) Ganti balutan dengan sering membersihkan dan mengeringkan kulit
Rasional : Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan media untuk pertumbuhan bakteri.
5) Berikan antibiotik
Rasional : Mungkin diberikan secara provilaktif atau menurunkan jumlah organisme untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya.
e. Kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
Tujuan : Mengatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan, melakukan pola hidup dan berpartisipasi pada program pengobatan.
Rencana tindakan :
1) Kaji proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan datang
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
2) Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi dan pemasukan cairan yang adekuat
Rasional : Memberikan nutrisi optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk meningkatkan regenerasi jaringan/proses penyembuhan.
3) Tinjau ulang untuk menunjukkan perawatan luka/balutan
Rasional : Meningkatkan kompetensi perawatan diri dan meningkatkan kemandirian.

4) Rekomendasi rencana/latihan progresif
Rasional : Meningkatkan pengembalian ke fungsi normal dan meningkatkan perasaan sehat.

Asuhan Keperawatan Benigna Prostat Hipertropi ( BPH )

ASUHAN KEPERAWATAN BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI


Konsep Dasar

1. Pengertian
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ).
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius ( Marilynn, E.D, 2000 : 671 ).

1. Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain :
1). Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron
Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
3). Interaksi stroma - epitel
Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.
4). Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.
5). Teori sel stem
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit ( Roger Kirby, 1994 : 38 ).
Patofisiologi
Peningkatan Sel Sterm Peningkatan 5 Alfa reduktase Proses Menua Interaksi Sel Epitel dan Stroma Berkurangnya sel yang mati
dan reseptor endogen

Ketidakseimbangan hormon
( Estrogen dan testoteron )




Penyempitan Lumen Ureter Protatika


Menghambat Aliran Urina
Retensi Urina Peningkata tekanan intra vesikal


Hidro Ureter Hiperirritable pada bladder

Hidronefritis Peningkatan Kontraksi Otot detrusor dari buli-buli

Penurunanan Hipertropi Otot detrusor,trabekulasi
Fungsi ginjal
Terbentuknya Sekula-sekula dan difertikel buli-buli

Frekuensi Intermiten Disuria Urgensi Hesistensi Terminal dribling
4. Gejala Benigne Prostat Hyperplasia
Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :

1. Gejala Obstruktif yaitu :
a. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.
b. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.
c. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
d. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.
e. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.
2. Gejala Iritasi yaitu :
a. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
b. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.
c. Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

2. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain
1). Anamnesa
Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi dan gejala iritatif dapat berupa urgensi, frekuensi serta disuria.
2) Pemeriksaan Fisik
Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik.
Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin.
Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis.
Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis
Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat. Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
a). Derajat I = beratnya  20 gram.
b). Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram.
c). Derajat III = beratnya  40 gram.
3) Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien.
Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan.

4) Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan penilaian :
a). Flow rate maksimal  15 ml / dtk = non obstruktif.
b). Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
c). Flow rate maksimal  10 ml / dtk = obstruktif.
5) Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
a). BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang.
b). USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan supra pubik.
c). IVP (Pyelografi Intravena)
Digunakan untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan adanya hidronefrosis.
d) Pemeriksaan Panendoskop
Untuk mengetahui keadaan uretra dan buli – buli.

3. Penatalaksanaan
Modalitas terapi BPH adalah :
1). Observasi
Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien
2). Medikamentosa
Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan, sedang, dan berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal dari: phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker dan golongan supresor androgen.
3). Pembedahan
Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
a). Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut.
b). Klien dengan residual urin  100 ml.
c). Klien dengan penyulit.
d). Terapi medikamentosa tidak berhasil.
e). Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.
Pembedahan dapat dilakukan dengan :
a). TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat  90 - 95 % )
b). Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy
c). Perianal Prostatectomy
d). Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy
4). Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi, Terapi Ultrasonik .

B. Diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah sebagai berikut :
Pre Operasi :
1). Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat.
2). Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.
3). Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis..
4). Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah
5). Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi
Post Operasi :
1) Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
3) Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan
4) Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.
5) Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
6) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan

