Kamis, 22 Desember 2011

Askep Batu Saluran Kencing

ASUHAN KEPERAWATAN BATU SALURAN KENCING


1. Pengertian
Adanya batu (kalkuli) pada saluran perkemihan dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih yang terdiri dari; yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat, asam urat dan magnesium.
Batu dapat menyebabkan obstruksi,infeksi atau oedema pada saluran perkemihan, kira-kira 75% dari semua batu yang terbentuk terdiri atas; kalsium
Faktor resiko batu ginjal meliputi;stasis perkemihan,infeksi saluran perkemihan, hiperparatiroidismempenyakit infeksi usus, gout, intake kalsium dan vit D berlebih, immobilitas lama dan dehidrasi.
2. Faktor –faktor yang mempengaruhgi pembentukan batu;
a. Faktor Endogen
Faktor genetik,familial pada hypersistinuria,hiperkalsiuria dan hiperoksalouria
b. Faktor Eksogen
Faktor lingkungan,pekerjaan,makanan,infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum
3. Faktor lain;
a. Infeksi
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing . Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.
b. Stasis dan Obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah infeksi saluran kencing.
c. Jenis kelamin
Pria lebih banyak daripada wanita
d. Ras
Batu saluran kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia.
e.Keturunan
Annggota keluarga batu saluran kencing lebih banyak mempunyai kesempatan.
f. Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu ,sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat
g. Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu daripada pekerja yang lebih banyak duduk.
h.Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat
i. Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas BSk berkurang .Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita BSK ( buli-buli dan Urethra )

4. Patogenesis
Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik,bersifat simptomatik ataupun asimptomatik.
5. Teori terbentuknya batu
a. Teori Intimatriks
Terbentuknya BSK. memerlukan adanya substansi organik sebagai inti .Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoproptein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu.
b. Teori Supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti; sistin,santin,asam urat,kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c. Teori Presipitasi-Kristaliasi
Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substasi dalam urine .Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin,santin,asam dan garam urat,urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat..
d. Teori Berkurangnya faktor penghambat
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfatpolifosfat, sitrat magnesium.asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya BSK.
6. Pemeriksaan Diagnostik.
a. Urinalisa; warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum menunjukan SDM, SDP, kristal ( sistin,asam urat,kalsium oksalat), ph asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali ( meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin, asam urat kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan ISK, BUN/kreatinin serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
b. Darah lengkap: Hb,Ht,abnormal bila psien dehidrasi berat atau polisitemia.
c. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal ( PTH. Merangsang reabsobsi kalsiumm dari tulang, meningkatkan sirkulasi s\erum dan kalsium urine.
d. Foto Rntgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang urewter.
e. IVP.: memberukan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri,abdominal atau panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
f. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau efek obstruksi.
g. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu. :
7. Penatalaksanaan;
a. Menghilangkan obstruksi
b. Mengobati infeksi
c. Menghilangkan rasa nyeri.
d. Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi
8. Komplikasi:
a.Infeksi
b.Obstruksi
c.Hidronephrosis.
9. Asuhan Keperawatan
A.Pengkajian Data Dasar Pada Pasien Dengan Batu Saluran Kencing
1) Aktivitas/istrirahat
Kaji tentang pekerjaan yang monoton,lingkungan pekerjaan apakah pasien terpapar suhu tinnggi,keterbatasan aktivitas ,misalnya karena penyakit yang kronis atau adanya cedera pada medulla Spinalis.
2) Sirkulasi
Kaji terjadinya peningkatan tekanan Darah/Nadi, yang disebabkan ;nyeri,ansietas atau gagal ginjal.Daerah ferifer apakah teraba hangat(kulit) merah atau pucat.
3) Eliminasi
Kaji adanya riwayat ISK kronis.obstruksi sebelumnya(kalkulus)
Penurunan haluaran urinr, kandung kemih penuh, rasa terbekar saat BAK. Keinginan /dorongan ingin berkemih terus, oliguria, haematuria, piuri atau perubahan pola berkemih.
4) Makanan / cairan;
Kaji adanya mual, muntah, nyeri tekan abdomen, diit tinggi purin, kalsium oksalat atau fosfat, atau ketidak cukupan pemasukan cairan tidak cukup minum, terjadi distensi abdominal, penurunan bising usus.
5) Nyeri/kenyamanan
Kaji episode akut nyeri berat, nyeri kolik.lokasi tergantung pada lokasi batu misalnya pada panggul di regio sudut kostovertebral dapat menyebar ke punggung, abdomen, dan turun ke lipat paha’genetalia, nyeri dangkal konstan menunjukan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal. Nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain, nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi .
6) Keamanan
Kaji terhadap penggunaan alkohol perlindungan saat demam atau menggigil.
7)  Riwayat Penyakit :
Kaji adanya riwayat batu saluran kemih pada keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis, riwayat penyakit, usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme, penggunaan antibiotika, anti hipertensi, natrium bikarbonat, alupurinol, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin D.
8) Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah ;
1) Nyeri akut b/d peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi uroteral,trauma jaringan, pembentukan oedema, iskemia seluler.
2) Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral, inflamsi atau obstruksi mekanik.
3) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d mual muntal, diuresis paska obstruksi.
4) Kurang pengetahuan tentang diet, kebutuhan pengobatan b/d tidak mengenal sumber informasi.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO. Diagnosa Keperawatan
Tujuan-Kriteria yang diharapkan Intervensi Rasional
1. Nyeri akut b/d peningkatan frekuensi /dorongan kontraksi ureteral,trauma jaringan,pembentukan edema,iskemia seluler. Nyeri hilang dengan spasme terkontrol.

Kriteria ;
- Pasien tampak rileks.
- Pasien mampu tidur/istirahat dengan tenang
- Tidak gelisah,tidak merintih Catat lokasi,lamanya intensitas,penyebaran,perhatikan tanda-tanda non verbal,misalnya merintih,mengaduh dan gelisahansietas.
Jel askan penyebab nyeri dan perubahan karakteristik nyeri.



