Selasa, 21 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Ringan

ASUHAN KEPERAWATAN CIDERA KEPALA RINGAN


A. LATAR BELAKANG
Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok umur produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Di samping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya ( Mansjoer, 2000 ). Salah satu tindakan pemeriksaan yang penting adalah melalui pemeriksaan tingkat kesadaran dengan skala koma glasgow ( Glasgow Coma Scale ).
Pemeriksaan tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale ( GCS ) merupakan cara praktis untuk dokter dan perawat, karena memiliki kriteria / patokan yang lebih jelas dan sistematis dibanding dengan sistem lama. GCS disamping untuk menetukan tingkat kesadaran, juga berguna untuk menentukan tingkat prognosis suatu penyakit ( Juwono, l996) dan memonitor terjadinya disfungsi neorologis ( Godner, 1995 ). Bahkan Priharjo ( 1996 ) mengatakan bahwa GCS dapat digunakan untuk menilai atau menguji kewaspadaan pasien khususnya pasien yang mengalami cedera berat atau pasien yang mengalami kemunduran kesadaran dengan cepat.
Selama ini staf / pelaksana keperawatan masih dilupakan dalam penilaian / pemeriksaan GCS, padahal kenyataannya tenaga dokter terbatas dan perawat lebih banyak berhubungan dengan pasien, juga perawat masih belum terbiasa melakukan pemeriksaan GCS padahal antara perawat dan dokter perspektifnya berbeda ( Haryono, 1997 ).
Dari hasil studi dokumentasi yang peneliti dapatkan dari bagian rekam medik BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan pasien yang rawat inap selama tahun 2004 sebanyak 10.689 orang, 641 atau 5,99 % masuk dengan gangguan penurunan kesadaran yang disebabkan oleh cidera kepala ringan sampai berat, juga disebabkan oleh cedera vaskuler otak, 30 % nya adalah pasien cidera kepala berat yang hampir 80 % meninggal dunia. Dari pasien yang meninggal catatan keperawatan / dokumentasi keperawatan tidak ada dokumentasi perkembangan tingkat kesadaran dengan menggunakan GCS ( Rina, komunikasi personal, 15 Oktober 2005 ).
Peneliti juga melakukan studi pendahuluan pengetahuan dan sikap perawat terhadap cara pemeriksaan Glasgow Coma Scale yang bekerja di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan di ruang IGD, ruang ICU dan ruang rawat inap medikel bedah dari hasil wawancara dan studi dokumentasi keperawatan antara lain perawat IGD dalam pengakjian pasien yang masuk oleh karena cidera kepala belum dilakukan pemeriksaan GCS, hal ini dilihat dari status pasien yang masuk dari IGD ke ruang ICU pada bulan Mei 2005 dari 2 pasen tidak ada catan pemeriksaan GCS , padahal 90 % lebih pendidikannya adalah D III keperawatan ( Subagio, komunikasi percsonal, 20 Oktober 2005 ).
Di ruang ICU juaga tidak semua perawat melakukan pemantauan tingkat kesadaran pasen dengan menggunakan GCS, padahal dalam blangko monitoring sudah termasuk GCS yang harus di monitor secara berkala.Di ruang rawat medikel bedah pun hampir 100 % perawat dalam pemantauan tikat kesadaran tidak menggunakan GCS ( Zurohrinizak, komunikasi personal, 21 Oktober 2005 ).
Dari hasil wawancara terhadap perawat diantara alasan mengapa tidak melakukan pemeriksaan GCS pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran adalah; tidak tahu cara pemeriksaan GCS, tidak terbiasa melakukan pemeriksaan GCS, menganggap pemeriksaan GCS adalah pekerjaan dokter, melakukan pemeriksaan GCS bila ada perintah dari dokter, pemeriksan GCS sulit, pemeriksaan GCS memerlukan waktu lama, yang intinya perawat belum terbiasa mengngunakan GCS sebagai alat pemeriksaan pasien dengan penurunan kesadaran khususnya dengan cedera kepala ( Titi, komunikasi personal, 20 Oktober 2005 ).
Penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap prilaku yang diimplementasikan dalam praktek keperawatan sangat penting sebagai perwujudan kompetensi perawat sebagai perawat profesional ( PPNI , 1999; 2004 ). Hal ini sebagai perwujudan bahwa perawat menjalankan praktek mandiri dan profesional.
Kenyataan di lapangan dari sumber daya keperawatan yang ada sebetulnya 95 % adalah perawat dengan pendidikan D III keperawatan yang secara teori sudah mendapat konsep / pengetahuan tentang cara pemeriksaan GCS, akan tetapi pengetahuan yang diperoleh belum tercermin dalam sikap dan praktek nyata sebagai perawat yang mandiri dan profesional.
Keadaan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya belum pernah diadakan pelatihan bagi perawat tentang cara pemeriksaan GCS, fasilitas, beban kerja, dan sikap individu perawat dalam praktek pemeriksaan GCS.
Dampak negatif dari pengetahuan, sikap dan praktek yang buruk / jelek akan merugikan image perawat dari masyarakat yang selama ini masih belum baik dan dapat mengurangi kepercayaan pasien terhadap perawat di instansi bekerja. Akan tetapi bila perawat mempunyai pengetahuan, sikap, dan praktek yang baik, profesionalisme dan tidak semata-mata hanya kebiasaan, maka kepercayaan pasien terhadap perawat khususnya dan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap instansi di mana perawat bekerja pada umumnya. Hal ini yang menjadikan peneliti melakukan penelitian sehubungan fenomena di atas.
Selama ini di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan belum pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan sikap perawat cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala. Oleh karena itu peneliti ingin mengidentifikasi bagaimana tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.