B. Perencanaan
1. Sebelum Operasi
a. Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik, pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk berkontraksi secara adekuat.
1) Tujuan : tidak terjadi obstruksi
3) Kriteria hasil :
Berkemih dalam jumlah yang cukup, tidak teraba distensi kandung kemih
4) Rencana tindakan dan rasional
1. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.
R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih
2. Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urina
R / Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi
3. Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih
R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal
4. Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung.
R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal ,kandung kemih dari pertumbuhan bakteri
5. Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik)
R/ mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan

b. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.
1). Tujuan
Nyeri hilang / terkontrol.
2). Kriteria hasil
Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu. Tampak rileks, tidur / istirahat dengan tepat.
3). Rencana tindakan dan rasional
a) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 0 - 10 ).
R / Nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli, yang cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ).
b) Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan.
R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, menurunkan resiko distensi / spasme buli - buli.
c). Pertahankan tirah baring bila diindikasikan
R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut.
d) Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik, pengubahan posisi, pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik.
R / Menurunkan tegangan otot, memfokusksn kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
f) Berikan rendam duduk atau lampu penghangat bila diindikasikan.
R/ Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema serta meningkatkan penyembuhan ( pendekatan perineal ).
f) Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik
R / Menghilangkan spasme

c. Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis.
1). Tujuan
Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.
2). Kriteria hasil
Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian perifer baik, membran mukosa lembab dan keluaran urin tepat.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan keluaran 100-200 ml/.
R/ Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal.
b). Pantau masukan dan haluaran cairan.
R/ Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian.
c). Awasi tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat,
R/ Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik
d). Tingkatkan tirah baring dengan kepala lebih tinggi
R/ Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi.
g). Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, contoh:
Hb / Ht, jumlah sel darah merah. Pemeriksaan koagulasi, jumlah trombosi
R/ Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan penggantian. Serta dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktor pembekuan darah,

d. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah.
1). Tujuan
Pasien tampak rileks.
2). Kriteria hasil
Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi, menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya
R/ Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu
b). Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.
R / Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan.
c). Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan.
R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah

e. Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi
1). Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya.
2). Kriteria hasil
Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu, berpartisipasi dalam program pengobatan.
3). Rencana tindakan dan rasional
a). Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian.
R / Membantu pasien dalam mengalami perasaan.
b) Kaji ulang proses penyakit,pengalaman pasien
R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi.

II. Sesudah operasi

1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P
Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil :
- Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.
- Ekspresi wajah klien tenang.
- Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi.
- Klien akan tidur / istirahat dengan tepat.
- Tanda – tanda vital dalam batas normal.
Rencana tindakan :
1. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih.
R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih.
2. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam, untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih.
R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan
3. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam.
R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.
4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter.
R/ Mengurang kemungkinan spasmus.
5. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P.
R / Mengurangi tekanan pada luka insisi
6. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi.
R / Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
7. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang.
R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme.
8. Observasi tanda – tanda vital
R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut.
9. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik )
R / Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih.

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi .
Kriteria hasil:
- Klien tidak mengalami infeksi.
- Dapat mencapai waktu penyembuhan.
- Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock.
Rencana tindakan:
1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan steril.
R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi
2. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.
R/ . Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal.
3. Pertahankan posisi urobag dibawah.
R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih.
4. Observasi tanda – tanda vital, laporkan tanda – tanda shock dan demam.
R/ Mencegah sebelum terjadi shock.
5. Observasi urine: warna, jumlah, bau.
R/ Mengidentifikasi adanya infeksi.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.
R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan.
3. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan .
Tujuan: Tidak terjadi perdarahan.
Kriteria hasil:
- Klien tidak menunjukkan tanda – tanda perdarahan .
- Tanda – tanda vital dalam batas normal .
- Urine lancar lewat kateter .
Rencana tindakan:
1. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda – tanda perdarahan .
R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda – tanda perdarahan
2. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter
R/ Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih
3. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi .
R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan .
4. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah, untuk sekurang – kurangnya satu minggu .
R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat .
5. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas .
R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan .
6. Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam,masukan dan haluaran dan warna urine
R/ Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen .

4. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.
Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan
Kriteria hasil:
- Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun .
- Klien menyatakan pemahaman situasi individual .
- Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah .
- Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual.
Rencana tindakan :
1 . Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual .
R/ Untuk mengetahui masalah klien .
2 . Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dan kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)
R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual
3 . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi .
R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan
4 . Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan .
R / Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik.
5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .

Kriteria hasil:
- Klien akan melakukan perubahan perilaku.
- Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.
- Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan .
Rencana tindakan:
1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu .
R/ Dapat menimbulkan perdarahan .
2. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.
R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB
3. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.
R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah .
4. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.
R/. Untuk menjamin tidak ada komplikasi .
5. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh .
R/ Untuk membantu proses penyembuhan .

6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan
Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi.
Kriteria hasil:
- Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.
- Klien mengungkapan sudah bisa tidur .
- Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .
Rencana tindakan:
1. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.
R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan .
2. Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan .
R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat
3. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.
R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).
R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup .


DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.

Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

Photobucket