Berikan tindakan nyaman,misalnya pijatan punggung,ciptakan lingkungan yang tenang.
Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus
Bantu dengan ambulasi sering s/d indikasi tingkatkan pemasukan cairan sedikitnya 3-4 lt/hariatau s/d indikasi.
Perhatikan keluhanpeningkatan/menetapnya nyeri abdomen.
Berikan kompres hangat pada punggung
.
KOLABORASI:
Berikan obat sesuai dengan indikasi
- Narkotik
-
- Antispasmodik


- Kortikosteroid


Pertahankan patensi kateter bila digunakan. Evaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus




Membantu dalam meningkatkan kemampuan koping pasien serta menurunkan ansietas

Meningkatkan relaksasi,menurunkan tegangan otot,



Mengarahkan kembali perhatiandan membantu dalam relaksasi otot.
Meningkatkan lewatnya batu,mencegah stasis urine,mencegah pembentukan batu selanjutnya.


Obstruksi lengkap ureter dpt.menyebabkab ferforasi,dan ekstravasasi urine ke dalam area perirenal.




Dipakai selama episode akut,untuk menurunkan kolik ureter dan relaksasi otot.
.Menurunkan refleks spasme shg. Mengurangi nyeri dan kolik.
Menurunkan edema jaringan ,shg. Membantu gerakan batu.
Mencegah stasis urine,menurunkan resiko peningkatan tekanan ginjal dan infeksi.
.
2. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu,iritasi ginjal,atau ureter,obstruksi mekanik atau inflamsi. Perubahan eliminasi urine tidak terjadi

Kriteria :
- Haematuria tidak ada.
- Piuria tidak terjadi
- Rasa terbakar tidak ada.
- Dorongan ingin berkemih terus berkurangi. Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine

Tentukan pola berkemih normal.



Dorong meningkatkan pemasukan cairan

Catat adanya pengeluaran dalam urinek/p kirim ke lab untuk dianalisa.
Observasi keluhan kandung kemih,palpasi dan perhatikan output,dan edema.
Obserevasi perubahan status mental.,prilaku atau tingkat kesadaran.

Kolaborasi ;
Monitoring pem.Lab,BUN.kreatinin

Ambil urine untuk kultur dan sensitivitas
Berikan obat sesuai dgn program;
- diamox, alupurinol

- Esidrix, Higroton

- Amonium Klorida,Kalium,,atau Natrium,fosfat,.

- Agen antigon, (Ziloprim)


- Antibiotik

- Nabic

- Asam Askorbat

- Pertahankan patensi kateter.

Irigasi dgn. Asam atau larutan alkalin. Evaluasi fungsi ginjal dgn.memerhatikan tanda-tanda komplikasimisalnya infeksi,atau perdarahan.
Kalkulus dpt.menyebabkan eksitabiliats saraf,yg.menyebabkan kebutuhan sensasi berkemih .segera.
Membilas bakteri,darah.dan debris,membantu lewatnya batu.
Identifikasi tipe batudan alternatif terapi

Retensi urine,menyebabkan distensi jaringan.,potensial resiko infeksi dan GGK.
Ketidakseimbangan elektrolit dpt.menjadi toksik pada SSP.


Peninggian BUN,indikasi disfungsi ginjal.



Evaluasi adanya ISK.atau penyebab komplikasi.



Meningkatkan pH.urine menurunkan pembentukan batu asam.
Mencegah stasis urine

Menurunkan pembentukan batu fosfat



Menurunkan produksi asam urat


Adanya ISK potensuial pembentukan batu.
Mencegah pembentukan beberapa kalkuli.
Mencegah berulangnya pembentukan batu alkalin.
Mencegah retensi,dan komplikasi.
Mengubah pH.urine mencegah pembentukan batu.
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d mual,muntah,diuresis pascaobstruksi. Keseimbangan cairan adekuat

Kriteria :
- Intake dan output seimbang
- Tanda vital stabil (TD 120/80 mmHg. Nadi 60-100, RR16-20, suhu 36.5°-37°C)
- -Membran mukosa lembab
- Turgor kulit baik. Catat insiden muntah, diare, perhatikan karakteristik, dan frekuensi.
Tingkatkan pemasukan cairan
3-4 lt / hari dalam toleransi jantung.

Awasi tanda vital, evaluasi nadi, turgor kulit dan membran mukosa.

Timbang berat badan tiap hari
Kolaborasi:
Awasi Hb,Ht,elektrolit,
Berikan cairan IV

Berikan diet tepat,cairan jernih,makanan lembut s/d toleransi

Berikan obat s/d indikasi antiemetik,(misal compazin )
Mengesampingkan kejadian abdominal lain.



Mempertahankan keseimbangan cairan dan homeostasis.


Penurunan LFG.merangasang produksi renin, yg. Bekerja meningktakan TD.
Peningkatan BB.yang cepat,waspada retensi
Mengkaji hidrasi, kebutuhan intervensdi.

Mempertahankan volume sirkulasi
Mempertahnakan keseimbangan nutruisi.



Menurunkan mual muntah
4. Kurang pengetahuan tentang diet, dan kebutuhan pengobatan Pasien dapat memahami tentang diet,dan program pengobatan

Kriteria :
- Berpartisipasi dalam program pengobatan
- Menjalankan diet Kaji ulang proswes penyakit dan harapan masa datang

Kaji ulang program diet, sesuai dengan indikasi


Diskusikan tentang:
Pemberian diet rtendah purin,(membatasi daging berlemak,kalkun,tumbuhan polong,gandum,alkohol)
Pemberian diet rendah Ca.(membatasi susu,keju,sayur hijau,yogurt.)
Pemberian diet rendah oksalat membatasi konsumsi coklat,minuman kafein,bit,bayam.
Diskusikan program obat-obatan ,hindfari obat yang dijual bebas dan baca labelnya.
Tunjukan perawatan yang tepat thd.insisi/kateter bila ada.  Memberikan pengetahuan dasar,membuat pilihan berdasarkan informasi
Pemahaman diet,memberikan kesempatan untuk memilih sesuai dgn. Informasi,mencegah kekambuhan.
Menurunkan pemasukan oral thd.prekursor asam urat





Menurunkan resikopembentukan batu kalsium.