B. PERTANYAAN PENELITIAN
“ Adakah hugungan antara tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan ? “
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan perawat mengenai cara
pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
b. Mengidentifikasi sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.
c. Mengidentifikasi praktek perawat tentang pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala di BP RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.
d. Menganalisa hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cidera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten pekalongan.
e. Menganalisa hubungan antara sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala di BP RSUD KRATON Kabupaten Pekalongan.

D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1 Bagi Perawat
Memberikan masukan bagi para perawat agar dapat meningkatkan pengetahuan, sikap perawat yang baik cara pemeriksaan GCS dan praktek emeriksaan GCS pada pasien dengan cidera kepala pada khususnya dan dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan pada mumnya.
2. Bagi institusi
Menurunkan angka kematian pasien dengan cidera kepala atau kegagalan perawatan yang disebabkan oleh tidak termonitornya tingkat kesadaran pasien dengan cedera kepala.
3. Bagi peneliti
Menjadi dasar pengetahuan yang nantinya dapat diterapkan dalam praktek klinik serta menjalankan tugas dirumah sakit tempat peneliti bekerja.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Cedera Kepala
1. Pengertian
Cedera kepala adalah trauma yang mengenai kulit kepala, tengkorak, dan otak yang disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tembus ( Mansjoer, 2000; Brunner & Soddarth, 2002 )
Price ( l995 ) Cedera kepala adaalah trauma yang dapat mengakibatkan trauma langsung dan trauma tidak langsung pada otak.
Cedera kepala adalah komplikasi segera setelah trauma biomekanik pada otak, lapisan yang menutupinya atau organ-organ ekstra kranial penopang otak ( Sunaryo, 9189 ).
Cedera kepala paling sering dan penyakit neurologik yang serius di antara penyakit neurologik, dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil dari kecelakaan jalan raya ( Brunner & Suddarth, 2002 ).
Komplikasi paling penting pada cedera kepala adalah proses yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang lebih lanjut, dan ini merupakan proses dinamik. Agar proses dinamik ini tidak berjalanlebih lanjut di mana akan menyebabkan kerusakan neural lebih banyak maka perlu dilakukan pemantauan ketat pada pasien yang mengalami cedera kepala.
Sunaryo ( l989 ) menjelaskan yang perlu diperhatikan dalam pemantauan klinis pasien cedera kepala adalah GCS ( Glasgow Coma Scale ). Pemantauan GCS secara teratur, sangat penting karena bila pada follow-up terjadi penurunan GCS, diduga terjadi proses kerusakan lebih lanjut di dalam otak, dan ini harus dicegah sedini mungkin. Juga GCS dapat digunakan sebagai alat untum menentukan derajat keparahan cedera kepala secara dini ( Mansjoer, 2000 ).