Menurunkan pembentukan batu oksalat.


Obat yang diberikan untuk mengasamkan urin,atau mengalkalikan,menghindari produk kontraindikasi.
DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Linda Juall (1995) Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan
( terjemahan) PT EGC, Jakarta.

Doenges,et al, (2000). Rencana Asyuhan Keperawatan ( terjemahan),
PT EGC, Jakarta

Soeparman, ( 1990), Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Askep Cidera Kepala

ASUHAN KEPERAWATAN CIDERA KEPALA


A. LATAR BELAKANG
Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok umur produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya ( Mansjoer, 2000 ). Salah satu tindakan pemeriksaan yang penting adalah melalui pemeriksaan tingkat kesadaran dengan skala koma glasgow ( Glasgow Coma Scale ).
Pemeriksaan tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale ( GCS ) merupakan cara praktis untuk dokter dan perawat, karena memiliki kriteria / patokan yang lebih jelas dan sistematis dibanding dengan sistem lama. GCS disamping untuk menetukan tingkat kesadaran, juga berguna untuk menentukan tingkat prognosis suatu penyakit ( Juwono, l996) dan memonitor terjadinya disfungsi neorologis ( Godner, 1995 ). Bahkan Priharjo ( 1996 ) mengatakan bahwa GCS dapat digunakan untuk menilai atau menguji kewaspadaan pasien khususnya pasien yang mengalami cedera berat atau pasien yang mengalami kemunduran kesadaran dengan cepat.
Selama ini staf / pelaksana keperawatan masih dilupakan dalam penilaian / pemeriksaan GCS, padahal kenyataannya tenaga dokter terbatas dan perawat lebih banyak berhubungan dengan pasien, juga perawat masih belum terbiasa melakukan pemeriksaan GCS padahal antara perawat dan dokter perspektifnya berbeda ( Haryono, 1997 ).
Dari hasil studi dokumentasi yang peneliti dapatkan dari bagian rekam medik BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan pasien yang rawat inap selama tahun 2004 sebanyak 10.689 orang, 641 atau 5,99 % masuk dengan gangguan penurunan kesadaran yang disebabkan oleh cidera kepala ringan sampai berat, juga disebabkan oleh cedera vaskuler otak, 30 % nya adalah pasien cidera kepala berat yang hampir 80 % meninggal dunia. Dari pasien yang meninggal catatan keperawatan / dokumentasi keperawatan tidak ada dokumentasi perkembangan tingkat kesadaran dengan menggunakan GCS ( Rina, komunikasi personal, 15 Oktober 2005 ).
Peneliti juga melakukan studi pendahuluan pengetahuan dan sikap perawat terhadap cara pemeriksaan Glasgow Coma Scale yang bekerja di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan di ruang IGD, ruang ICU dan ruang rawat inap medikel bedah dari hasil wawancara dan studi dokumentasi keperawatan antara lain perawat IGD dalam pengakjian pasien yang masuk oleh karena cidera kepala belum dilakukan pemeriksaan GCS, hal ini dilihat dari status pasien yang masuk dari IGD ke ruang ICU pada bulan Mei 2005 dari 2 pasen tidak ada catan pemeriksaan GCS , padahal 90 % lebih pendidikannya adalah D III keperawatan ( Subagio, komunikasi percsonal, 20 Oktober 2005 ).
Di ruang ICU juaga tidak semua perawat melakukan pemantauan tingkat kesadaran pasen dengan menggunakan GCS, padahal dalam blangko monitoring sudah termasuk GCS yang harus di monitor secara berkala.Di ruang rawat medikel bedah pun hampir 100 % perawat dalam pemantauan tikat kesadaran tidak menggunakan GCS ( Zurohrinizak, komunikasi personal, 21 Oktober 2005 ).
Dari hasil wawancara terhadap perawat diantara alasan mengapa tidak melakukan pemeriksaan GCS pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran adalah; tidak tahu cara pemeriksaan GCS, tidak terbiasa melakukan pemeriksaan GCS, menganggap pemeriksaan GCS adalah pekerjaan dokter, melakukan pemeriksaan GCS bila ada perintah dari dokter, pemeriksan GCS sulit, pemeriksaan GCS memerlukan waktu lama, yang intinya perawat belum terbiasa mengngunakan GCS sebagai alat pemeriksaan pasien dengan penurunan kesadaran khususnya dengan cedera kepala ( Titi, komunikasi personal, 20 Oktober 2005 ).
Penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap prilaku yang diimplementasikan dalam praktek keperawatan sangat penting sebagai perwujudan kompetensi perawat sebagai perawat profesional ( PPNI , 1999; 2004 ). Hal ini sebagai perwujudan bahwa perawat menjalankan praktek mandiri dan profesional.
Kenyataan di lapangan dari sumber daya keperawatan yang ada sebetulnya 95 % adalah perawat dengan pendidikan D III keperawatan yang secara teori sudah mendapat konsep / pengetahuan tentang cara pemeriksaan GCS, akan tetapi pengetahuan yang diperoleh belum tercermin dalam sikap dan praktek nyata sebagai perawat yang mandiri dan profesional.
Keadaan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya belum pernah diadakan pelatihan bagi perawat tentang cara pemeriksaan GCS, fasilitas, beban kerja, dan sikap individu perawat dalam praktek pemeriksaan GCS.
Dampak negatif dari pengetahuan, sikap dan praktek yang buruk / jelek akan merugikan image perawat dari masyarakat yang selama ini masih belum baik dan dapat mengurangi kepercayaan pasien terhadap perawat di instansi bekerja. Akan tetapi bila perawat mempunyai pengetahuan, sikap, dan praktek yang baik, profesionalisme dan tidak semata-mata hanya kebiasaan, maka kepercayaan pasien terhadap perawat khususnya dan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap instansi di mana perawat bekerja pada umumnya. Hal ini yang menjadikan peneliti melakukan penelitian sehubungan fenomena di atas.
Selama ini di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan belum pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan sikap perawat cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala. Oleh karena itu peneliti ingin mengidentifikasi bagaimana tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.