2. Macam-macam / jenis Cedera Kepala
Macam-macam/jenis cedera kepala berdasarkan tingkat keparahannya adalah:
a. Cedera Kepala Ringan ( CKR)
Cedera kepala ringan (CKR) merupakan kelompok risiko rendah, yaitu ditandai dengan : skor GCS antara 13 sampai 15, ( atentif, sadar penuh, dan orientatif), tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi), tidak ada tanda intoksikasi alkohol atau obat terlarang, pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing, pasien dapat menderita : abrasi, laserasi, atau hematoma kulit kepala, tidak ada kriteria cedera kepala sedang-berat.
b. Cedera Kepala Sedang ( CKS )
Cedera Kepala sedang ( CKS ) Merupakan risiko sedang , yang ditandai dengan: skor GCS antara 9 sampai 12 (konfusi, letargi, atau stupor), konkusi, amnesia paska trauma, muntah, tanda kemungkinan fraktur kranium ( tanda Battle, mata rabun ,hemotimpanum, otorea, atau rinorea cairan serebrospinal ), kejang.
c. Cedera Kepala Berat ( CKB )
Cedera kepala berat ( CKB ) merupakan risiko berat, ditandai dengan: skor GCS antara 3 sampai 8 ( koma ), penurunan derajat kesadaran secara progresif, tanda neurologis fokal, cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium.

3. Penanganan Cedera kepala
Pedoman penanganan, resusitasi dan penilaian awal pada pasien cedera kepala adalah:
a. Menialai jalan napas ( Air Way Control ) dengan membersihkan jalan napas dari debris dan muntahan, lepaskan gigi palsu,pemasangan kolar sevikal, pasang oropangeal atau nasoparengeal, dan bila perlu lakukan intubasi.
b. Menilai pernapasan ( Breathing Support ) dengan cara menentukan pakah pasien napas denga spontan atau tidak, jika tidak lakukan oksigenasi. Jika napas spontan nilai dan atasi adanya cedera thorak berat seperti; pneumothorsks, pneumothorak tensif, dan hemopneumotoraks.
c. Menilai sirkulasi ( Circulation Support ) , otak yang rusak tidak mentoliler hopotensi , dengan cara hentikan perdarahan , perhatikan secara khusus adanya perdarahn dada atau abdomen , pasang jalur intravena untuk pemberian cairan pada vena besar, pantau tanda-tanda syok.
Sedangkan penanganan cedera kepala sesua derajat keparahan pasien cedera kepala adalah:
a. Cedera Kepala ringan.
Pasien dengan cedera kepala sedang pada umumnya dapat dipulangkan kerumah tanpa perlu pemeriksaan CT-Scan bila memenuhi kriteria sebagai berikut: hasil pemeriksaan neurologis (terutamastatus mini mental dan gaya berjalan ) dalam batas normal, foto sevikal tidak ada tanda patah tulang, ada orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasie selam 24 jam pertama, dengan intruksi segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala perburukan.

b. Cedera kepala sedang.
Pasien yang mengalami konkusi otak ( komosio otak), dengan GCS 15 dan hasil CT-Scan normal, tidak perlu dirawat. Pasien dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat keluhan nyeri kepala, mual, muntah, pusing, atau amnesia.

c. Cedera kepala berat.
Pasien denga cedera kepala berat, setelah penilaian awal dan stabilisasi tanda vital, keputusan segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah saraf ( hematoma intrakranial besar ).Jika ada indikasi segera laporkan atau konsultasikan ke bedah saraf untuk tindakan operasi..
B. Glasgow Coma Scale ( GCS )
1. Pengertian
Brunner & Suddarth ( 2002 ) CGS adalah skala untuk mengkaji tingkat kesadaran berdasarkan tiga kriteria; membuka mata, respon verbal, dan respons motorik terhadap perintah verbal atau stimulus nyeri.
GCS adalah skala untuk mengetahui perkembangan tingkat kesadaran dengan menilai respons dengan stimulus verbal dan nyeri pada membukan mata, respons verbal, dan respon motorik ( Lumbantobing, 2000 ).
Price ( l995 ), GCS adalah skala yang lebih paling luas dipakai dalam penilaia kesadaran penderita dan reaksinya terhadap rangsang.
GCS adalah pengkajian yang sangat bernilai untuk memonitor disfungsi neurologi yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran dan kewaspadaan pasien,khususnya pada pasien yang mengalami cidera berat atau pasien yang diperkirakan akan mengalami kemunduran kesadaran dengan cepat ( Priharjo,1996 ; Goddner,l995 ).
2. Cara Pemeriksaan GCS
Teasdale dan Jennet , (1974) , pertama kali memperkenalkan cara pemeriksaan tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma Scale ( GCS ) pada pasien trauma kepala atau penderita penunan kesadaran yang disesbabkan oleh nontraumatik ( Bates ,1977 ).
GCS memberikan tiga bidang fungsi neurologik,memberikan gambaran tingkat responsif pasien dan dapat digunakan dalam pencarian yang luas pada saat mengevaluasi status neurologik pada pasien yang mengalami cidera kepala, yaitu dengan mengevaluasi tiga elemen ; respon membuka mata,espon verbal dan respon motorik.( Brunner dan Suddarth, 2002 )
Parameter/indikasi yang dinilai pada pemeriksaan Glasgow Coma Scale dari respon membuka mata, respon verbal dan respon motorik dibagi menjadi tingkat/nilai yang berbeda dan respon yang baik yang ditunjukkan pasien terhadap stimulis/rangsangan yang ditentukan sebelumnya. Masing-masing respon diberikan angka/nilai ( Goodner, 1995;Priharjo, 1996; Brunner dan Suddarth, 2002).
Sedangkan cara memeriksa dan menghitang GCS adalag sebaga berikut:
a. Membeka Mata ( E )
- Seseorang dengan trauma kepala dapat membuka mata spontan diberi nilai 4;
- penderiata menutup mata tetapi dapat diperintah secara verbal untuk membuka matanya diberi nilai 3;
- Penderita secara verbal disuruh membuka mata tidak bisa, tetapi dengan rangsang nyeri/sakit yyaitu menekan nervus supra optikus dan ujung kuku jari tangan , penderita masih bisa membuka mata diberi nilai 2;
- Bila dengan rangsang nyeri/sakit penderita tidak bisa membuka matang diberi nilai 1.
b. Respons Verbal ( V ).
- Bila penderita titanya sesuatu mengenai waktu dan tempat dapat memberikan jawaban benar, nilainya 5;
- Penderita ditanya tentang tempat tetapi tidak bisa menjawab dengan benar, misalnya di mana dia berada, atau ditanya waktu tidak menjawab sebenarnya, misalnya ditanta saat ini siang atau malam, ia menjawab siang padah malam atau sebaliknya ( disorintasi waktu dan tempay, nilainya 4;
- Penderita ditanya sesuatu, misalnya ditanya dimana dia berada, ia menjawab akan makan atau mengomel ( inapropriate answer ), nilainya 3;
- Penderita ditanya secara vebal tidak memberikan jawaban dan diberi kan rangsangan nyeri/sakit ia hanya mengerang, nilainya 2;
- Bila dengan rangsang nyeri/sakitpun tidak memberikan jawaban, nilainya l.
c. Respon Motorik ( M ).
- Bila penderita mengikuti perintah secara verbal sesuai yang diperintahkan oleh pemeriksa, misalnya penderita disuruh mengangkat tangan kanannya, menggerakkan jari telunjuk kirinya, dapat menjalankan perintah secara benar, nilainya 6;
- Dengan perintah secara oral penerita tidak dapat melaksanakannya, dengan rangsang sakit pada supra orbita paenderita berusaha menghindari penyebab sakit/nyeri dengan mengangkat tangannya melebihi bahu kearah rangsang nyeri, nilainya 5
- Dengan rangsang nyeri, misalnya dengan menekan pangkal kuku, penderita hanya menarik tangan tetapi tidak berusaha menghindar penyebab sakit dengan tangannya yang lain, nilainya 4;
- Dengan rangsang nyeri timbul gejala dekortikasi, nilainya 3;
- Dengan rangsang nyeri timbul gejala deserebrasi, nilainya 2;
- Dengan rangsang nyeri tidak timbul reaksi apapun, nilainya 1.
Penilaian atau interpretasi pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala adalah: nilai GCS 13 sampai 15, dikatakan cedera kepala ringan ( Minor Head Injury ); nilaiGCS antara 9 sampai 12 dikatakan cedera kepala sedang ( Moderat Head Injury ), dan nilai GCS antara 3 sampai 8 dikatakan cedera kepala berat ( Severe Head Injury) atau koma. Untuk memudahkan secara singkat dapat dilihat pada tabel.