B. PERTANYAAN PENELITIAN
“ Adakah hugungan antara tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan ? “
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan perawat mengenai cara
pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
b. Mengidentifikasi sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
c. Mengidentifikasi praktek perawat tentang pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala di BP RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.
d. Menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten pekalongan.
e. Menganalisa hubungan antara sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.

D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1 Bagi Perawat
Memberikan masukan bagi para perawat agar dapat meningkatkan pengetahuan, sikap perawat yang baik cara pemeriksaan GCS dan praktek emeriksaan GCS pada pasien dengan cidera kepala pada khususnya dan dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan pada mumnya.
2. Bagi institusi
Menurunkan angka kematian pasien dengan cidera kepala atau kegagalan perawatan yang disebabkan oleh tidak termonitornya tingkat kesadaran pasien dengan cedera kepala.
3. Bagi peneliti
Menjadi dasar pengetahuan yang nantinya dapat diterapkan dalam praktek klinik serta menjalankan tugas dirumah sakit tempat peneliti bekerja.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Cedera Kepala
1. Pengertian
Cedera kepala adalah trauma yang mengenai kulit kepala, tengkorak, dan otak yang disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tembus ( Mansjoer, 2000; Brunner & Soddarth, 2002 )
Price ( l995 ) Cedera kepala adaalah trauma yang dapat mengakibatkan trauma langsung dan trauma tidak langsung pada otak.
Cedera kepala adalah komplikasi segera setelah trauma biomekanik pada otak, lapisan yang menutupinya atau organ-organ ekstra kranial penopang otak ( Sunaryo, 9189 ).
Cedera kepala paling sering dan penyakit neurologik yang serius di antara penyakit neurologik, dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil dari kecelakaan jalan raya ( Brunner & Suddarth, 2002 ).
Komplikasi paling penting pada cedera kepala adalah proses yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang lebih lanjut, dan ini merupakan proses dinamik. Agar proses dinamik ini tidak berjalanlebih lanjut di mana akan menyebabkan kerusakan neural lebih banyak maka perlu dilakukan pemantauan ketat pada pasien yang mengalami cedera kepala.
Sunaryo ( l989 ) menjelaskan yang perlu diperhatikan dalam pemantauan klinis pasien cedera kepala adalah GCS ( Glasgow Coma Scale ). Pemantauan GCS secara teratur, sangat penting karena bila pada follow-up terjadi penurunan GCS, diduga terjadi proses kerusakan lebih lanjut di dalam otak, dan ini harus dicegah sedini mungkin. Juga GCS dapat digunakan sebagai alat untum menentukan derajat keparahan cedera kepala secara dini ( Mansjoer, 2000 ).

2. Macam-macam / jenis Cedera Kepala
Macam-macam/jenis cedera kepala berdasarkan tingkat keparahannya adalah:
a. Cedera Kepala Ringan ( CKR)
Cedera kepala ringan (CKR) merupakan kelompok risiko rendah, yaitu ditandai dengan : skor GCS antara 13 sampai 15, ( atentif, sadar penuh, dan orientatif), tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi), tidak ada tanda intoksikasi alkohol atau obat terlarang, pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing, pasien dapat menderita : abrasi, laserasi, atau hematoma kulit kepala, tidak ada kriteria cedera kepala sedang-berat.
b. Cedera Kepala Sedang ( CKS )
Cedera Kepala sedang ( CKS ) Merupakan risiko sedang , yang ditandai dengan: skor GCS antara 9 sampai 12 (konfusi, letargi, atau stupor), konkusi, amnesia paska trauma, muntah, tanda kemungkinan fraktur kranium ( tanda Battle, mata rabun ,hemotimpanum, otorea, atau rinorea cairan serebrospinal ), kejang.
c. Cedera Kepala Berat ( CKB )
Cedera kepala berat ( CKB ) merupakan risiko berat, ditandai dengan: skor GCS antara 3 sampai 8 ( koma ), penurunan derajat kesadaran secara progresif, tanda neurologis fokal, cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium.

3. Penanganan Cedera kepala
Pedoman penanganan, resusitasi dan penilaian awal pada pasien cedera kepala adalah:
a. Menialai jalan napas ( Air Way Control ) dengan membersihkan jalan napas dari debris dan muntahan, lepaskan gigi palsu,pemasangan kolar sevikal, pasang oropangeal atau nasoparengeal, dan bila perlu lakukan intubasi.
b. Menilai pernapasan ( Breathing Support ) dengan cara menentukan pakah pasien napas denga spontan atau tidak, jika tidak lakukan oksigenasi. Jika napas spontan nilai dan atasi adanya cedera thorak berat seperti; pneumothorsks, pneumothorak tensif, dan hemopneumotoraks.
c. Menilai sirkulasi ( Circulation Support ) , otak yang rusak tidak mentoliler hopotensi , dengan cara hentikan perdarahan , perhatikan secara khusus adanya perdarahn dada atau abdomen , pasang jalur intravena untuk pemberian cairan pada vena besar, pantau tanda-tanda syok.
Sedangkan penanganan cedera kepala sesua derajat keparahan pasien cedera kepala adalah:
a. Cedera Kepala ringan.
Pasien dengan cedera kepala sedang pada umumnya dapat dipulangkan kerumah tanpa perlu pemeriksaan CT-Scan bila memenuhi kriteria sebagai berikut: hasil pemeriksaan neurologis (terutamastatus mini mental dan gaya berjalan ) dalam batas normal, foto sevikal tidak ada tanda patah tulang, ada orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasie selam 24 jam pertama, dengan intruksi segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala perburukan.