Tabel 1 . Glasgow Coma Scale ( GCS )

Parameter
Respons
Nilai
ResponMembuka Mata ( E ) Spontan
Terhadap suara/bicara
Terhadap nyeri
Tidak berespons 4
3
2
1
Respon verbal ( V ) Orientasi baik dan sesuai
Disorientasi waktu dan tempat
Bicara kacau
mengerang
Tidak ada suara 5
4
3
2
1
Respon Motorik ( M ) Mengikuti perintah
Melokalisir nyeri
Menghindar nyeri
Fleksi abnormal( dekortikasi )
Ekstensi abnormal ( deserebri )
Tidak ada gerakan 6
5
4
3
2
1


C. Pengetahuan, Sikap dan Praktek
1. Pengetahuan.
a. Pengertian Pengetahuan.
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari ” tahu “ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera pengihatan, pendengaran,penciuman, rasa dan raba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan ataukognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang ( overt behavior ) ( Notoadmojdo, 2003 ).
Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia ,pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkaitan denganproses pembelajaran. Proses belajar ini dipengaruhi berbagai faktor dari dalam seperti motivasi dan faktor dari luar berupa sarana informasi yang tersedia serta keadaan sosial budaya.
b. Macam-macam/jenis pengetahuan
Pengetahuan yang mencakup domin kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a. Tahu ( know )

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini mengingat kembali ( recall ) terhadap suatu yangspesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu “ tahu “ merupakan peringkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami ( Komprehension )
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang telah diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi ( Application )
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi atau kondisi riil ( sebenarnya ). Aplikasi dapatdiartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam kontek atau situsasi yang lain.Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitisn,dapat menggunakan menggunakan prinsip siklus pemecahan masalah ( Problem Solving Cycle ).
d. Analisis ( Analysis )
Analalisi adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan ( membuat bangun ), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis ( Synthesis )
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusu, merncanakan, meringkaskan menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumus-rumus yang telah ada.
f. Evaluasi ( Evaluation )
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atauk objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.Misalnyadapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kurang gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikit KB, dan sebagainya.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan degan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuanyang ingin diketahui atau diukur kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas.

2. Sikap
a. Pebgertian Sikap
Sikap ( attitude ) merupan respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsrikan terlebih dahulu dari sikap yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.
Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakn ksiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek atau lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
b. Tingkatan Sikap
Dalam bagian lain Allport ( 1954 ) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 ( tiga ) komponen pokok, yaitu:
- Kepercayaan ( keyakinan ), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
- Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek.
- Kecenderungan untuk bertindak ( trend to behave )
Ketiga komponen itu secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh ( total attitude ). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan,yaitu:
- Menerima ( receiving )
Menerima diartikan bahwa subjek ( orang ) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan ( objek ).
- Merespon ( responding )
Memberikan jawaban apabila ditanya, menjelaskan dan menyelesaikan tugas yang deberikan adalah suatu indikasi dari sikap.Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan,lepas dari pekerjaan benar atau salah, adalah bahwa orang menerima ide tersebaut.
- Menghargai ( valuing )
Mengajak orang lain atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap ketiga.
- Bertanggung jawab ( responsible )
Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah dipilih dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan, bagaimana pendapat atau pertanyaan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan ipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.( Notoadmodjo, 2003,at.all ).

3. Praktek atau tindakan practice
a. Pengertian praktek.
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan ( overt behavior ). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkainkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping fasilitas juga diperlukan faktor pendukung ( support ) dari pihak lain ( Notoatmodjo, 2003 ).
b. Tingkatan Praktek
Sedangkan tingkat-tingkat praktek adalah:
- Persepsi ( Perception )
mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat perama . Misalnya seorang ibu dapat memilih makanan yang bergizi tinggi bagi anak balitanya.
- Respon Terpimpin ( Guided Respons ).
Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. Misalnya seorang ibu dapat memesak sayuran dengan benar mulai dari cara mencuci dan memotong-motongnya, lama memasak, menutup pancinya dan sebagainya.
- Mekanisme ( Mecanism ).
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. Misalnya seorang ibu yang sudah biasa mengimunisasikan bayi pada umu-umur tertentu, tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain.
- Adaptasi ( Adaptation ).
Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Misalnya, seorang ibu dapatmemilih dan memasak makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan-bahan yang murah dan sederhana.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu ( recall ). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.


















D. Kerangka Teori

























E. KERANGKA KONSEP









Keterangan:
Variabel Perancu tidak diteliti.

D. HIPOTESIS
1. Ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS.
2. Ada hubungan antara sikap perawat tentang cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS.