b. Cedera kepala sedang.
Pasien yang mengalami konkusi otak ( komosio otak), dengan GCS 15 dan hasil CT-Scan normal, tidak perlu dirawat. Pasien dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat keluhan nyeri kepala, mual, muntah, pusing, atau amnesia.

c. Cedera kepala berat.
Pasien denga cedera kepala berat, setelah penilaian awal dan stabilisasi tanda vital, keputusan segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah saraf ( hematoma intrakranial besar ).Jika ada indikasi segera laporkan atau konsultasikan ke bedah saraf untuk tindakan operasi..
B. Glasgow Coma Scale ( GCS )
1. Pengertian
Brunner & Suddarth ( 2002 ) CGS adalah skala untuk mengkaji tingkat kesadaran berdasarkan tiga kriteria; membuka mata, respon verbal, dan respons motorik terhadap perintah verbal atau stimulus nyeri.
GCS adalah skala untuk mengetahui perkembangan tingkat kesadaran dengan menilai respons dengan stimulus verbal dan nyeri pada membukan mata, respons verbal, dan respon motorik ( Lumbantobing, 2000 ).
Price ( l995 ), GCS adalah skala yang lebih paling luas dipakai dalam penilaia kesadaran penderita dan reaksinya terhadap rangsang.
GCS adalah pengkajian yang sangat bernilai untuk memonitor disfungsi neurologi yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran dan kewaspadaan pasien,khususnya pada pasien yang mengalami cidera berat atau pasien yang diperkirakan akan mengalami kemunduran kesadaran dengan cepat ( Priharjo,1996 ; Goddner,l995 ).
2. Cara Pemeriksaan GCS
Teasdale dan Jennet , (1974) , pertama kali memperkenalkan cara pemeriksaan tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma Scale ( GCS ) pada pasien trauma kepala atau penderita penunan kesadaran yang disesbabkan oleh nontraumatik ( Bates ,1977 ).
GCS memberikan tiga bidang fungsi neurologik,memberikan gambaran tingkat responsif pasien dan dapat digunakan dalam pencarian yang luas pada saat mengevaluasi status neurologik pada pasien yang mengalami cidera kepala, yaitu dengan mengevaluasi tiga elemen ; respon membuka mata,espon verbal dan respon motorik.( Brunner dan Suddarth, 2002 )
Parameter/indikasi yang dinilai pada pemeriksaan Glasgow Coma Scale dari respon membuka mata, respon verbal dan respon motorik dibagi menjadi tingkat/nilai yang berbeda dan respon yang baik yang ditunjukkan pasien terhadap stimulis/rangsangan yang ditentukan sebelumnya. Masing-masing respon diberikan angka/nilai ( Goodner, 1995;Priharjo, 1996; Brunner dan Suddarth, 2002).
Sedangkan cara memeriksa dan menghitang GCS adalag sebaga berikut:
a. Membeka Mata ( E )
- Seseorang dengan trauma kepala dapat membuka mata spontan diberi nilai 4;
- penderiata menutup mata tetapi dapat diperintah secara verbal untuk membuka matanya diberi nilai 3;
- Penderita secara verbal disuruh membuka mata tidak bisa, tetapi dengan rangsang nyeri/sakit yyaitu menekan nervus supra optikus dan ujung kuku jari tangan , penderita masih bisa membuka mata diberi nilai 2;
- Bila dengan rangsang nyeri/sakit penderita tidak bisa membuka matang diberi nilai 1.
b. Respons Verbal ( V ).
- Bila penderita titanya sesuatu mengenai waktu dan tempat dapat memberikan jawaban benar, nilainya 5;
- Penderita ditanya tentang tempat tetapi tidak bisa menjawab dengan benar, misalnya di mana dia berada, atau ditanya waktu tidak menjawab sebenarnya, misalnya ditanta saat ini siang atau malam, ia menjawab siang padah malam atau sebaliknya ( disorintasi waktu dan tempay, nilainya 4;
- Penderita ditanya sesuatu, misalnya ditanya dimana dia berada, ia menjawab akan makan atau mengomel ( inapropriate answer ), nilainya 3;
- Penderita ditanya secara vebal tidak memberikan jawaban dan diberi kan rangsangan nyeri/sakit ia hanya mengerang, nilainya 2;
- Bila dengan rangsang nyeri/sakitpun tidak memberikan jawaban, nilainya l.
c. Respon Motorik ( M ).
- Bila penderita mengikuti perintah secara verbal sesuai yang diperintahkan oleh pemeriksa, misalnya penderita disuruh mengangkat tangan kanannya, menggerakkan jari telunjuk kirinya, dapat menjalankan perintah secara benar, nilainya 6;
- Dengan perintah secara oral penerita tidak dapat melaksanakannya, dengan rangsang sakit pada supra orbita paenderita berusaha menghindari penyebab sakit/nyeri dengan mengangkat tangannya melebihi bahu kearah rangsang nyeri, nilainya 5
- Dengan rangsang nyeri, misalnya dengan menekan pangkal kuku, penderita hanya menarik tangan tetapi tidak berusaha menghindar penyebab sakit dengan tangannya yang lain, nilainya 4;
- Dengan rangsang nyeri timbul gejala dekortikasi, nilainya 3;
- Dengan rangsang nyeri timbul gejala deserebrasi, nilainya 2;
- Dengan rangsang nyeri tidak timbul reaksi apapun, nilainya 1.
Penilaian atau interpretasi pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala adalah: nilai GCS 13 sampai 15, dikatakan cedera kepala ringan ( Minor Head Injury ); nilaiGCS antara 9 sampai 12 dikatakan cedera kepala sedang ( Moderat Head Injury ), dan nilai GCS antara 3 sampai 8 dikatakan cedera kepala berat ( Severe Head Injury) atau koma. Untuk memudahkan secara singkat dapat dilihat pada tabel.











Tabel 1 . Glasgow Coma Scale ( GCS )

Parameter
Respons
Nilai
ResponMembuka Mata ( E ) Spontan
Terhadap suara/bicara
Terhadap nyeri
Tidak berespons 4
3
2
1
Respon verbal ( V ) Orientasi baik dan sesuai
Disorientasi waktu dan tempat
Bicara kacau
mengerang
Tidak ada suara 5
4
3
2
1
Respon Motorik ( M ) Mengikuti perintah
Melokalisir nyeri
Menghindar nyeri
Fleksi abnormal( dekortikasi )
Ekstensi abnormal ( deserebri )
Tidak ada gerakan 6
5
4
3
2
1


C. Pengetahuan, Sikap dan Praktek
1. Pengetahuan.
a. Pengertian Pengetahuan.
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari ” tahu “ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera pengihatan, pendengaran,penciuman, rasa dan raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan ataukognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( overt behavior ) ( Notoadmojdo, 2003 ).
Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia ,pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkaitan denganproses pembelajaran. Proses belajar ini dipengaruhi berbagai faktor dari dalam seperti motivasi dan faktor dari luar berupa sarana informasi yang tersedia serta keadaan sosial budaya.
b. Macam-macam/jenis pengetahuan
Pengetahuan yang mencakup domin kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a. Tahu ( know )

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini mengingat kembali ( recall ) terhadap suatu yangspesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu “ tahu “ merupakan peringkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami ( Komprehension )
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang telah diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi ( Application )
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi atau kondisi riil ( sebenarnya ). Aplikasi dapatdiartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam kontek atau situsasi yang lain.Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitisn,dapat menggunakan menggunakan prinsip siklus pemecahan masalah ( Problem Solving Cycle ).
d. Analisis ( Analysis )
Analalisi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan ( membuat bangun ), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis ( Synthesis )
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusu, merncanakan, meringkaskan menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumus-rumus yang telah ada.
f. Evaluasi ( Evaluation )
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atauk objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.Misalnyadapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kurang gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikit KB, dan sebagainya.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan degan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuanyang ingin diketahui atau diukur kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas.

2. Sikap
a. Pebgertian Sikap
Sikap ( attitude ) merupan respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsrikan terlebih dahulu dari sikap yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.
Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakn ksiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek atau lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
b. Tingkatan Sikap
Dalam bagian lain Allport ( 1954 ) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 ( tiga ) komponen pokok, yaitu:
- Kepercayaan ( keyakinan ), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
- Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek.
- Kecenderungan untuk bertindak ( trend to behave )
Ketiga komponen itu secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh ( total attitude ). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan,yaitu:
- Menerima ( receiving )
Menerima diartikan bahwa subjek ( orang ) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan ( objek ).
- Merespon ( responding )
Memberikan jawaban apabila ditanya, menjelaskan dan menyelesaikan tugas yang deberikan adalah suatu indikasi dari sikap.Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan,lepas dari pekerjaan benar atau salah, adalah bahwa orang menerima ide tersebaut.
- Menghargai ( valuing )
Mengajak orang lain atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap ketiga.
- Bertanggung jawab ( responsible )
Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan, bagaimana pendapat atau pertanyaan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan ipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.( Notoadmodjo, 2003,at.all ).

3. Praktek atau tindakan practice
a. Pengertian praktek.
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan ( overt behavior ). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkainkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping fasilitas juga diperlukan faktor pendukung ( support ) dari pihak lain ( Notoatmodjo, 2003 ).
b. Tingkatan Praktek
Sedangkan tingkat-tingkat praktek adalah:
- Persepsi ( Perception )
mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat perama . Misalnya seorang ibu dapat memilih makanan yang bergizi tinggi bagi anak balitanya.
- Respon Terpimpin ( Guided Respons ).
Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. Misalnya seorang ibu dapat memesak sayuran dengan benar mulai dari cara mencuci dan memotong-motongnya, lama memasak, menutup pancinya dan sebagainya.
- Mekanisme ( Mecanism ).
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. Misalnya seorang ibu yang sudah biasa mengimunisasikan bayi pada umu-umur tertentu, tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain.
- Adaptasi ( Adaptation ).
Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Misalnya, seorang ibu dapatmemilih dan memasak makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan-bahan yang murah dan sederhana.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu ( recall ). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.


















D. Kerangka Teori

























E. KERANGKA KONSEP









Keterangan:
Variabel Perancu tidak diteliti.

D. HIPOTESIS
1. Ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS.
2. Ada hubungan antara sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS.

F. VARIABEL PENELITIAN
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas ( independen dan variabel terikat ( dependen ) .
1. Variabel bebas ( independen )
Variabel bebas adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain ( Danim, 2003 ). Sedangkan variabel bebas dalampenelitian ini adalah pengetahuan dan sikap perawat tentang cara pemeriksaan Glasgow Coma Scale ( GCS ).
2. Variabel terikat ( dependen ).
Variabel terikat adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain ( Danim, 2003 ). Adapun variabel terikat adalah pengetahuan dan sikap perawat dalam praktek pemeriksaan Glasgow Coma Scale.