F. VARIABEL PENELITIAN
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas ( independen dan variabel terikat ( dependen ) .
1. Variabel bebas ( independen )
Variabel bebas adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain ( Danim, 2003 ). Sedangkan variabel bebas dalampenelitian ini adalah pengetahuan dan sikap perawat tentang cara pemeriksaan Glasgow Coma Scale ( GCS ).
2. Variabel terikat ( dependen ).
Variabel terikat adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain ( Danim, 2003 ). Adapun variabel terikat adalah pengetahuan dan sikap perawat dalam praktek pemeriksaan Glasgow Coma Scale.

G. DEFINISI OPERASIONAL
1. Tingkat pengetahuan didefinisikan sebaga tingkat pemahaman perawat/respondenmengenai cara pemeriksaan GCS dengan praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala. Tingkat pengetahuan diukur dari nilai yang diperoleh responden dalam menjawab sejumlah pertanyaan tertutup MCQ ) mengenai cara pemeriksaan dan kedan pasien cedera kepala yang diukur dengan kuesioner. Hasil pengukuran data besskala ordinal, yaitu:
a. Skor 0 – 6 tingkat pengetahuan rendah.
b. Skor 7 – 13 tingkat pengetahuan cukup.
c. Skor 14 – 20 tingkat pengetahuan tinggi.
Cara pengukuran skor untuk mengetakui tingkat pengetahuan dilakukan dengan melihat jumlah bitir pertanyaan. Pertanyaan pengetahuan terdiri dari 20 butir pertanyaan tertutup. Nilai 1 untuk jawaban benar, dan nilai 0 untuk jawaban salah. Interval skor diambil dari selisih nilai tertinggi ( 20 ) dikurangi nilai terendah ( 0 ), dibagi 3 katagori ( tinggi, cukup, rendah. Sehingga perolehan interval 6 atau 7 untuk setiap interval.

2. Sikap didefinisikan sebagai suatu reaksi atau respon dan perawat terhadap pertanyaan –pertanyaan yang berkaitan dengan cara pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala baik yang bersifat positif ( favoutable ), maupun yang bersifat negatif ( unfavoureble ), dinyatakan dalam skala Likert. Hasil pengukuran data skala nominal, yaitu:
a. Skor 45 – 75 tingkat sikap positif.
b. Skor 15 – 44 tingkat sukap negatif.
Cara pengukuran skor untuk sikap dilakukan dengan melihat jumlah butir pertanyaan. Sedangkan jumlah pertanyaan untuk sikap adalah 15 butir. Dengan pembagian nilai:
a. Untuk pertanyaan yang mengungkapkan sikap positif:
1). Sangat Setuju ( ST ) : skornya 5
2). Setuju ( S ) : skornya 4
3). Ragu- Ragu ( RR ) : skornya 3
4). Tidak Setuju ( TS ) : skornya 2
5). Sangat Tidak Setuju ( STS ) : skornya 1
b. Untuk pertanyaan yang mengungkapkan sikap negatif:
1). Sangat Setuju ( ST ) : skornya 1
2). Setuju ( S ) : skornya 2
3). Ragu – Ragu ( RR ) : skornya 3
4). Tidak Setuju ( TS ) : skornya 4
5). Sangat Tidak Setuju ( STS ) : skornya 5
Interval nilai sikap diperoleh dari selisih skor tertinggi ( 75 ) dengan nilai terendah ( 15 ) dibagi menjadi 2 kategori sikap ( sikap positif dan sikap negatif ). Jadi diperoleh interval untuk masing-masing katagori adalah 30.
3. Praktek pemeriksaan GCS adalah tindakan nyata / aktif perawat / responden dalam praktek pemeriksaan GCS pada pasien cedera kepala, diukur dengan kuesioner . Hasil pengukuran data berskala nominal, yaitu:
a. Praktek positif, jika skornya 15 – 30
b. Praktek negatif, jika skornya 0 – 14
Cara pengukuran skor untuk praktek dilakukan dengan melihat jumlah butir pertanyaan. Sedangkan pertanyaan untuk praktek adalah 15 butir.
Untuk pertanyaan yang mengungkapkan praktek:
1). Selalu : nilai skornya 2
2). Kadang – Kadang : nilai skornya 1
3). Tidak Pernah : nilai skornya 0
Interval nilai praktek diperoleh dari selisih skor tertingg ( 30 ) dan skor terendah ( 0 ) dibagi menjadi 2 katagori ( praktek positif dan praktek negatif ). Sehingga diperoleh interval masing-masing katagori adalah 15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Photobucket