G. DEFINISI OPERASIONAL
1. Tingkat pengetahuan didefinisikan sebaga tingkat pemahaman perawat/respondenmengenai cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala. Tingkat pengetahuan diukur dari nilai yang diperoleh responden dalam menjawab sejumlah pertanyaan tertutup MCQ ) mengenai cara pemeriksaan dan kedan pasien cedera kepala yang diukur dengan kuesioner. Hasil pengukuran data besskala ordinal, yaitu:
a. Skor 0 – 6 tingkat pengetahuan rendah.
b. Skor 7 – 13 tingkat pengetahuan cukup.
c. Skor 14 – 20 tingkat pengetahuan tinggi.
Cara pengukuran skor untuk mengetakui tingkat pengetahuan dilakukan dengan melihat jumlah bitir pertanyaan. Pertanyaan pengetahuan terdiri dari 20 butir pertanyaan tertutup. Nilai 1 untuk jawaban benar, dan nilai 0 untuk jawaban salah. Interval skor diambil dari selisih nilai tertinggi ( 20 ) dikurangi nilai terendah ( 0 ), dibagi 3 katagori ( tinggi, cukup, rendah. Sehingga perolehan interval 6 atau 7 untuk setiap interval.

2. Sikap didefinisikan sebagai suatu reaksi atau respon dan perawat terhadap pertanyaan –pertanyaan yang berkaitan dengan cara pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala baik yang bersifat positif ( favoutable ), maupun yang bersifat negatif ( unfavoureble ), dinyatakan dalam skala Likert. Hasil pengukuran data skala nominal, yaitu:
a. Skor 45 – 75 tingkat sikap positif.
b. Skor 15 – 44 tingkat sukap negatif.
Cara pengukuran skor untuk sikap dilakukan dengan melihat jumlah butir pertanyaan. Sedangkan jumlah pertanyaan untuk sikap adalah 15 butir. Dengan pembagian nilai:
a. Untuk pertanyaan yang mengungkapkan sikap positif:
1). Sangat Setuju ( ST ) : skornya 5
2). Setuju ( S ) : skornya 4
3). Ragu- Ragu ( RR ) : skornya 3
4). Tidak Setuju ( TS ) : skornya 2
5). Sangat Tidak Setuju ( STS ) : skornya 1
b. Untuk pertanyaan yang mengungkapkan sikap negatif:
1). Sangat Setuju ( ST ) : skornya 1
2). Setuju ( S ) : skornya 2
3). Ragu – Ragu ( RR ) : skornya 3
4). Tidak Setuju ( TS ) : skornya 4
5). Sangat Tidak Setuju ( STS ) : skornya 5
Interval nilai sikap diperoleh dari selisih skor tertinggi ( 75 ) dengan nilai terendah ( 15 ) dibagi menjadi 2 kategori sikap ( sikap positif dan sikap negatif ). Jadi diperoleh interval untuk masing-masing katagori adalah 30.
3. Praktek pemeriksaan GCS adalah tindakan nyata / aktif perawat / responden dalam praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala, diukur dengan kuesioner . Hasil pengukuran data berskala nominal, yaitu:
a. Praktek positif, jika skornya 15 – 30
b. Praktek negatif, jika skornya 0 – 14
Cara pengukuran skor untuk praktek dilakukan dengan melihat jumlah butir pertanyaan. Sedangkan pertanyaan untuk praktek adalah 15 butir.
Untuk pertanyaan yang mengungkapkan praktek:
1). Selalu : nilai skornya 2
2). Kadang – Kadang : nilai skornya 1
3). Tidak Pernah : nilai skornya 0
Interval nilai praktek diperoleh dari selisih skor tertingg ( 30 ) dan skor terendah ( 0 ) dibagi menjadi 2 katagori ( praktek positif dan praktek negatif ). Sehingga diperoleh interval masing-masing katagori adalah 15.

Pustular Psoriasis

PUSTULAR PSORIASIS

Kasus Psoriasis Pustulur (PUHS-choo-ler) terutama banyak ditemui pada orang dewasa. Karakteristik dari penderita PUHS-choo-ler ini adalah timbulnya Pustules putih (blisters of noninfectious pus) yang dikelilingi oleh kulit merah. Pus ini meliputi kumpulan dari sel darah putih yang bukan merupakan suatu infeksi dan juga tidak menular.
Bentuk psioriasis yang pada umumnya tidak biasa ini mempengaruhi lebih sedikit dari 5 % dari seluruh penderita psoriasis. Psoriasis ini, bisa terkumpul dalam daerah tertentu pada tubuh, contohnya, pada tangan dan kaki. Psoriasis Pustular juga dapat ditemukan menutupi hampir seluruh tubuh, dengan kecenderungan membentuk suatu siklus - reddening (membuat kulit merah??) yang diikuti oleh pembentukan pustules dan scaling

Psoriasis Pustular dapat muncul secara tiba-tiba sebagai tanda awal dari psoriasis, atau psoriasis plak dapat berubah menjadi psoriasis pustular. Psoriasis Pustular dipicu oleh pengobatan secara internal, penggunaan obat oles yang membuat kulit menjadi iritasi, terlalu banyak terkena sinar UV, kehamilan, obat steroid yang diminum, diinjeksi, infeksi, stres emosi dan tidak mengikuti pengobatan yang teratur dan berhenti secara tiba-tiba atau obat oles yang keras.
Several different types of pustular psoriasis exist. Although the course of any type of pustular psoriasis can vary widely from person to person, helpful treatments are available.
Ada beberapa tipe psoriasis pustular yang berbeda. Walaupun jalur dari tipe psoriasis pustular dapat tersebar luas dari individu ke individu lainnya, perawatan yang bisa membantu telah tersedia.
Pengobatan secara injeksi diberitakan kemungkinan dapat menjadi pengobatan yang efktif untuk merawat penderita psoriasis pustular, setelah dipelajari dan diakui. Pengobatan secara injeksi telah dipelajari dan sukses untuk pengobatan psoriasis tipe plak yang kronis.
Types of pustular psoriasis
Von Zumbusch
Permulaan Pustular Psoriasis Von Zumbusch dapat terjadi secara tidak terduga. Penyebaran kulit yang menjadi merah menjadi semakin luas, dan kulit menjadi sangat sakit dan sensitif. Hanya dalam beberapa jam, muncul banyak pustules. Pustules ini kemudian menjadi kering dan mengelupas dengan sendirinya setelah 24 sampai dengan 48 jam, membuat kulit tampak glazed dan licin (smooth)
Pustular psoriasis Von Zumbusch dapat dipicu melalui infeksi, terhentinya mengkonsumsi topical atau systemic steroids secara tiba - tiba; kehamilan, dan obat-obatan seperti lithium, propranolol (inderal) dan obat - obatan untuk darah tinggi yang lainnya, iodides, dan indomethacon (indocin).
Seseorang dapat mempunyai sejarah plaque psoriasis dan berlanjut pada munculnya tahap berikut dari Von Zumbusch. Gejalanya adalah demam, menggigil, gatal yang sangat gatal, dehidrasi, denyut nadi yang cepat, cepat lelah, anemia, menurunnya berat badan dan muscle weakness. Tujuan akhir dari perawatan adalah untuk mengembalikan fungsi pelindung dari kulit, mencegah hilangnya cairan lebih lanjut, menstabilkan temperatur tubuh dan mengembalikan keseimbangan kimia kulit. Ketidak seimbangan kimia dapat menyebabkan tekanan yang berlebihan pada jantung dan ginjal, terutama pada orang-orang dewasa. Karena psoriasis ini dapat membahayakan keselamatan jiwa, perawatan harus dimulai secepatnya. Jika anda mengalami gejala pustular psoriasis von zumbusch, anda harus pergi ke dokter secepatnya. Jika anda tidak dapat menemui dokter anda, anda harus pergi ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan perawatan.
Seorang penderita pustular psoriasis von Zumbusch seringkali perlu dirawat dalam rumah sakit untuk rehydration dan perawatan secara topical dan systemic, yang pada umumnya termasuk pengobatan dengan antibiotik dan pengobatan systemic lainnya.
Soriatane (juga dikenal dengan nama umumnya acitretin), Neoral (juga dikenal sebagai cyclosporine) atau methotrexate sering ditulis dalam resep dokter. Beberapa dokter mungkin menuliskan resep untuk oral steroids bagi penderita yang tidak merespon perawatan lainnya atau menjadi lebih parah, tetapi penggunaan oral steroids masih menjadi kontroversi karena pustular psoriasi von zumbusch dapat dipicu oleh berhenti dikonsumsinya steroid. PUVA mungkin dapat digunakan ketika severe stage of pustulosis and redness sudah terlewati.
Anak - anak jarang ditemui menderita pustular psoriasi von zumbusch, walaupun ketika itu terjadi, kemungkinan peningkatannya mungkin lebih baik daripada orang dewasa. Penting sekali untuk membawa anak anda ke dokter secepat mungkin ketika mereka mengalami gejala pustular psoriasi von zumbusch karena kemungkinan terjadinya dehidrasi.
Palmo-plantar pustulosis
PPP adalah pustular psoriasis yang banyak ditemui mempengauhi orang - orang yang berumur antara 20 sampai dengan 60 tahun dan menyebabkan pustules pada telapak tangan dan telapak kaki. Biasanya tidak diketahui adanya faktor pemicu, seperti pada quttate psoriasi, infeksi atau stress mungkin muncul sebagai faktor pemicu. Psoriasis ini lebih banyak diderita perempuan daripada lelaki.
PPP mempunyai gejala dengan ada banyaknya pustules yang berukuran sebesar rautan pensil pada area tangan dan kaki yang berdaging, seperti ujung jari dan bagian samping tumit. Pustules ini muncul dalam studded pattern throughout reddened plaques of skin, lalu berubah menjadi cokelat, mengelupas dan menjadi tebal. Jalur dari PPP biasanya berulang, dengan kumpulan pustules baru diikuti masa sedikitnya perubahan.
Mereka yang terancam terkena PPP harus secara serius memikirkan untuk tidak merokok, seperti beberapa kasus yang menunjukkan bahwa pasien ini mungkin merespon secara abnormal pada nikotin yang dapat memicu gejala PPP.
Perawatan topical biasanya dituliskan resepnya terlebih dahulu, tetapi PPP sering terbukti susah dirawat. PUVA,UVB,soriatane, methotrexate atau Neoral mungkin dapat dipakai untuk menyembukan PPP. Kombinasi perawatan dengan phototherapy dan soriatane mungkin dapat efektif untuk PPP
Acropustulosis (acrodermatitis continua of Hallopeau)
Psoriasis yang langka ini mempunyai gejala skin lesions pada ujung jari dan kadang-kadang pada jari kaki. Pemunculan ini sering dimulai setelah luka pada kulit atai infeksi pada kulit. Seringkali, lesions ini menyakitkan dan disabling, membuat keabnormalan pada kuku. Seringkali struktur tulang mengalami perubahan pada beberapa kasus. Kasus ini sukar sekali dirawat. Topical preparations yang di occluded mungkin dapat menolong beberapa pasien. Obat melalui mulut sudah digunakan dengan kesuksesan dalam menghilangkan lesions dan mengembalikan kuku ke semula. Obat biological mungkin efektif dalam merawat jenis psoriasis ini. 
Combination treatments
Tidak biasa bagi dokter untuk mengkombinasikan perawatan untuk pustular psoriasi karena racun yang berpotensi pada systemic drugs dan phototherapy. Dokter biasanya mengulang perawatan dalam siklus untuk menjegah terpicunya suatu gejala.
Lebih dari satu penelitian yang menunjukan bahwa soriatane dan methotrexate yang dikombinasikan, akan menghasilkan rapid remission pada tingkat sensitif dari pustular psoriasis dan pembersihan kulit.

Photobucket